Inilah kisah TKW jadi-jadian sebulan di Malaysia part 3 – The Malaysian-Indian Hospitality

pasar kapar

pasar kaget di daerah kapar

Kantor saya yang di Malaysia dulu, dihuni oleh orang-orang dari bermacam-macam suku. Ada orang Cina, Melayu, Nepal, Indonesia dan ada orang India. Kebetulan kami yang dari Indonesia dekat dengan adik-kakak India Sasi dan Shantini. Pada akhir pekan keluarga Sasi dan Shantini mengundang kami untuk makan malam di rumahnya. Wah, kami merasa senang sekali bisa makan gratis😀 .

sasi sedang membeli sayuran

beli sayur di pasar kapar

Sebelum kami menuju ke rumah Sasi yang letaknya lumayan jauh dari kantor, Sasi mengajak kami untuk jalan-jalan di pasar malam di daerah Kapar yang katanya hanya ada pada hari sabtu. Sekilas pasar dadakan itu tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar yang ada di Indonesia. Dari sayuran sampai jilbab lengkap dijual di sana. Adapula beraneka macam makanan yang dijual murah seperti mi goreng dan martabak, hanya saja mi goreng ini dimasak dengan wajan super besar bersamaaan kemudian dikemas satu-satu dengan stereofoam. Kami menyempatkan membeli beberapa barang, yang menurut kami harganya lebih murah daripada di Indonesia. Saya membeli sebuah selimut berbahan flanel lembut yang ukurannya cukup besar dengan harga 10 ringgit atau Rp 30.000 saja (*membayangkan andaikan bisa kulakan di sana :D). Teman-teman saya membeli beraneka macam kerudung dan jilbab dengan harga yang juga lebih murah. Yang membuat pasar ini terlihat berbeda dari pasar tradisional di jawa adalah banyaknya pedagang india yang menjual aneka keperluan para perempuan india, dari mulai bindi, gelang, sampai pacar untuk melukis di tangan. Mulanya saya ingin membeli bindi sekedar untuk iseng, tetapi sasi mencegah saya membeli karena dia bilang dia punya banyak barang seperti itu di rumah.

kuil india di kapar

ornamen patung di kuil india kapar

peribadatan di kuil india

peribadatan di kuil india

Yap setelah malang melintang di kawasan cina selama beberapa minggu akhirnya saya dapat merasakan kehidupan di daerah malay-india. Setelah kami puas berbelanja di pasar kaget itu, Sasi membawa kami dengan mobilnya menuju ke rumahnya. Di jalan kami melihat sebuah kuil hindu india yang sedang ramai dikunjungi orang untuk beribadah. Saya memita sasi untuk berhenti sejenak melihat kuil itu. Ketika kami turun untuk untuk mengambil gambar dan melihat peribadatan mereka, orang-orang yang sedang beribadah itu melihat aneh ke arah kami😀. Sasi kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa kami adalah orang Indonesia yang sedang jalan-jalan, dan akhirnya mereka memaklumi keberadaan kami di sana😀. Sebagai orang Indonesia yang baru pertama kali melihat kuil hindu india, tentu saja kami terlihat sangat excited dan gumunan (gampang terkagum-kagum). Saya bahkan merasa seperti sedang tidak berada di Malaysia, tetapi sedang berada di India.

makan bersama di tempat sasi

menyerbu makanan di rumah sasi

Sesampainya kami di rumah sasi, ibunya menyambut kami dengan hangat. Kami juga diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah itu. Keluarga sasi bercakap-cakap sehari-hari menggunakan bahasa india rumpun tamil, seperti kebanyakan malaysian-indian yang tinggal di malaysia. Ketika saya bertanya apakah dia mengerti bahasa india di film-film bollywood, dia menjawab bahwa dia tidak mengerti bahasa hindi seperti di film-film bollywood. Saya kira bahasa India dimana-mana itu sama saja , karena ekspresi mereka ketika bercakap-cakap terlihat sama.

Ibunya sasi kemudian menyuguhkan kami nasi lemak khas malaysia lengkap dengan beraneka macam lauknya. Serta beraneka macam makanan kecil khas indian-malaysia. Tentu saja kami memakanya dengan lahap😀. Setelah puas makan, sasi kemudian menunjukkan beberapa foto keluarganya dan foto-foto pernikahan ala india-malaysia. Dia juga bercerita tentang seorang etnis cina yang diangkat anak oleh keluarga india dan dibesarkan dengan cara india. Si anak yang kini sudah menjadi ibu-ibu ini kemana-mana mengenakan sari dan menikah dengan orang india. Anak-anak mereka disebut dengan cindien (cina-india), dan mukanya jadi mirip orang melayu😀.

chaiyaa chaiyaa

sudah jelas tidak mirip dengan orang india😀

Berawal dari cerita saya tentang kain sari yang diberikan oleh teman saya dari india, sasi kemudian menawari saya mengenakan sari yang biasanya ia kenakan di acara pesta-pesta. Kapan lagi saya bisa dipakein sari langsung sama orang india? Saya kemudian meminjam sarinya, dan ibunya mengajari saya bagaimana memakai sari yang benar. Tidak hanya itu, kedua kakak-beradik Sasi dan Santini, malam itu mendadani saya habis-habisan dengan cara india. Hasilnya? Lihat di foto! Hehe. Meskipun kulit saya gelap, mata saya sipit, jadi tetap tidak mirip dengan orang india😀 . Karena hari sudah malam, kami semua diantar oleh ayah sasi pulang ke komplek cina. Malam itu merupakan cultural experience yang berharga bagi kami. Full india lah pokoke😀

nongkrong di depan kuil india

nongkrong di depan kuil india

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s