Trekking santai di hijaunya Ubud, sawah-sawah bali dan bukit ilalang campuhan

di puri raja ubud

trekking team di puri radja ubud

Jika anda ingin menikmati orisinalitas Bali,tetapi tidak mau jauh-jauh terasing di daerah pedalaman, Ubud adalah tempatnya. Modern tourism dengan kearifan lokal berpadu harmonis di sana. Atmosfir yang tenang dan nyaman membuat banyak traveler lebih menyukai Ubud daripada Kuta. Selain mengunjungi pasar seni, monkey forest, puri Ubud, museum blanco atau menonton atraksi tarian dan upacara adat, makan di resto yang terkenal enak, menikmati balinese spa, apalagi yang bisa dilakukan di Ubud ?

Hmm eh kok jadi nulis sok serius gini?😀

Saya senang berada di Ubud hanya untuk jalan santai menembus desa, sungai, pesawahan dan padang ilalang di sana. Meskipun di dekat rumah saya di Jawa juga banyak sawah, tetapi melihat sawah diperlakukan dengan adat yang berbeda adalah hal yang menarik bagi saya. Sebelumnya saya dan sita, room mate saya pernah menjelajahi Ubud dengan motor sampai nyasar ke daerah Tampaksiring. Kali ini room mate saya itu mendapat ajakan dari seorang traveler Finlandia untuk trekking di pedesaan Ubud. Tentulah dengan hati berbunga-bunga saya ikut!

Minggu pagi itu kami sudah janjian bertemu di depan puri Ubud. Selain saya dan mega yang memang selalu blusukan bersamanya, sita juga mengajak traveler CS dari New Zealand dan Norwegia. Tak lama munculah seorang bapak-bapak berbadan gemuk dan gempal mengenakan ikat kepala seperti bajak laut. Bapak yang namanya sulit diingat ini, sudah siap trekking dengan backpack kecil dan sepatu trekkingnya. Saya, mega dan sita dengan cueknya memakai celana jins panjang, sedangkan Kiva dari Norwegia malah mengenakan high heels waktu itu. Kami memang kelompok trekking yang aneh😀. Bapak dari Finlandia yang merupakan seorang nomad ambassador CS ini sudah beberapa hari tinggal di Ubud dan sudah pernah trekking di jalur yang sama kemarin hari. Jadi beliaulah yang menjadi pemandu perjalanan kami. Saya jadi malu karena dipandu oleh orang asing di negara saya sendiri.

air terjun mini trek ubud

air terjun mini di trek ubud

buah oren trek ubud

Owhh buah apa itu? sepertinya ranum menggiurkan iman

Perjalanan diawali dengan menapaki kampung yang terletak di belakang puri raja Ubud. Tidak hanya kampung biasa tentunya, rumah-rumah berdesain adat bali yang didominasi batu bata merah itu juga merupakan penginapan bagi para traveler. Selain itu penjor-penjor yang dipasang di depan setiap rumah, membuat suasana adat terasa lebih kental. Di ujung kampung terdapat areal pesawahan yang terbentang luas, kami lalu mengambil jalan setapak tanah di samping sebuah sungai kecil. Meskipun sungai itu berada di dekat kota Ubud, airnya bersih dan bening. Sepanjang aliran sungai ini ditumbuhi banyak pohon-pohon besar dan semak-semak, jadi trekking kami tidak membuat capek karena kepanasan. Banyak hal yang menarik perhatian kami sepanjang trekking. Selain beberapa air terjun mini, kami melihat buah-buahan aneh yang tumbuh di semak-semak, berwara oranye kemerahan. Buah itu terlihat ranum, mengundang selera. Rasanya ingin memakannya, tapi saya sadar ini adalah reaksi aneh saya setiap melihat buah-buahan tak dikenal.

Kami bertemu beberapa bule berkostum trekking yang juga melewati trek kami. Rupanya trek ini memang trek umum para traveler yang ingin escape menikmati hijaunya kumpulan tanaman padi. Hal ini dimanfaatkan oleh penduduk sekitar dengan membangun warung gubug yang menyediakan aneka macam minuman dan makanan kecil. Kami singgah sebentar di sana untuk istirahat dan minum. Lucunya warung ini benar-benar ala warung indonesia pedesaan. Si empunya warung menjual makanan-makanan kecil ala anak SD dan saya menyukainya😀. Saya membeli beberapa makanan kecil dan segelas kopi bali. Kopi balinya manis sekali. Saya harap si bapak mengerti jika kebanyakan bule tidak suka kopi manis.

