Tiba-tiba ke Tanah Lot

tanah lot sore itu

tanah lot yang ramai pengunjung

Setiap saya ditanya “tinggal di mana?”, dan saya jawab “ngekost di jalan gunung sanghyang depan poltabes denpasar”, si penanya pasti akan berkomentar lagi “oooh jalan ke tanah lot itu yaaa….”. Saya cuma manggut-manggut, teringat saat saya mengunjungi Tanah Lot pada waktu kelas 3 SMP yang memakan waktu belasan jam dari Yogyakarta. Sebenarnya saya pernah berencana ke Tanah Lot lagi dengan sepeda kayuh pinjaman bersama seorang teman cewek anggota bike to work Bali, tapi hal itu belum terlaksana karena kesibukan masing-masing.

Entah ada angin apa (jiaaahh), saya dan sita tiba-tiba secara spontan pergi ke Tanah Lot sepulang kerja dengan motor. Selama perjalanan saya hanya membatin “Untung ga jadi naik sepeda!”. Jalan ke Tanah Lot ternyata berkelok-kelok dan naik turun, walaupun tidak separah jalanan di daerah puncak atau bedugul. Saya adalah penggowes sepeda pemula, jadi saya yakin ainul yakin 100% saya tidak akan kuat.

Sore itu Tanah Lot ramai sekali dikunjungi wisatawan, sejak kami tiba di parkiran saja sudah susah mencari tempat parkir. Kami mengantri lama sekali untuk mendapatkan tiket seharga Rp 10.000. Suasana pasar souvenir yang harus dilewati sebelum masuk ke kawasan wisata berjubel penuh dengan para turis yang sibuk berbelanja. Jujur saya tidak suka datang ke obyek wisata pada saat ramai dan banyak pegunjungnya, membuat privasi saya terganggu (hakdeeezz).

ritual para biksu di tanah lot

ritual para biksu dan umat budha di tanah lot

Saat itu air laut sedang surut sehingga pengunjung bisa berjalan kaki ke pura yang terletak di pulau karang, daya tarik utama Tanah Lot. Akan tetapi tidak semua orang boleh naik ke atas pura. Anda diharuskan berpakaian adat bali untuk memasukinya. Saya dan sita kemudian hanya duduk-duduk sambil menonton para turis yang sedang berfoto-foto. Tak berapa lama kami melihat beberapa orang biksu dan rombongan orang-orang etnis cina sedang berbaris lengkap dengan bendera bertuliskan huruf kanji dan alat-alat ritual mereka. Rombongan ini kemudian berjalan berputar-putar di bawah pura sambil menyanyikan lagu dalam bahasa yang tak saya mengerti, lagu yang lebih terdengar seperti doa. Semua perhatian pengunjung kemudian teralih kepada mereka. Menurut saya ini adalah peristiwa unik dalam sejarah (lebay), karena setahu saya Tanah Lot adalah tempat suci bagi masyarakat Bali yang beragama hindu, sedangkan para biksu ini adalah penganut budha. Para pecalang pura Tanah Lot juga membantu para biksu ini melaksanakan ibadah mereka. Senang sekali rasanya melihat mereka saling mendukung dan menghormati.

beautiful sunset at tanah lot

sunset cantik di tanah lot

Setelah ritual para biksu ini berakhir kami berjalan ke barat ke arah batu bolong. Tadinya saya bermaksud ingin main ombak sebentar, tapi tampaknya ombak di Tanah Lot berbahaya dan tidak friendly. Jadi lebih baik tidak jadi saja daripada saya terseret ombak, tenggelam dan berubah jadi putri duyung yang cantik. Kami duduk-duduk menghadap ke batu bolong. Langit hari itu lumayan bersih di tempat matahari terbenam, sehingga kami bisa menikmati sunset sambil melongo , kok matahari terlihat lebih besar dan bulat ya hari itu?

Pecalang : polisi adat bali

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s