Trip to petang part 3 : Air Terjun Nungnung

destinasi : pura pucak mangu dan air terjun nungnung

Perjalanan berlanjut setelah kami puas memandangi beton kokoh penyangga jembatan tukad bangkung nan tinggi menjulang. Kami kembali ke arah selatan menuju air terjun yang papan namanya terpampang saat kami menuju ke jembatan tadi. Di tengah perjalanan mega ingin menunjukkan suatu tempat kepada saya dan sita, maka kami berbelok ke arah utara menuju suatu tempat bernama pura pucak mangu.

Seperti halnya jembatan tukad bangkung, pura pucak mangu terletak di desa plaga, kecamatan petang. Pura tersebut dibangun di ujung sebuah perkampungan. Ketika kami tiba di sana suasana kampung begitu asri dan hening. Rumah-rumah adat bali bergapura berjajar lengkap dengan penjor dan tempat menaruh canang di depan rumah masing-masing. Benar-benar suasana adat yang kental. Di kejauhan tampak kabut menyelimuti perbukitan. Waktu itu tidak banyak orang yang terlihat keluar rumah, mungkin karena habis hujan, hanya beberapa ekor anjing yang tampak berkeliaran. Mega bermaksud ingin mampir bersembahyang, akan tetapi dia tidak membawa selendang dan perlengkapan ibadahnya, jadi ia mengurungkan maksudnya.

Mega lalu bercerita tentang perjalanannya ke puncak bukit pucak mangu ketika duduk di bangku smp dalam kegiatan pramuka. Salah satu pengalaman tak terlupakan baginya, pemandangan indah terlihat membentang dari puncak yang jaraknya lumayan dari desa tersebut. Saya dan sita jadi mupeng, pengen banget trekking ke puncak, tapi karena waktu tidak memungkinkan akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke air terjun.

Tulisan yang terpampang dari pinggir jalan tersebut adalah “nungnung waterfall …..meter”, maaf saya lupa jaraknya dari jalan raya😦 . Kami membelokkan diri ke jalan arah air terjun tersebut. Dan sampailah kami di gapura masuk air terjun. Setelah membayar Rp 3000 per motor, kami menyusuri tangga-tangga turun ke arah air terjun. Tempat itu begitu hijau penuh dengan pohon-pohon, dan di kanan kiri banyak terdapat bungalow-bungalow bambu tempat beristirahat sejenak bagi para wisatawan. Pemandangan lain yang terlihat oleh kami adalah beberapa pasang muda-mudi yang sedang asyik berpacaran🙂. Beberapa bungalow tadi sudah dikuasai oleh mereka sambil menikmati alam. Hmmm bikin mupeng, hehe. Turis yang kami temui di sana waktu itu 100% lokal dan 90% nya pasangan😀, kami tidak menjumpai satupun turis asing di sana.

Tangga-tangga cor-blok yang kami turuni terasa licin karena habis hujan. Terdapat pula yang sudah berlumut karena lembabnya udara sekitar, hal ini membuat kami berjalan sedikit berhati-hati karena kalau terpeleset bakalan sangat tidak lucu😀 . Di tengah jalan kami bertemu beberapa bapak-bapak yang sedang mengankut kayu besar di punggung mereka, hebat sekali! Seperti atlet angkat berat saja, seharusnya mereka diberi kesempatan untuk ikut kompetisi angkat besi hehe. Berat kayu tersebut kurang lebih sama dengan berat tubuh mereka, bahkan ada yang lebih. Beberapa menit kemudian kami menjumpai bapak-bapak yang sedang menebang pohon dengan gergaji mesin seperti suara motor yang menenggelamkan suara kicau burung dan gemercik air. Setelah saya mengamati proses tersebut sebentar saya baru sadar kalau mereka menebangi pohon di lembah dengan kemiringan lebih dari 60 derajat. Waaah pak, ko nebang di situ? Tar kalau tanahnya longsor gimana? , batin saya waktu itu. Saya cuma berani membatin saja, karena kalau ngomong langsung takut digergaji hehe.

Setelah kami menyeberangi jembatan kecil, suara air terjun mulai terdengar. Jalan setapak tersebut terasa menjadi lebih licin karena udara terasa lebih lembab. Di seberang kanan kami tampak sebuah air terjun kecil dengan debit air sedikit menyejukkan mata kami. Tak jauh dari situ, terlihatlah sebuah air terjun yang airnya deras mengalir dari atas dengan tinggi sekitar 20-30 meter. Di sekelilingnya tampak tetumbuhan hijau merambat menutupi tebing-tebing batu. Wow! Rasanya kami pengen nyebur ke air, tapi setelah kami melepaskan sandal dan menginjakkan kaki ke air, brrrr dingin sekali! Akhirnya kami hanya menikmati keindahan air terjun tersebut dari atas batu sambil foto-foto saja. Mungkin suatu saat kami akan kembali ke sana untuk mencebur😀.

air terjung nungnung

the greeniesh waterfall

saya dan sita di nungnung

the greeniesh waterfall

Sedikit info tentang air terjun nungnung :

  • tiket Rp 3000
  • parkir motor Rp 2000
  • pakailah alas kaki yang tidak gampang terselip karena medan tangga sangat licin
  • jarak dari pintu masuk ke air terjun lumayan jauh, jadi bawalah minum yang banyak terutama untuk perjalanan balik karena harus menanjak.

Arah : Denpasar > Mambal > Abian semal > Sangeh > Carang sari > Persiapan pangsan > Petang > Nungnung/Plaga

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s