hujan abu di merbabu

sumbing, sindoro, prau

sumbing, sindoro dan prau dari basecamp wekas di pagi hari

“Gung ayo ikut mendaki merbabu” sms saya kepada teman saya agung. Si agung menjawab “Wah ga berani merapi kan lagi status siaga, tar kalau meletus gimana?”. Agung adalah kesekian teman yang saya hubungi untuk bergabung dalam pendakian ke merbabu. Kebanyakan dari mereka menolak dengan alasan merapi, gunung tetangga merbabu sedang dalam status siaga. Padahal dalam pikiran saya waktu itu merapi dan merbabu kan ga deket-deket amat, dan saya

belum pernah mendengar berita tentang pengaruh letusan gunung merapi terhadap gunung merbabu (weeks teori apa ini?)😀.

merbabu team

kami di merbabu

Adalah saya, mbak yayuk, koko, nyenyeng, tatang, angga dan taufik yang akhirnya berkomplot untuk mendaki merbabu. Berkumpul dan berangkat dari rumah saya waktu itu sehabis maghrib. Ketua geng dan penunjuk jalan pendakian ini adalah tatang, karena dia sudah pernah beberapa kali mendaki merbabu melewati jalur yang berbeda-beda. Waktu itu “i have no idea” si tatang akan membawa kami lewat jalur yang mana (yang jelas bukan lewat jalur selo karena teralu dekat dengan merapi). Setalah beberapa jam berangin-angin di atas motor akhirnya kami sampai di sebuah rumah untuk menitipkan motor kami. Nah dari sanalah kami mulai berjalan kaki sekitar dua jam menuju base camp pendakian. Sebenarnya basecamp tersebut dapat ditempuh dengan kendaraan dengan syarat anda rela membiarkan kendaraan anda rusak berat dan harus distel roda sesampainya di kota😀.

ngandong, telomoyo, ungaran

gunung ngandong, telomoyo dan ungaran dari basecamp wekas

Jalur Wekas adalah nama jalur pendakian kami. Ternyata perjalanan 2 jam ke basecamp saja sudah membuat saya gontai karena jalannya sudah menanjak tajam dan medanya berbatu-batu (hihi kebanyakan protes). Kami berjalan kaki di tengah hutan pinus yang begitu gulita, dan baru menemukan kampung sekitar 1,5 jam lebih. Setelah setangah jam berjalan di tengah kampung akhirnya sampailah kami di basecamp. Tatang mulai mengetuk pintu rumah penduduk yang dijadikan basecamp itu namun tidak ada jawaban. Kampung itu begitu sepi dan hanya cahaya remang-remang lampu-lampu berwana kuning yang menemani (ca’ilaaah). Karena tak ada jawaban dari yang empunya rumah maka kami mencari tempat lain untuk tidur malam itu. Sasaran kami malam itu adalah masjid kampung. Untung saja ada masjid! Kami menggelar matras di selasar masjid dan bersiap untuk tidur.

Saya merasa ada yang aneh dengan malam itu, saya betul-betul menggigil kedinginan. Yang aneh adalah cuma saya seorang yang tidur tidak menggunakan sleeping bag, karena teman saya si koko yang tadinya mau saya pinjam sleeping bagnya malah ikut pendakian juga. Saya hanya bawa wearpack, itu juga pinjeman. Hwaaaaaaa dingiiiiiin banget!! saya susah tidur!!. Untung saya tidak mati beku dan masih hidup keeseokan paginya. Dan rasanya kedinginan saya semalaman itu terbayar dengan pemandangan indah gunung sumbing dan sindoro di sebelah barat, ngandong, telomoyo dan ungaran di sebelah barat laut dari dusun itu. Fantastik!! Subuh dan pagi yang begitu indah🙂.

Kami mulai mendaki jam 9 pagi, setelah sarapan pagi yang begitu sedeep dari kebun sendiri dan dimasak oleh si ibu yang punya basecamp. Mendaki saat matahari bersinar memang terasa lebih berat daripada mendaki di malam hari. Keringat lebih banyak keluar dan boros air minum. Tatang teman saya membawa beban air yang paling berat, 5 liter! Saya tak dapat membayangkan betapa payahnya saya jika harus membawa air sebanyak itu. Beban air saya waktu itu dua botol air mineral masing-masing 1,5 liter. Ini saja sudah beraat bangeet dan rasanya pengen minum terus (protes lagi..hehe).

