Cruising Garut Selatan – Day 2

kebun teh bunisarilendra

kebun teh bunisarilendra

Hari ke-dua saya berada di rumah teteh di komplek PTPN cisompet, garut selatan, nan tenang menyejukkan dan penuh kedamaian ini (^__^), saya habiskan dengan mengunjungi beberapa tempat menarik di sana. Transport umum di sekitar daerah garut selatan berupa minibus dan colt, hanya menghubungkan beberapa ibu kota kecamatan saja, tidak sampai ke tempat yang akan menjadi tujuan kami, oleh karenanya teteh meminjam motor dari anak buah ayahnya supaya kami bisa blusukan (rada menggunakan kekuasaan sedikit :D).

sleeping in tea greenish

tea slope bunisarilendra

Tujuan pertama kami dengan motor pinjaman itu adalah perkebunan teh yang letaknya masih di kecamatan cisompet. Kebun teh yang bernama bunisarilendra (namanya keren yah?) terhampar luas berhektar-hektar hijau dan menyejukkan mata. Sebagai orang jogja yang jauuuh dari kebun teh, saya senang sekali berada di sana, sekedar menghabiskan waktu beberapa jam untuk tea-walking. Jalan di antara perkebunan teh yang mengarah ke perkampungan warga pemetik teh masih tersusun dari bebatuan a.k.a belum diaspal, jadi sedikit sulit untuk dilewati kendaraan bermotor, tetapi sangat asyik untuk bersepeda offroad. Untuk menuju ke perkebunan teh ini dari kota garut sangatlah mudah, tinggal naik angkutan umum jurusan pamengpeuk atau dengan kendaraan pribadi yang dipacu kira-kira 59 km ke selatan kota garut.

curug 7 neglasari

curug 7 neglasari dengan zoom maksimal kamera saya😀

Di sebelah selatan perkebunan teh ini terdapat perbukitan dengan hutan hujan tropis yang juga cukup luas. Jika dari arah selatan, di sela-sela hamparan hutan terlihat sebuah air terjun yang bertingkat-tingkat. Karena penasaran saya dan teteh mencoba menerabas hamparan teh untuk sampai ke air terjun ini. Setelah setengah jam mencari-cari jalan, kami tidak berhasil sampai, malah semakin terjebak di dalam labirin kebun teh tiada akhir. Dari tempat kami berdiri saat itu, air terjun yang konon memiliki 7 tingkat itu, terlihat sangat dekat. Karena keputus-asaan, kami tidak melanjutkan mencari jalan ke air terjun, cukup mengambil foto air terjun dari jauh saja L. Usut punya usut ternyata nama air terjun tersebut adalah curug 7 neglasari, ada yang tahu jalan tembus ke air terjun ini? Saya sudah tanya ke penduduk setempat mereka juga bingung😀.

pantai sayang heulang

pantai sayang heulang

jembatan gantung sayang heulang - santolo

jembatan gantung sayang heulang – santolo

Setelah puas melihat yang “hijau” kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan sampai ke yang “biru” dengan waktu tempuh 45 menit . Kali itu samudra biru nan luas terhampar di hadapan kami. Kami berada di sebuah pantai yang bernama sayang heulang. Sayang heulang merupakan salah satu pantai yang juga terkenal di kawasan garut selatan. Pantai ini memiliki pasir putih, bebatuan karang cadas dan ombak yang ganas. Jadi jangan coba-coba menggoda ombak di sana😀. Yang menarik dari sayang heulang, dan mungkin tidak terdapat di tempat lainnya adalah sebuah jembatan gantung kuno yang berada di sisi barat pantai. Jarang kan ada jembatan gantung di pinggir pantai? Jembatan gantung ini menghubungkan antara kawasan sayang heulang dengan pulau santolo. Menurut saya spot yang satu ini sangat cocok untuk pemotretan pre-wed😀. Saking sukanya saya dengan tempat ini saya sampai memenuhi memory card kamera saya dengan jepretan-jepretan obyek ini.

feel europe? try it in pamengpeuk

feel europe? try it in pamengpeuk

pantai cijeruk indah

pantai cijeruk indah

pantai cijeruk indah

feel amazon? try it in cijeruk indah

Setelah puas di sayang heulang, saya dan teteh kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur, melewati berkilo-kilo meter perkebunan karet. Saya merasakan suasana sedikit berbeda di sini, seperti di eropa!😀. Pohon-pohon karet yang ujung-ujung daunnya berwarna kecoklatan dan meranggas tertiup angin ini seperti membawa suasana musim gugur di mata saya😀. Selepas perkebunan karet, kami berbelok ke arah selatan. Terdapat gapura dengan tulisan pantai cijeruk indah menyambut kami. Mulanya saya sedikit kuatir karena kawasan ini sepi sekali dan hanya terlihat beberapa orang kembali memancing dari pantai. Tetapi karena kami sudah mempertaruhkan waktu 30 menit perjalanan dari sayang heulang, kami bertekad untuk sampai ke pantai cijeruk, walaupun kami harus menyebarang muara dengan berjalan kaki. Berbeda dengan pantai sayang heulang, pantai cijeruk berpasir gelap, abu-abu kecoklatan (coba bayangkan saja :P). Waktu saya dan teteh berada di pantai, tidak ada seorangpun pengunjung yang ada di sana kecuali kami. Hanya terlihat kawanan sapi yang sedang digembalakan di seberang muara. Saya sedikit amazed karena sapi-sapi yang digembalakan tidak hanya beberapa ekor, tapi berpuluh-puluh ekor! Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nanti penggembalannya menggiring mereka masuk kandang satu per satu. Suasana cijeruk yang sepi ditambah hamparan hutan yang terlihat masih perawan di sekitarnya dan sapi-sapi itu membuat saya merasa berada di kawasan amazon😀. Kami tidak berlama-lama di cijeruk karena tak terasa matahari sudah hampir terbenam, dan kami harus menghabiskan waktu satu jam untuk kembali ke kecamatan cisompet.

Dan perjalanan hari itu berakhir pada dua kotak martabak manis yang kami beli di pamengpeuk untuk si bapak si empunya motor. Terimakasih bapak!😀

penggembalaan sapi di pantai cijeruk

penggembalaan sapi di pantai cijeruk

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s