Hujan-hujanan sambil mendaki Gunung Merapi, atau mendaki Gunung Merapi sambil hujan-hujanan?

trek ke puncak merapi yang saat itu tertutup kabut

trek ke puncak merapi

Sudah lama saya tidak mendaki gunung. Tiba-tiba saja ada yang mengajak nanjak merapi untuk menghabiskan malam tahun baru. Awalnya saya sempat takut sudah tidak kuat mendaki lagi, maklum balung tuwo. Tetapi berhubung yang mengajak jauh lebih tua dari saya, maka saya positif ikut. Mendaki bersama orang-orang “berumur” jauh lebih menguntungkan dan menyenangkan daripada mendaki dengan anak-anak muda atau anak-anak mapala pada umumnya. Mengapa? Karena alasan mereka mendaki adalah untuk menikmati alam dan bersantai, bukan untuk cepat sampai ke puncak. Saya tipikal orang yang suka mendaki santai tanpa harus memikirkan sampai puncak atau tidak (baca: pendaki males😀 ).

Saya dijemput oleh mas heru dan mas alan di sebuah mall terbesar di jogja dengan mobil pribadi mereka, jadi tidak perlu capek naik motor atau naik kendaraan umum😀. Saya mengajak seorang teman perempuan yang sama sekali belum pernah mendaki gunung namun ingin mencoba naik gunung, namanya zoe. Saya tidak meragukan kekuatan fisiknya karena dia adalah pesepeda tangguh yang hampir setiap hari menggenjot sepedanya dari jogja ke universitas di kaki gunung merapi.

Sekitar jam 4 sore kami berangkat dari jogja ke arah klaten, lalu menuju ke selo boyolali. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih dua jam. Maghrib di selo, terasa dingin menusuk-nusuk karena waktu itu hujan turun tak henti-hentinya. Kami melapor ke pos pendakian dan membayar Rp 5000 per-orang sebagai retribusi untuk taman nasional gunung merapi. Setelah makan malam berupa mi instant plus telur yang sebenarnya tidak cukup memberi energi namun menggiurkan, di sebuah warung tak jauh dari basecamp, saya bersiap untuk mendaki.

istirahat sambil kehujanan

istirahat sambil kehujanan

Malam itu walaupun hujan deras, banyak pendaki yang tak mengurungkan niat untuk merayakan malam tahun baru di Merapi. Kebanyakan dari mereka sudah well prepared dengan jas hujan masing-masing. Kami pun tak mau kalah, kami segera memakai jas hujan dan melangkah sedikit demi sedikit bersama pendaki-pendaki lain. Sebelumnya saya memang pernah merasakan mendaki ketika hujan di gunung lawu, tetapi hujan berlangsung tidak lama. Di gunung merapi kali ini hujan serasa mengguyur terus-menerus tanpa henti. Tidak seperti kelompok pendaki lain kami berjalan lebih lambat dan sering istirahat (senangnya!). Kami sering diselip kelompok pendaki lain di trek yang sesekali menjadi jalan air hujan tersebut dengan sapaan hangat “permisi mas-mas kami lewat duluan yaa”. Saya pun sering disapa “permisi mas” berkali-kali. Saya tersadar tidak ada seorangpun yang memanggil saya “mbak” sepanjang pendakian ketika mengenakan jas hujan. Sepertinya jas hujan tersebut memang sukses menutupi jenis kelamin saya yang sebenarnya😀.

Sepanjang trek, yang memotivasi kami untuk segera sampai di pasar bubrah adalah jam tangan milik mas heru yang dilengkapi dengan altimeter (canggih!)😀. Sesekali mas heru membacakan ketinggian tempat yang kami pijak. Setiap kami istirahat ketinggianya bertambah beberapa puluh meter membuat kami tembah semangat untuk melanjutkan pendakian.

Hal yang menurut kami menyenangkan ketika mendaki merapi adalah bermain kode dengan lampu senter kepada para pendaki yang ada di gunung seberang, yaitu gunung merbabu. Kode-kode ini bukan kode yang berarti “sesuatu”, hanya kode yang berarti kurang-lebih “hey! saya ada di sini lho”😀 alias hal yang tidak penting tetapi menyenangkan (myeh). Trek merapi jalur selo ini, tidak seperti di gunung-gunung lain yang telah saya daki, saya tidak menjumpai pos-pos pendakian yang biasanya dibangun dengan kayu atau beton untuk beritirahat atau sekedar memasak makanan hangat. Di sepanjang trek juga tidak banyak terdapat tempat untuk mendirikan tenda kecuali di dekat pasar bubrah. Menurut saya trek tersebut seperti melintas di punggung gunung karena kanan-kirinya langsung bersinggungan dengan jurang.

memasak sarapan dini hari

memasak sarapan dini hari

melawan dingin dengan tarian :P

melawan dingin dengan tarian😛

my best shot in merapi

my best shot in merapi, merbabu and the cloud as background

Enam jam telah berlalu dan kami baru sampai beberapa meter di bawah pasar bubrah. Beruntunglah kami karena hujan telah berhenti. Hari itu masih gelap dan kami bersiap membuka lapak pribadi untuk memasak sarapan karena perut sudah tidak kuat lagi menahan lapar (baca : sarapan dini hari). Kami tidak membawa tenda, karena memang tidak berniat untuk kemping. Kami hanya menggelar matras dan jas hujan yang tadinya kami pakai di sela-sela bebatuan besar untuk menghindari angin. Nesting pinjaman dari teman saya pun telah siap untuk digunakan. Menu andalan sarapan saya saat itu adalah mi instant dicampur sosis instant serta beberapa kerat roti sebagai tambahan karbohidrat.

Sambil menunggu sunrise pagi itu saya masuk ke sleeping bag seperti kepompong untuk menghangatkan diri. Setelah lama menunggu, sunrise pagi itu sedikit mengecewakan karena tertutup bekas-bekas awan mendung semalam😦 . Akan tetapi pemandangan gunung merbabu yang saat itu bagian bawahnya tertutup awan malah terlihat lebih indah. Awan-awan tersebut bagaikan tumpukan kapas yang siap untuk diloncati😀 .

pasar bubrah

pasar bubrah

Pagi itu di pasar bubrah banyak sekali pendaki yang berkumpul dan mendirikan tenda. Jadi semalam yang senasib terguyur hujan dengan kami ada ratusan orang😀. Sebenarnya pagi itu saya berniat untuk mendaki sampai ke puncak bersama manusia-manusia lain yang mencoba mencari jalan di gundukan pasir dan batu tepat di atas pasar bubrah. Tetapi karena mas heru mengatakan bahwa itu akan menyita waktu sekitar tiga jam lagi, maka saya mengurungkan niat tersebut. Akhirnya setelah puas memandangi puncak merapi dari pasar bubrah, kami turun ke bawah sambil menikmati teriknya panas matahari. Semalam hujan-hujanan, paginya panas-panasan. Sekian dan terimakasih😀.

PS : Pendakian ini dilakukan pada taun baru 2009. Foto oleh mas heru hendarto

Transport umum ke selo – boyolali dari jogja : naik bis umum jogja-solo turun di terminal kartosuro, dilanjutkan dengan bis ke terminal boyolali, dari terminal boyolali ambil angkutan atau minibus ke selo. basecamp merapi terletak tidak jauh dari jalan raya.

3 Komentar

Filed under Berkelana di Gunung

3 responses to “Hujan-hujanan sambil mendaki Gunung Merapi, atau mendaki Gunung Merapi sambil hujan-hujanan?

  1. kok baru launching mba? kan acaranya 3 bulan kemaren🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s