Trip to Petang part 1 : Sangeh monkey forest

patung kumbakarna sangeh

takut foto sama monyet, foto sama patung saja😀

Destinasi : Sangeh Monkey Forest, Jembatan Tukad Bangkung, Pura Pucak Mangu dan Air Terjun Nungnung

Pada suatu siang sita (roomate saya) pulang membawa koran Bali Pos ke kos kami tercinta. Di dalam koran tersebut tertulis sebuah artikel tentang sebuah jembatan yang konon katanya jembatan itu adalah jembatan tertinggi di Asia Tenggara. Waktu itu jembatan itu baru saja diresmikan oleh Bapak presiden RI, dan banyak dikujungi masyarakat sekedar untuk berwisata. Hmmm baca berita seperti itu jelas membuat saya penasaran pengen ke sana mumpung masih hidup di Bali😀.

Akhirnya di suatu minggu pagi yang cerah, saya mengajak sita dan mega, dua partner in crime saya selama di Bali untuk pergi ke sana. Hehe saya lupa waktu itu mengajak apa memaksa yaa?? yang jelas kalaupun memaksa mereka pasti bahagia karena dipaksa saya😀. Teman saya sita teman asli surabaya, sedangkan mega adalah gadis asli Bali, temenya sita yang jadi teman saya juga. Untuk perjalanan tersebut saya dan sita mengandalkan mega karena mega pernah pergi ke daerah Petang sebelumnya.

Sekitar jam 9 pagi kami berangkat ke arah utara dengan kuda besi kami. Awalnya kami ingin langsung menuju ke jembatan tukad bangkung, tetapi ketika kami lewat daerah sangeh, si mega mungkin merasa kangen dengan saudaranya (hehe ga JSKD lho…) dan pengen mampir mengunjungi sangeh monkey forest. Mega bilang dia belum pernah masuk sangeh monkey forest sekalipun dalam hidupnya.Waah mega yang orang Bali kok belum pernah ke sana sih? but nevermind, saatnya kami bertiga membuat rekor pernah masuk ke sangeh monkey forest *hahaha..ups terlalu lebay😀.

Sesampainya di loket tiket masuk, mendadak saya terkena sindrom kebingungan. Masuk …tidak…masuk…tidak….ikut …tidak..ikut…tidak…Maklum saya masih trauma sama monyet-monyet kaliurang di yogyakarta (baca : di sini). Akhirnya ke dua teman saya itu sudah membeli tiket dan tinggal saya saja yang belum. Lalu saya sibuk bertanya kepada mas-mas eeh salah maksud saya bli-bli penjaga tiket yang ada di sana perihal attitud monyet-monyet tersebut, bagaimana keadaan mereka secara psikologis bila bertemu perempuan cantik seperti saya *halah!!

“Bli…monyetnya suka galak ga?”
“Ga ko tenang aja…”
“suka gigit ga Bli..??”
“ga mbak..ga pa pa..tenang aja..”
“suka…”
“Mbak saya antar masuk aja deh ya…” sambil senyum mungkin karena liat tampangku yang bingung dan perlu dikasihani.

Waah si bli nan baik hati akhirnya mau jadi bodygurad kami selama masuk ke monkey forest. Asiik!!seenggaknya rasa was-was saya terhadap monyet berukurang 1% *wehehehe teteup panik bu.

Masuklah saya di hutan dengan pohon yang tinggi-tinggi dan monyet di mana-mana. Kata si Bli pohon-pohon di situ umurnya ada yang mencapai ribuan tahun, dan masih dijaga oleh penduduk sekitar. Jenis pohon yang mendominasi hutan ini adalah pohon pala. Di bagian tengah hutan terdapat sebuah pura besar bernama pura bukit sari, dan di bagian lain dari hutan sangeh juga terdapat pura-pura kecil.

Saya tidak mau jauh-jauh dari si bli karena takut ada apa-apa, sedangkan ke dua teman saya itu malah dengan asyiknya foto-foto sambil memangku monyet. Rasanya gelii liatnya😀 . Saya sih tidak foto sama monyet-monyet itu tapi foto sama patung yang menurutku adalah patung kumbakarna, yang wajahnya sangat menyeramkan. Patung raksasa itu mencengkeram monyet-monyet dengan taringnya yang menyeringai *hiiiih seereeeem😀

Iseng saya membalik tiket. Dari balik tiket masuk sangeh terdapat sebuah uraian tentang sejarah pura bukit sari : “Menurut sejarah, pura ini dibangun Anak Agung Anglurah Made Karangasem Sakti, anak angkat Raja Mengwi Cokorda Sakti Blambangan. Konon Anak Agung Anglurah Made Karangasem Sakti sejak kecil melakukan ‘tape rare’ yaitu pertapa sebagai tingkah laku bayi/anak-anak. Beliau mendapat ilham agar membuat pelinggih (pura) di hutan pala sangeh. Sejak itulah Pura Bukit Sari ini ada di tengah-tengah hutan pala sebagai tanda bukti keturunan Raja Mengwi terhadap Ida Betara di Gunung Agung. Berdasarkan mitologi yang masih diyakini masyarakat setempat, nama sangeh diambil dari kata ‘sang’ yang berarti orang dan ‘ngeh’ yang artinya melihat. Syahdan, pohon-pohon pala yang berasal dari gunung agung yang berada di bagian timur Bali ini sedang dalam perjalanan menuju taman ayun.” Menarik kan?

Secuil Info tentang Sangeh Monkey Forest :
– Tiket masuk skitar Rp 5000, kalau takut sama monyet si Bli mau menemani Gratiss😀
– Tidak perlu mengenakan selendang jika tidak masuk ke puranya
– Bawa kacang dan pisang jika ingin berbagi kasih dengan monyet-monyet
– Menurut pengalaman saya Monyet-monyet sangeh lebih baik hati daripada monyet-monyet Uluwatu😀
– Dari Denpasar kira-kira sekitar 30-45 menit perjalanan dengan menggunakan motor
-Transportasi bisa dengan kendaraan pribadi atau ikut paket tur yang banyak tersedia di daerah Kuta, Legian, Seminyak Dll

Alamat : Jalan Raya Sangeh, Abiansemal, Badung. Telp : +62 361 7422740

Arah : Denpasar –> Mambal –> Abiansemal –> Sangeh

Peta Sangeh :

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

2 responses to “Trip to Petang part 1 : Sangeh monkey forest

  1. dapet salam dari para monyetnya Nda😉

  2. mega

    Gak nyangka kalo si Nda ternyata trauma ama gerombolan monyet itu; padahal kan mereka lucu2 tuh; Duh apalagi kalo lagi beraksi dalam misi pencarian kutu… kekekeke…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s