Trekking di dusun tertinggi se-Jogja, dusun Turgo

Berawal dari sebuah survei kecil ke dusun turgo, sebuah dusun di lereng gunung merapi yang merupakan dusun tertinggi se-Yogyakarta, saya dan Hans merencanakan untuk menginap dan trekking di sana. Kami mengumumkan acara itu kepada khalayak ramai (wuuihh). Teman saya mengumumkan acara itu ke mailing list sebuah komunitas backpacker terkenal se-Indonesia dan saya mengumumkannya ke komunitas traveling saya. Kebetulan saat itu seorang teman traveling saya, Mega dari Bali sedang berkunjung ke Jogja dan menginap di rumah saya, jadi saya langsung mengagendakan acara itu untuknya. Tidak banyak tanggapan dari komunitas traveling saya karena waktu itu jumlah anggotanya masih sedikit, sedangkan tiga orang dari komunitas backpacker teman saya positif ikut acara tersebut.

kali boyong yang penuh dengan pasir

Kali boyong yang dipenuhi pasir hasil erupsi merapi

Hari itu sabtu, saya dan Mega ditugaskan untuk menjemput salah seorang dari mailing list indobackpacker di circle K tugu jogja. Saya tidak punya nomer hpnya, bermodal asal tebak saya menyapa seorang pria yang tampak seperti anak ilang di depan circle K😛. Ternyata namanya Jainer dari bandung. Kami bertiga kemudian langsung cabut dengan motor ke turgo yang menghabiskan waktu kira-kira satu jam dari pusat kota Yogyakarta. Kami bermaksud menginap di sebuah rumah penduduk lokal yang memang disewakan untuk berbagai macam acara, namanya pondok alam desa milik pak Yanto. Hans dan beberapa orang lain akan menyusul kami untuk trekking keesokan paginya. Untuk menghabiskan sabtu sore itu, saya, Mega dan teman baru kami berjalan-jalan menyusuri dusun turgo sampai ke sebuah sungai yang berseberangan langsung dengan kaliurang, tempat wisata terkenal di Jogja. Sungai yang terkenal dengan sebutan kali boyong ini penuh dengan pasir hasil dari erupsi merapi, tak heran jika truk-truk penambang pasir hilir mudik silih berganti keluar masuk kawasan ini.

Malam hari menjelang. Dusun turgo terasa sangat dingin dan sepi. Suara-suara mahkluk malam dari jangkrik sampai serangga pohon terdengar jelas memeriahkan suasana. Ketika makan malam, kami disuguhi nasi, sayur labu siam, tempe dan sambel. Menunya memang sederhana, tapi rasanya tak kalah nikmat dengan masakan restoran. Makan malam tersebut bahannya diambil dari kebun sendiri. Pak Yanto kemudian menunjukkan tanaman labu dan lombok yang ada di halaman rumahnya. Malam itu kami tidur cepat, supaya keesokan paginya kami mempunyai banyak energi untuk trekking😀 . Awalnya saya tidak dapat tidur nyenyak karena tidak terbiasa dengan suara-suara aneh di luar sana (maklum dekat hutan), tapi lama-kelamaan karena kelelahan akhirnya saya tertidur juga.

sapi perah pak yanto

Sapi perah milik pak Yanto sedang diambil susunya untuk kami minum

 