Jalan di pematang sawah adalah trek kami selanjutnya. Sawah-sawah yang terbentang masih berwarna hijau muda, tanda baru ditanam. Uniknya pada pesawahan di Bali terdapat bangunan-bangunan mini di dekatnya. Bangunan yang seperti stupa kecil ini adalah tempat menaruh canang atau sesaji, sesembahan untuk para dewa agar panen mereka berhasil. Di sudut-sudut areal pesawahan terdapat pura-pura kecil bersama untuk pertanian. Selain itu juga terdapat bangunan tempat istirahat dan berkumpul para petani, namanya balai subak.

Setelah kembali ke jalan raya Ubud, kami merasa sangat lapar. Kami makan di resto Bali Budha, sebuah resto vegetarian yang cukup terkenal di Ubud. Di sana kami bertemu dengan host si bapak Finlandia yang merupakan pasangan seniman dari Italia.

the greeny lembah campuhan

padang ilalang hijau lembah campuhan

the path and my friend

jalan setapak lembah campuhan

Sorenya pasangan Italia bernama Diego dan Linda ini menunjukkan sebuah tempat trekking lain yang tak kalah menarik. Ini juga membuat saya lebih malu lagi, karena dipandu oleh orang asing lagi di negara Indonesia saya tercinta ini. Trek ini letaknya tidak jauh dari museum Blanco, yaitu di bukit campuhan. Trek kami diawali dengan menyeberangi sebuah jembatan yang arus sungai di bawahnya mengalir deras. Di jembatan itu banyak anak-anak muda setempat sedang bercengkrama. Selepas jembatan terdapat jalan setapak yang tersusun rapi dari batu. Menurut saya treknya cantik sekali, terlihat kontras dengan ilalang yang membentang menutupi lembah yang sangat luas. Awww!!! Saya bingung harus berekspresi apa. Saya suka sekali berada di tempat ini. Lembah ini terletak di antara dua sungai besar yang membentuk seperti sebuah bukit. Jalan setapak yang kami lalui naik turun dan panjangnya sekitar satu kilometer.

Di seberang lembah terdapat banyak hotel-hotel dengan konsep tropis eksotis, yang menjadikan bukit penuh ilalang ini sebagai the best viewnya. Di kejauhan saya melihat bapak-bapak petani sedang mencabuti ilalang dengan menggunakan sabit, seperti petani yang sedang panen padi. Rupanya ilalang di tempat ini memang sengaja ditanam untuk memenuhi kebutuhan atap-atap rumah atau balai-balai penginapan di Ubud.

young romance at campuhan

di bawah pohon itu ada yang lagi pacaran seperti di film-film korea

Sore itu ada banyak traveler dan penduduk lokal yang menikmati suasana di sana. Memang tempat yang pas sekali untuk menikmati indahnya alam saat sore hari. Beberapa pasang anak muda juga terlihat berduaan di bawah pohon-pohon yang terlihat mencolok diantara ilalang-ilalang karena jumlah pohon hanya sedikit. Pohon di antara ilalang, menurut saya seperti setting lokasi di film-film korea yang romantis. Wedewwh. Apalagi ditambah dengan adegan berduaan di bawah pohon itu, jadinya benar-benar tambah romantis, membuat saya berangan-angan berduaan dengan won bin di bawahnya😀.

Perjalanan trekking sore itu akhirnya berakhir di sebuah kampung selepas lembah ilalang. Capek jalan kaki seharian di Ubud hari itu rasanya tak begitu terasa dibandingkan dengan keindahan yang telah dinikmati oleh mata saya.

CS : traveler couchsurfing.org

Host : tuan rumah si traveler

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

2 responses to “Trekking santai di hijaunya Ubud, sawah-sawah bali dan bukit ilalang campuhan

  1. Selama ke Bali belum pernah mampir ke Ubud, padahal kata orang2. Ubud tempatnya damai sekali. Next time wajib ke Ubud !

  2. vina

    Bukit tsb adalan campuhan trekking – track ,..jalan setapak dengan dasar con-block .seperti mengular berliku-liku….. kiri kanan adalah lembah nan hijau …sepanjang mata memandang hanyalah sawah terbentangdi sisi kiri kanan……..the best site for jogging in the morning,
    . just start from hotel Ibah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s