Denpasar – Singaraja, perjalanan berburu air terjun dan makan sate babi halal

on the way to gitgit

on the way to gitgit

Hari minggu di pulau dewata bagi saya dan roomate saya Sita adalah saatnya menjelajah. Kami berdua tertarik untuk pergi ke obyek wisata air terjun gitgit di Bali utara. Beberapa hari sebelumnya, sita membuat sebuah pengumuman di sebuah situs komunitas traveler tentang rencana kami bermotor ria dari Denpasar sampai Singaraja. Gayung bersambut (jiaaahh), ternyata pengumuman itu laku juga. Ada dua orang traveler yang berminat ikut dengan kami. Semakin banyak teman akan semakin menyenangkan, pikir kami waktu itu. Selain teman-teman dari komunitas traveler, Sita juga mengajak Mega, teman dekat kami dan Lina, seorang pendaki wanita expert. Kami menentukan KFC jalan gatsu timur sebagai meeting point pada jam 8 pagi. Terkumpulah 6 orang yang siap menjelajah yaitu, Sita, Mega, Lina, Mariza (traveler dari jakarta), Buci (traveler dari perancis) dan saya.

denpasar-singaraja view point

Pemandangan alam tak jauh dari Bedugul

danau berantan bedugul

Danau Berantan

Kali ini kami mempercayakan tugas penunjuk jalan kepada Lina, karena ia pernah menjelajah sampai Bali utara sebelumnya. Jalur ke Singaraja merupakan jalanan yang melintasi pegunungan, berekelok-kelok, banyak terdapat tanjakan serta turunan tajam. Sudah tentu pula pemandangan di jalan sangat eye-catching dengan hijau dan birunya pegunungan. Setelah kira-kira satu jam kami naik motor, lina memutuskan untuk berhenti di sebuah sudut jalan yang ia namakan sebagai the best view point untuk melihat pemandangan gunung agung, gunung batur dan gunung Abang. Kota Denpasar dan pantai selatan bali pun juga terlihat di kejauhan dari view point itu. Tak sampai 10 menit kami berhenti untuk mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kira-kira 20 menit kemudian kami memasuki kawasan wisata yang cukup terkenal di Bali yaitu Bedugul. Kami berhenti sebentar pas di pinggir danau berantan untuk mengecek peta dan beristirahat. Saya kemudian membeli strawberry mini asli petani bedugul dan dengan baik hatinya saya bagikan ke teman-teman juga😀.

Perjalanan yang tadinya sudah menanjak, kini semakin mendaki selepas Bedugul. Dari tanjakan tepat di atas lokasi danau Berantan, kami juga bisa melihat pemandangan danau buyan. Rasanya ingin berhenti dan berfoto di tempat itu, akan tetapi karena monyet-monyet hutan dengan senangnya nongkrong di pinggir jalan, saya merasa takut dan terancam😀. Jalanan beraspal selepas bedugul tidak semulus yang kami bayangkan, terdapat banyak lubang di jalan, saya berharap semoga akses utama ke singaraja itu sudah mulus sekarang.

“gitgit twin waterfall”, sebuah plang tulisan terpampang besar di sebelah kiri jalan. Kami berhenti sebentar. Lina menawarkan kepada kami untuk masuk ke obyek wisata tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa gitgit twin waterfall bukan air terjun gitgit yang terkenal itu, tujuan utama kami. Saya baru paham bahwa yang namanya air terjun gitgit itu tidak hanya satu. Saya heran kenapa namanya sama tidak dibedakan saja, hanya dibedakan oleh kata “twin”, kenapa tidak gitgit 1 dan gitgit 2, atau gitgit KW I dan gitgit KW II, haha ribett!! Kami memutuskan akan ke gitgit twin waterfall setelah kami mengunjungi, air terjun gitgit yang paling terkenal dahulu.

papan nama air terjun gitgit

Selamat datang di gitgit!