sarapan pagi dari kebun sendiri

Sarapan pagi yang bahan-bahannya alami langsung dari kebun pak Yanto

Keesokan harinya Hans datang sangat pagi ke turgo dengan beberapa orang teman baru lagi, ada mas Heru, mbak Rahma dan mas Alan. Kami disuguhi sarapan yang bahannya juga diambil dari kebun sendiri dan susu sapi yang baru saja diperah dari sapi milik pak Yanto. Karena saya tidak suka susu, maka saya minum teh hangat. Satu jam kemudian trekking pun dimulai, kami mengambil paket trekking dua jam yang dipandu langsung oleh pak Yanto. Kami berjalan beriringan menyusuri dusun sampai hutan. Sambil berjalan pak Yanto menjelaskan tentang beraneka macam flora dan fauna yang dijumpai di jalan. Sekitar sepuluh menit berjalan, kami mampir ke rumah tetangga pak Yanto yang mempunyai beraneka macam tanaman yang diambil dari hutan setempat. Ada berbagai macam anggrek cantik yang dipelihara di sana. Selain tanaman hias ada pula tanaman obat-obatan. Setelah puas melihat tanaman-tanaman, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan selepas dusun turgo lumayan berat karena kami harus melewati medan sedikit menanjak. Area yang kami jelajahi sekarang merupakan tanah milik pemerintah di bawah taman nasional gunung merapi, sehingga tidak ada rumah atau kebun yang boleh dibangun di sana. Kami kemudian melewati sebuah tempat yang dulunya merupakan taman wisata. Masih ada loket karcis beserta bungalow dan beraneka macam ayunan anak di dalamnya. Pak Yanto menjelaskan bahwa taman wisata tersebut ditutup karena dibangun di daerah rawan awan panas.

koleksi tanaman

Koleksi aneka macam tanaman hias yang diambil dari hutan merapi

guide pak yanto

Pak Yanto sedang menerangkan tentang aneka macam flora dan fauna di sepanjang trek yang kami lalui

Tak jauh dari taman wisata, kami memasuki sebuah kawasan hutan bambu. Berbagai macam tanaman bambu tumbuh di sana. Pak yanto menjelaskan tentang beberapa jenis bambu yang tumbuh di sana dan saya sudah lupa apa saja jenisnya😀. Yang unik adalah trek jalan setapak yang kami lewati seperti masuk dalam sebuah terowongan bambu nan panjang. Saya seakan berada di negeri oriental dengan kimono dan kemampuan kungfu maksimal (myeh!). Selepas terowongan bambu kami memasuki kawasan dengan rerumputan tinggi yang merupakan akhir dari trek turgo, karena tidak ada jalan lagi untuk lebih ke atas. Kami berhenti sejenak di sana untuk istirahat, makan makanan kecil dan minum sembari menunggu view puncak merapi yang saat itu tertutup awan. Setelah lama ditunggu, awan-awan itu tak jua beralih dari puncak merapi, membuat kami hanya bisa melihat lereng-lerengnya saja (huft). Setelah desperate pemandangan puncak susah terlihat, kami pulang melewati trek yang sedikit berbeda dari trek awal. Di jalan kami sering bertemu dengan para pengambil rumput yang juga merupakan tetangga pak yanto. Para pengambil rumput ini ternyata menggunakan sepeda motor melewati jalan setapak terjal (akrobat banget!). Terkadang kami harus menyingkir dari trek karena mereka mau lewat duluan. Sungguh hebat mereka! Mungkin pemain sirkus saja kalah😀. Di akhir trekking pak yanto menunjukkan rumah-rumah yang menjadi sasaran awan panas beberapa tahun yang lalu. Sampai di pondok alam desa, pak yanto kemudian memutarkan video tentang keganasan gunung merapi kepada kami.

menyusuri terowongan bambu

Menyusuri terowongan bambu

puncak merapi berawan

Puncak merapi yang sayangnya lagi tertutup awan

Cerita lain tentang trekking turgo by Mas Heru H klik di sini atau jika anda berminat menghubungi pak yanto dan menikmati keramahan dusun turgo klik di sini

PS : peristiwa dalam tulisan ini terjadi sebelum letusan dahsyat merapi 2010

Foto-foto di atas dari kamera Mas Heru Hendarto dan Bang Jainer Hasudungan

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

2 responses to “Trekking di dusun tertinggi se-Jogja, dusun Turgo

  1. apakah bisa solo hike disini, tanpa harus memakai pemandu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s