“Koko hilang!!!”. Peristiwa ini terjadi gara-gara kami salah jalan alias nyasar ke arah gunung kemukus setelah bertemu pos 1. Untung saja kami bertemu bapak-bapak pencari rumput yang memberi tahu kami “jalan kebenaran”. Nah disaat pencarian jalan kebenaran inilah speed kami berbeda-beda. Si koko berjalan terlalu cepat meninggalkan kami dan akhirnya kami clueless tentang keberadaannya. Akhinya dengan keyakinan bahwa si koko tidak akan hilang kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos selanjutnya. Lama kami berjalan ga jelas arah kami melihat beberapa pendaki melintasi jalan di atas bukit kecil di depan kami. Oooh itulah jalan kebenaran! Senang sekali rasanya bertemu manusia lain. Tapi sebelum back on the right track, ternyata tidak ada jalan menuju ke trek itu, kami harus melakukan grass climbing dengan kemiringan 75 derajat setinggi kira-kira 5 meter. Maafkan kami rumput-rumput, kami harus menjambak kalian untuk sampai ke atas😦. Jasamu begitu besar bagi kami rumput-rumput🙂.

air terjun merbabu

air terjun di atas awan merbabu

Sudah di jalan yang benar, tetapi jalan sangat ngetrek dan menanjak. Kami mendaki pelan-pelan saja. Di sebelah kanan kami jauh di seberang tebing terlihat sebuah air terjun. Keren sekali ada air terjun dengan di ketinggian hampir 2000 meter dan dikelilingi awan-awan putih seperti di dunia antah berantah (hehe emangnya iya??). Tak lama mendaki kami sampai di satu tempat yang luas penuh dengan bunga rumput🙂, dan ternyata di balik tempat itu terdapat pos 2.

Teman kami si koko telah ditemukan! Ternyata yang menemukan jalan yang benar adalah dia, bukan kami. Dia telah sampai di pos 2 sekitar 2 jam yang lalu, dan dia leyeh-leyeh di tenda pendaki yang lain dengan sok akrabnya (hehehe). Kami mulai membangun tenda kami di antara tingginya rerumputan supaya tidak terlalu terkena angin. Pos 2 merbabu dari jalur wekas adalah tempat lapang yang sangat luas untuk mendirikan tenda berkemah dengan pemandangan tanpa batas untuk melihat ke arah barat dimana gunung sumbing dan sindoro begitu jelas terlihat. Tempat ini sangat recomended untuk melihat sunset (sumpeeee sunsetnyaa cwantiik ajiib!!). Di sana juga terdapat banyak air, rerantingan pohon untuk kayu bakar bahkan ada ibu-ibu yang membuka warung di pagi hari😀.

pos 2 merbabu wekas

senja hari di pos 2 merbabu jalur wekas

Setelah istirahat semalaman di pos 2, berlanjutlah pendakian ke puncak. Hanya angga dan taufik yang tinggal untuk menjaga tenda (lagian mereka sudah pernah muncak jadi mungkin tidak begitu excited lagi hehe). Start jam 7 pagi yang dingiiin dan menggigil, kami mulai melangkah pelan-pelan ke arah pos 3. Dari pos 2 sebenarnya pos 3 sudah terlihat berupa antena tinggi menjulang jauh di atas sana. Fyuuuh melihatnya saja saya sudah tau kalau itu jauuuh, tapi saya coba deh kalau tidak kuat tinggal turun ke bawah kan? (hehehe..). Ternyata memang saya benar-benar tidak kuat lagi, nafas saya terengah-engah dan perut saya krucuk-krucuk, tanda sarapan saya kurang banyak. Saya mencoba makan roti yang saya bawa, tetapi rasanya kok ga kenyang-kenyang. Yayuk, koko dan nyenyeng sudah lanjut terus menuju puncak “kenteng songo”, sedangkan saya ditemani tatang masih menunggu di pos 3 (hwee sampai juga di pos 3 yaaa). Dari pos 3 saya pikir puncaknya sudah kelihatan, ternyata saya salah. Pendakian merbabu dari jalur wekas atau kopeng memang sedikit menyesatkan, karena kita pasti selalu terkecoh dengan letak puncak, istilahnya dibalik puncak masih ada puncak (hhuhuhuhu).