Tak lama, setelah itu sampailah kami di air terjun gitgit. Setelah memarkir motor dan membayar tiket masuk seharga Rp 3000, kami berjalan santai di jalan setapak yang sudah disemen cor-block. Di kanan dan kiri kami terdapat banyak pepohonan cengkeh nan rimbun. Warung-warung souvenir dan oleh-oleh tidak hanya menjual oleh-oleh biasa, mereka juga menjual aneka macam bumbu, rempah-rempah dan daun herbal kering. Ada yang dikemas satu per-satu, ada juga yang dikemas satu renteng lengkap bermacam-macam rempah seharga Rp 45.000 sampai Rp 75.000. Menurut salah seorang pedagang rempah-rempah itu dengan mudah didapat di sekitar kebun dan rumah mereka. Sebenarnya saya ingin membeli satu renteng rempah-rempah itu sebagai pajangan karena warna-warnanya terlihat menarik dan kontras, tapi menurut saya harganya mahal untuk kantong saya.

air terjun gitgit

Gitgit waterfall

berpose di air terjun gitgit

Foto bareng dulu di bawah air terjun gitgit

Setelah beberapa menit berjalan menyusuri jalan setapak itu, sampailah kami di air terjun yang kurang lebih tingginya 40 meter. Hari itu banyak wisatawan asing maupun lokal yang berwisata di sana. Ada yang bermain air, ada pula yang hanya duduk-duduk sembari makan, dan ada pula yang berpacaran seperti di kebanyakan obyek wisata di Indonesia, hehe gag penting bangett! Air yang mengalir turun dari atas air terjun termasuk deras, jadi jika anda ingin mencoba mandi pas di bawah derasnya air terjun, saya jamin badan anda akan remuk. Tipe air terjun seperti ini jika dalam bahasa jawa disebut dengan grojogan.

Pada mulanya kami hanya duduk-duduk di pura kecil di dekat air terjun. Meskipun hanya duduk di sana kami tetap bisa merasakan cipratan airnya yang lama-kelamaan membasahi pakaian kami. Lina dan buci akhirnya bermain di air sampai mereka berdua basah kuyup. Setelah menaruh tas di tempat yang lebih aman kami semua bermain air, menyebrang sungai, menaiki batu di samping air terjun dan berfoto ria!

Setelah puas bermain di air terjun gitgit, kami melanjutkan perjalanan ke utara dalam rangka mencari makan siang. Perjalanan menuruni pegunungan itu terasa sangat menyenangkan dengan pemandangan kota singaraja dan pantai utara Bali di bawah sana. Pencarian kami akhirnya sampai di kota Singaraja. Kami berputar-putar kota sebentar. Di beberapa perempatan jalan utama kota singaraja berdiri patung-patung khas Bali, akan tetapi bangunan-bangunannya banyak yang berarsitektur kolonial belanda dan cina. Kami bingung mau makan apa dan tidak punya referensi tentang wisata kuliner di sana. Teman kami mega adalah seorang vegetarian, sehingga kami harus selektif memilih warung makan. Kebetulan sekali setelah beberapa menit berputar-putar kami menemukan sebuah rumah makan vegetarian ala cina pas di pojokan jalan. Menu di dalam rumah makan itu bermacam-macam mulai dari mi goreng, capcay sampai sate babi. Weittzz tunggu dulu! Sate babi di rumah makan ini halal karena terbuat dari bahan gluten tepung. Saya memesan nasi goreng ham, sebagai menu utama saya dan mencomot beberapa tusuk sate babi yang dipesan Buci dan Lina. Kapan lagi bisa makan babi halal?😀 . Rumah makan yang telah saya lupakan namanya ini sungguh unik. Di dalam rumah makan, pemiliknya memasang patung dewi Kwan Im lengkap dengan kain-kain merah khas cina, dupa dan ubo rampenya. Sedangkan di bagian luar mereka juga memasang tempat sesaji khas bali lengkap dengan canangnya. Pemiliknya cina bali beragama budha yang juga mengikuti adat istiadat hindu setempat. Saya juga mendapat cerita darinya, bahwa orang-orang cina budha di singaraja juga melakukan hal yang sama. Sungguh akulturasi budaya yang unik.

Setelah kenyang, kami kembali ke arah selatan dan tak lupa mampir ke gitgit twin waterfall. Tiket masuk ke twin waterfall juga Rp 3000. Berbeda dengan air terjun gitgit yang sebelumnya, jalan masuk ke arah twin waterfall dari jalan utama lumayan jauh. Kami harus menuruni banyak anak tangga. Turunya jelas tidak membuat kami capek, tapi naiknya pasti membuat kami ngos-ngosan. Obyek wisata ini lebih sepi, tidak banyak pengunjung waktu itu. Ada beberapa air terjun yang bisa dinikmati di obyek wisata ini. Selain itu juga terdapat aliran sungai yang lebar berbentuk seperti kolam renang alam yang luas. Beberapa anak-anak kecil setempat bermain di sana. Seperti tidak mau kalah, teman kami Buci juga ikut mencoba bergelantungan dengan sulur seperti tarzan. Air di kolam alam itu tampak bening sekali. Terlihat beberapa ikan kecil-kecil yang sedang merenanginya. Saya yakin teman-teman sebenarnya ingin sekali berenang. Akan tetapi karena tak satupun dari kami yang membawa baju ganti dan perjalanan pulang akan melewati daerah dingin, kami mengurungkan niat.

