Pulau serangan, a little escape after work

memancing berdiri di tengah laut

para nelayan serangan sedang memancing berdiri di tengah laut

Iseng saya memperhatikan peta pulau bali, ada sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan bali di sebelah tenggara, pulau serangan. Saya bertanya pada teman sekantor, nyoman sri, apakah dia pernah menginjakkan kaki di sana atau belum. Siapa tahu saja tempatnya menarik buat blusak-blusuk. Mbok sri bilang dia pernah ke sana untuk beribadah di pura sakenan, tapi itu bertahun-tahun yang lalu ketika jembatan serangan belum dibangun dan penyeberangan dilakukan dengan menggunakan perahu. Hmm wah lebih asyik jaman dulu dunk bisa berperahu ria, batin saya waktu itu.

Hari sabtu merupakan half day work di kantor saya, walopun saya lebih berharap kalau sabtu adalah full off day😀, but eniwei saya tidak ingin melewatkan hari sabtu itu hanya dengan di kost atau hang out di pantai kuta. So saya mengajak room mate saya sita buat blusukan ke pulau serangan. Lumayan lah kalau ditanya orang “kamu udah pernah ke pulau mana aja?”, saya bisa jawab “udah pernah ke pulau serangan lho”😀.

Pulau serangan letaknya tidak jauh dari pusat kota denpasar atau dari kuta, hanya sekitar 20-30 menit dengan kendaraan bermotor. Siang menjelang sore yang cukup menyengat, tidak membuat kami mengurungkan niat, langsung kami pacu supra fit x ke arah by pass ngurah rai. Tidak sulit untuk menemukan belokan ke arah pulau serangan karena sudah ada plang penunjuk jalannya. Dari jembatan pulau serangan saya bisa menikmati hutan bakau nan berjajar asri di selat mini tersebut. Tidak jauh dari jembatan tersebut, terdapat pura sakenan, salah satu dari beberapa pura terkenal di Bali.

Selepas melewati pura, kami bingung arah mana yang dituju, karena waktu itu jalan yang sudah beraspal hanya ke arah perkampungan. Sedangkan tujuan kami waktu itu adalah ke pantai untuk melihat pelabuhan benoa dari sana. Untung saja ada warung, kami langsung bertanya kepada seorang bapak arah mana yang benar dan tidak menyesatkan😀. Bapak itu langsung saja menunjukkan jalannya. Kami kaget ternyata jalan itu penuh dengan bongkahan kapur, seakan tak percaya bahwa itu adalah sebuah “jalan”. Awalnya kami tidak yakin untuk melewatinya, namun ada beberapa motor nekat melewati jalan itu. Jelas kami tidak mau kalah dengan mereka, itung-itung off road. Waktu itu sita berada di depan memboncengkan saya, baru beberapa meter kami melintasi bongkahan kapur, sita kehilangan keseimbangan dan jatuh. Korban terparah adalah saya karena saya jatuh di semak-semak belukar penuh duri. Beberapa orang lalu menolong kami, dan bertanya apakah kami tidak apa-apa atau terluka. Saya sebenarnya lumayan lecet-lecet karena duri tapi saya anggap tidak apa-apa (jyaaaah). Motor sita terberet sedikit di bagian selebor. Meskipun demikian, kami tetap maju terus pantang mundur, saya gantikan sita menyetir di depan. Setelah melewati jalan kejam tersebut kami merasa lega, entah bagaimana pulangnya nanti kalau kami harus melewati jalan itu lagi.

Di tengah perjalanan ke pantai kami dicegat di sebuah pos yang dijaga oleh beberapa orang, ternyata kami harus meninggalkan kartu identitas untuk masuk. Sebagai gantinya kami diberi sebuah kartu dengan tulisan “Turtle Island Project”. Kami lalu melanjutkan perjalanan. Sejauh mata memandang tampak putih karena tanah kapur yang menyelimuti daratan, walaupun masih ada pepohonan yang tumbuh di atasnya. Kami kemudian menyusuri sisi selatan pulau sampai ke sisi timur. Di sisi timur terdapat rumah-rumah pantai yang membuka warung bagi para wisatawan. Kami turun dari motor dan bermain di pantai sebentar. Pantai itu berpasir putih dan banyak terdapat renik-renik laut di bibir pantainya. Kami mengambil beberapa cangkang kerang dan batu-batu karang kecil untuk dibawa pulang. Sore itu tidak banyak wisatawan dan bule di pantai, mungkin karena tidak banyak yang tahu tempat itu. Ombak di pantainya bersahabat membuat saya ingin berenang, tapi karena saya hanya membawa baju kantor yang melekat di badan saya, ga mungkin lah! Kami hanya duduk-duduk sambil memandangi boat wisatawan yang melintas dari pelabuhan benoa.

Puas di pantai bagian timur kami mencoba mengelilingi pulau lagi. Kami bertemu dengan beberapa orang yang menerbangkan helikopter remote control, sepertinya mereka dari kelompok aeromodelling. Kami juga bertemu dengan beberapa mobil yang disetir ala setrika, bolak-balik maju mundur, ternyata mereka sedang latihan setir mobil. Pulau serangan memang terkenal juga sebagai tempat latihan setir mobil. Setelah berputar-putar tak jelas dan berfoto-foto ala padang gurun nevada sampailah kami di pantai sebelah utara. Di pantai ini terdapat banyak boat untuk memancing dan yang paling mencuri perhatian saya adalah kapal-kapal kayu seperti kapal pinisi yang sedang diparkir di situ. Menurut saya kapal ala orang bugis ini keren sekali! Tak jauh dari situ ada kerangka kapal pinisi yang masih dalam proses pembuatan dan sudah ditinggalkan oleh para pembuatnya karena mungkin sudah sore hari. Akan sangat menyenangkan jika saya bisa melihat sedikit dari proses pembuatan kapal itu.

pantai serangan utara pulau

foto sama perahu pinisi made in orang bugis

narsis di pulau serangan

di pantai utara pulau serangan

Lagi enak-enaknya main air dan menikmati pantai tak berombak sambil narsis foto-foto, kami dipanggil-panggil oleh bapak-bapak nelayan yang sedang memancing di tengah laut. Tengah laut di sini benar-benar jauh dari bibir pantai tetapi meskipun begitu airnya tetap dangkal sehingga para nelayan itu hanya berjalan kaki saja sampai tengah. Kami bingung apa maksud bapak-bapak itu memanggil-manggil kami, setelah lama baru ngeh ternyata bapak-bapak itu minta difoto!! hehehe mereka juga ga mau kalah narsis. Baiklah bapak saya abadikan moment memancing bapak di blog ini yaa pak😀.

Sudah hampir maghrib, kami lalu mengambil KTP saya di pos satpam dan mencari jalan yang berbeda untuk menghindari kecelakaan lanjutan. Pak satpam memberi tahu kami jalan keluar lain yaitu lewat kampung serangan. Saya surprized kampung serangan memiliki masjid dan usut punya usut ternyata serangan adalah kampung muslim bugis. Pura sakenan dan masjid itu berdampingan harmonis di sana🙂

PS : foto saya dan sita di serangan banyak yang hilang karena kerusakan harddisk😦 hiks….

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s