“Kalau tidak kuat kita ke puncak syarif saja, puncak merbabu yag satunya lagi” kata si tatang. Kami mendaki melewati jembatan setan sampai di sebuah prasasti bertuliskan nama pendaki yang meninggal di sana. Di prasasti itu juga tertulis nama tempat (puncak something..) dan ketinggianya yang mencapai 2900 sekian (saya lupaa…). Dan prasati itu merupakan rekor teratas pendakian merbabu saya, karena saya sangat capek dan lapar sekali. Si tatang dengan baiknya menemani saya turun lagi. Saya turun dengan cepat sambil membayangkan makanan (hehehe). Saya takut orientasi saya berubah dan saya akan memakan tumbuh-tumbuhan di sekitar saya atau malah memakan teman saya yang dagingnya banyak itu (hihihihi).

Sampai di pos 2 lagi, ternyata warung si ibu sudah buka. Langsung saja saya pesan nasi lengkap dengan sayur brokoli yang merupakan penyelamat hidup saya. Saya makan dengan lahapnya😀. Setelah kenyang, kami membongkar tenda sambil menunggu yayuk, koko dan nyenyeng turun gunung. Tiba-tiba ada titik-titik putih ringan turun dari langit. Wah apa ini?? saya pikir itu salju, tapi kok salju siang-siang panas gini?. Makin lama makin banyak dan mengotori barang-barang kami. “Wah ini sih hujan abu!” kata si tatang. Duh jangan-jangan merapi meletus dan abunya sampai sini nih, pikir saya waktu itu. Yayuk, koko dan nyenyeng akhirnya datang juga, mereka bilang merapi meletus waktu muncak! Weew keren sekali mereka bisa melihat letusan merapi dari puncak merbabu. Untung saja mereka sempat mengambil gambarnya sehingga saya bisa melihat. Hujan abu memburuk, kami cepat-cepat turun agar terhindar dari sesak nafas. Saya takut sekali waktu itu siapa tahu yang dikuatirkan teman-teman yang menolak saya ajak mendaki merbabu karena status merapi benar! Untung saja kami sampai bawah dengan selamat!! Alhamdullilah…

erupsi merapi

erupsi merapi yang terlihat dari puncak kentheng songo merbabu

Secuil Info Pendakian Merbabu dari Wekas

  • Jalur pendakian ini terletak di jalan magelang-kopeng, jika anda membawa motor atau mobil biasa (bukan mobil bersetting adventure) lebih baik dititipkan di rumah penduduk yang bearada pas di samping jalan masuk menuju jalur wekas. Jalan dari tempat penitipan motor ke dusun wekas makadam alias berbatu-batu yang bisa merusak motor. Jarak tempuh jika jalan kaki adalah sekitar 2 jam (4-5) km.
  • Pendakian dari jalur ini (jika anda ingin muncak) idealnya dilakukan selama 3 hari 2 malam, karena jalurnya sangat panjang. Jangan memaksakan diri mendaki sehari semalam melewati jalur ini kecuali anda adalah manusia super😀
  • Basecamp desa pendakian wekas merupakan tempat yang recomended untuk sekedar menginap atau menikmati pemandangan alam, jika anda tidak suka mendaki gunung. Biasanya anda hanya membayar Rp 10.000/per malam per orang dan makan Rp 7000 (gratis teh hangat).
  • Kemping di pos 2 dari jalur wekas juga merupakan tempat yang recomended. Medan pendakian dari basecamp ke pos 2 tidak begitu berat dengan pemandangan rawa pening (jika anda tidak tersasar seperti saya😛 )
  • Jangan terkecoh dengan letak puncak, karena di balik puncak masih ada puncak (hohohoho).

Peta Merbabu :

8 Komentar

Filed under Berkelana di Gunung

8 responses to “hujan abu di merbabu

  1. aku benci daki-dakiiiii!
    mending di pantaaayyy bisa santaaayyy~!!!!!

  2. pemirsa,
    saya membenci kegiatan pendakian yang menghasilkan keringat dua ember.
    lebih baik di pantay bisa santay

    • kepada yang berinisial M dan mengaku sebagai gadis pantai, mendaki itu bisa menguruskan badan lho, bagaimana kalau kapan-kapan kita mendaki gunung yang di atasnya ada pantainya? hohohhoho

  3. ka ajakin saya dong. temen-temen saya pada susah kalau diajak travelling😦

    • @ romadhoni : saya kalau naik gunung udah ga kuat lagi, udah manulo, kalo jalan-jalan masih😀 ikut komunitas aja biar punya banyak kenalan traveler dan bisa jalan bareng. Ada indobackpacker atau couchsurfing.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s