gitgit twin waterfall

Gitgit twin waterfall

Kami lalu menelusuri jalan setapak yang ada di pinggiran kolam tersebut. Dan jreng jreng! Di sanalah twin waterfall berada. Air terjun ini terkenal dengan sebutan twin waterfall karena di ujung atasnya terdapat dua aliran air yang dipisahkan oleh tebing batu. Tingginya kurang lebih 20 meter. Di bawah twin waterfall juga terdapat kolam air yang cukup dalam kira-kira 4 meter. Meskipun dalam, dasarnya terlihat dengan jelas. Selain itu menurut pandangan mata kami yang entah bisa dipercaya atau tidak, terdapat lubang seperti gua atau sungai bawah tanah. Berada di twin waterfall ini rasanya seperti menemukan sebuah tempat rahasia yang indah dan mistis😀.

Tepatnya di bawah jembatan di dekat kolam alam juga terdapat air terjun yang suara alirannya terdengar keras dan deras. Akan tetapi air terjun itu tidak terlihat jelas jika dilihat dari atas jembatan. Dikarenakan Lina, Mega dan saya masih penasaran dengan keberadaan air terjun lain di komplek tersebut, kami bertiga seperti dora the explorer mengikuti plang penunjuk arah. Di pinggiran tebing yang kami lalui kami menemukan beberapa air terjun kecil yang aliran airnya tidak deras tapi tetap cantik. Mulanya kami hanya ingin melihat air terjun yang di bawah jembatan, tetapi setelah jauh berjalan kami belum sampai juga. Sepanjang jalan setapak kami melewati rimbunan pepohonan yang didominasi oleh pohon cengkeh. Setelah kami bertanya arah kepada seorang penduduk yang lewat, kami menemukan air terjun lain yang juga indah dan aliran airnya juga deras. Akan tetapi air terjun itu bukan air terjun di bawah jembatan tujuan semula kami. Kami sudah terlalu jauh dari sana. Di sekitar air terjun itu terdapat para wanita dan anak-anak yang sedang mandi sore bersama. Seorang ibu kemudian memberitahukan kami tentang air terjun lain yang tak jauh dari sana. Sudah kepalang tanggung walaupun sudah sore, kami lalu mengikuti petunjuk si ibu. Kami menyeberangi sungai untuk ke air terjun yang entah apa namanya. Tak ada seorangpun di sana, hanya suara air dan burung-burung. Tinggi air terjun ini sekitar 30 meter dan terdapat kolam yang luas di bawahnya. Seandainya masih siang hari berenang di sana tampaknya akan sangat asyik. Sayang tak ada satupun dari kami yang membawa kamera, jadi kami hanya bisa merekam keindahannya melalui mata kami dan menyimpannya dalam memori otak😀. Karena takut kesorean kami lalu hanya memandangi tempat itu beberapa menit. Perjalanan menuju parkiran motor akhirnya menjadi trekking sore yang sangat melelahkan. Saya dan mega rasanya ingin menyerah. Lina dengan enaknya berjalan seperti tanpa rasa capek. Maklum pendaki gunung senior. Sesampainya di parkiran tampak Sita, Mariza dan Buci lelah menunggu kami yang seperti 3 anak hilang😀. Saya berharap suatu saat bisa datang kembali lagi dengan peralatan trekking lengkap dari satu air terjun ke air terjun yang lain untuk waterfall hopping. Yeap! Komplek gitgit twin waterfall ini, sangat recomended bagi anda yang suka trekking, bermain air, dan berenang di alam.

Peta air terjun gitgit di google map :

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

2 responses to “Denpasar – Singaraja, perjalanan berburu air terjun dan makan sate babi halal

  1. mawmaw

    waahh… keren! ya iyalah… nothing compare kerennya bali utara tercinta! waktu ke singaraja, kemana aja ? well, saya orang singaraja lho.. he

    • Sempet puter-puter kota dikit, waktu itu cuma sehari doank😦 pengen ke sana lagi😀 ke lovina. Kalau pura ulun danu masuk kab buleleng ga? aku juga sempet ke sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s