Kolam renang laut favorit saya di blue point beach uluwatu, kolam yang cocok untuk perenang cemen :D

tebing blue point beach

tebing pantai blue point

Saya suka berenang tetapi saya tidak benar-benar bisa berenang (nah loo!!). Oleh karena itu jika saya pergi ke kolam renang, saya selalu memilih berenang di kedalaman tidak lebih dari 1,5 meter. Alasanya klise, takut tiba-tiba tidak bisa mengambil nafas lalu tidak bisa berpijak di dasar kolam. Walaupun begitu saya masih punya keinginan bisa berenang di air asin alias di laut (hakdeeess, bingung ga?). Di kampung halaman saya, di Jogja, tidak ada satu pantai pun yang bisa untuk berenang, untuk seorang expert sekalipun karena ombaknya sangat ganas serta dibumbui cerita mistik tentang penguasa pantai selatan. Hal itu tentu saja membuat saya sedikit parno terhadap laut.

Setelah saya tumbuh dewasa dan bekerja di Bali (berkesan dramatis), saya sering diajak sita ke beberapa pantai sekedar nongkrong atau melihat ombak. Di Bali selatan, meskipun ombaknya lumayan besar para turis tetap dengan santai surfing, berenang dan terkadang sampai jauh dari bibir pantai. Saya kagum dengan para turis yang kebanyakan bule itu, mereka begitu akrab dan santai dengan ombak. Saya tak pernah mencoba untuk berenang dengan pelampung sekalipun😀.Sampai pada suatu ketika, saya menemukan sebuah pantai yang cocok untuk perenang cemen seperti saya😀.

Waktu itu saya dan sita pergi ke ujung selatan pulau bali. Tempat yang terkenal dengan pura uluwatunya. Saya tidak bisa menikmati pura uluwatu secara maksimal karena saya harus melepas kacamata saya yang berminus 3. Monyet-monyet di uluwatu termasuk ganas, jadi pengunjung harus melepaskan berbagai macam aksesoris dan atribut yang menempel di tubuh mereka. Saya hanya bisa melihat samar-samar tebing cantik yang langsung berbatasan dengan laut di selatan pura. Sehabis dari sana, saya diajak ke sebuah pantai tidak jauh dari pura. Kami menaruh motor di dekat hotel-hotel yang berada di atas tebing. Untuk menuju ke pantai kami harus melewati tangga turun yang kanan kirinya penuh dengan restoran bermenu makanan asing dan surf shop. Tidak seperti pantai di daerah kuta dan sanur, pantai blue point 90% pengunjungnya adalah bule, mungkin karena tidak banyak wisatawan lokal yang tahu pantai ini. Sampai di bawah kami melalui sebuah terowongan karang yang cukup besar untuk sampai ke pantai.

the surfer and me @ blue point

awalnya saya cuma pinjem alat surf dia buat properti foto, eh si bule malah ikutan foto

Pantai blue point berpasir putih dan di bibir pantainya terhampar luas karang-karang laut nan tajam. Ketika surut batas laut dengan daratan bisa sampai beberapa ratus meter dari tebing. Jika para surfer ingin surfing, mereka harus berjalan di atas karang-karang itu dulu untuk sampai ke ombak. Tentu saja dengan sepatu khusus surfer yang aman dari tajamnya karang-karang. Sedangkan saya dan sita mencoba berjalan di karang-karang yang tergenang air laut itu dengan barefoot karena takut menyakiti rumput laut dan hewan-hewan laut kecil (eheey). Ternyata malah menyakitkan kaki😀.

Yang menarik perhatian kami di pantai ini terdapat cerukan di antara hamparan karang membentuk seperti kolam renang. Lebarnya lumayan luas dan dalamnya bermacam-macam, ada yang mencapai 2 meter. Beberapa orang berenang di sana, ada pula yang snorkling. Kebetulan waktu itu saya membawa baju renang saya yang jelas bukan bikini tapi lebih mirip dengan baju surfing plus celana kolor😀. Langsung saja saya mencari tempat ganti baju. Setelah lama berputar-putar, ternyata pantai ini tidak dilengkapi fasilitas kamar mandi berderet seperti di parangtritis (perbandingan yang aneh). Akhirnya saya nekat ganti baju dibalik karang-karang tinggi, sambil meminta sita menjaga kalau ada orang lewat. Mbak-mbak bule yang berenang di sana tak perlu ganti baju di balik karang-karang karena mereka sudah siap dengan bikini di balik baju mereka. Walaupun baju saya termasuk terlalu sopan untuk berenang dan terlihat aneh bagi bule-bule itu, saya tetap pede dan cuek.

blue point beach lagoon

kolam renang favorit saya di blue point beach

Saya mencoba berenang di sana, dan rasanya asin! (ehiik). Saya lupa kalau saya berenang di laut karena rasanya seperti di kolam renang. Di dasar karang ada banyak rumput laut berwarna hijau dan merah. Terdapat pula hewan-hewan kecil seperti bintang laut, kerang, umang-umang dan udang. Terlihat pula beberapa ikan-ikan kecil berenang kesana kemari dan warnanya bervariasi. Saya begitu excited karena itu kali pertama saya berenang di air asin dengan ikan-ikan (ndesooo). Sayang saya tak bisa melihat dengan jelas karena tak ada snorkle. Sesekali memang kaki saya menyandung karang dan rasanya sakit sekali, tapi itu tidak membuat saya kapok berenang di sana. Selama saya tinggal di Bali, saya menyempatkan datang dan berenang di blue point beach beberapa kali. Jadi buat perenang cemen yang seperti saya, tempat ini recomended dah!😀

Lokasi : sebelah utara pura uluwatu, atau sesudah pantai padang-padang. 45 menit dengan motor dari denpasar.

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

2 responses to “Kolam renang laut favorit saya di blue point beach uluwatu, kolam yang cocok untuk perenang cemen :D

  1. allida

    untuk bisa renang di blue point mesti pas lagi surut ato bisa setiap saat…best time jm berapa yah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s