Ngangkot keliling kota Ende (Ende in 4 hours)

Siang menjelang sore setelah beristirahat sekembalinya dari kelimutu, saya yang hanya memiliki hari libur hari itu saja, langsung merasakan gatelnya kaki pengen jalan-jalan mengelilingi kota Ende. Kebetulan hotel saya pas berada di sebuah jalan yang ramai dan angkotnya selalu lewat beberapa menit sekali. Angkot atau yang disebut dengan taksi ini bisa membawa penumpangnya kemanapun ke seluruh penjuru kota Ende dengan tarif yang sama yaitu Rp 3000. Jadi di kota Ende angkotnya tidak bertrayek atau berjalur melainkan seperti taksi saja, bisa mengantar kemanapun. Angkot-angkot di kota Ende juga full dengan musik, dari house music sampai reggae.
pantai ria ende

pantai ria ende

Tujuan pertama saya adalah pantai ria Ende. Pantai ini merupakan pantai yang terletak pas di selatan kota Ende. Namanya juga pantai di kota, jadi banyak penjual makanan yang ada di pinggirnya. Pantai berpasir abu-abu ini lebih sebagai tempat nongkrong keluarga atau para remaja terutama ketika menjelang sore hari. Dari pantai ini terlihat pula pemandangan pelabuhan Ende dan pulau Ende di seberang lautan. Tujuan saya ke pantai ini sih sebenarnya bukan menikmati pantai, tapi lebih ke cari makan. Sayangnya di pantai ini tidak ada makanan khas daerah yang dijual dan bisa saya cicipi. Akhirnya yang saya makan di sana adalah makanan khas bandung yaitu siomay :).

Setelah kenyang, saya kemudian berjalan kaki menuju ke taman kota Ende. Di tempat ini kebetulan ada dua museum yang bisa dikunjungi yaitu museum bahari dan museum kain tenun. Sayang waktu itu penjaga museum kain tenunnya sedang tidak di tempat, jadi kami hanya mengelilingi bangunan museum kain tenun yang merupakan rumah adat flores. Rumah adat ini dibangun seperti aslinya, yang terdiri dari rumah utama, rumah yang berfungsi sebagai balai-balai dan 2 bangunan kecil untuk menyimpan hasil pertanian. Rumah adat ini berbentuk panggung, beratap sirap dan berdinding kayu dengan ukiran khas flores.

Museum kain tenun Ende

Museum kain tenun Ende

Di museum bahari yang mungil, kami berjalan berkeliling melihat koleksi kerangka-kerangka ikan dan hewan-hewan laut yang diawetkan. Kerangka ikan terbesar yang merupakan koleksi utama museum ini adalah kerangka ikan duyung yang panjangnya mencapai 3 meter. Selain itu di museum ini juga terdapat kulit-kulit tiram dan kerang raksasa yang belum pernah saya temui sebelumnya. Tidak terbayang daging kerangnya sebesar apa ya dahulu.
kerangka ikan duyung di museum bahari Ende

kerangka ikan duyung di museum bahari Ende

Dari museum bahari, kami naik taksi angkot ke salah satu tempat yang sering tercantum di buku-buku sejarah yaitu rumah pengasingan Bung Karno. Rumah bergaya kolonial namun sederhana ini terletak di tengah pemukiman kota Ende. Hmm sepertinya dahulu Bung Karno ga kesepian-kesepian amat deh walaupun diasingkan, tetangganya kan banyak :). Waktu kami sampai di sana, rumah ini tertutup rapat dan tidak ada seorangpun di sana. Mungkin kalau kami datang tidak kesorean, kami bisa melihat isi rumah tersebut.
rumah pengasingan Bung Karno di Ende

rumah pengasingan Bung Karno di Ende

Tujuan terakhir kami sore itu adalah naik taksi angkot ke pasar Ende. Tujuannya adalah berburu kain tenun khas flores. Berbeda dengan kain yang saya beli di pasar Waingapu, saya berniat untuk membeli kain syal untuk teman-teman saya. Kain tenun berbentuk syal yang sejatinya dipakai untuk ikat kepala para pria di flores ini, terdiri dari dua jenis yaitu yang pewarnaannya sintetis dan alami. Yang pewarnanya alami harganya jauh lebih murah daripada yang sintetis. Berbeda sekali dengan di Jogja, kalau kain batik pewarnanya alami harganya jauh lebih mahal. Karena saya lebih suka yang klasik dan murah tentunya, saya membeli beberapa helai syal pewarna alam. Satu syal pewarna alam dihargai Rp 30.000 rupiah saja.
aneka warna kain tenun Flores di pasar Ende

aneka warna kain tenun Flores di pasar Ende

Sebenarnya masih ada beberapa tempat menarik untuk dikunjungi di kota bersejarah ini, tetapi karena hari sudah menjelang malam dan esok harinya kami sudah harus meninggalkan Ende, maka dengan berat hati kami kembali ke hotel untuk packing. Yang jelas kalau mau keliling kota ini, transport bukanlah menjadi masalah, ada taksi angkot full musik yang siap mengantarkan kemana-mana.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s