Pulau sempu , heaven in hell

sempu 7

good morning sempu!!

Judulnya rada ekstrim ya? Tapi sumpah demi apa, perjalanan saya ke pulau sempu waktu itu memang membuat saya trauma. Saya hanya mau balik ke laguna indah pulau sempu jika dan hanya jika keadaannya benar-benar sempurna! Atau jikalau keadaanya tidak sempurna paling tidak saya bisa menghabiskan waktu di laguna selama minimal 3 hari dan harus sewa porter😀. Apakah keadaan tidak sempurna di pulau sempu itu? Silahkan lanjut baca ke bawah.

Alkisah waktu itu teman-teman traveler dari couchsurfing malang mengadakan acara kemping di pulau sempu selama 2 hari 1 malam. Saya sebagai warga jogja yang memang benar-benar ingin melihat keindahan laguna pulau sempu, dengan semangat juang berangkat ke malang dengan kereta malabar kelas ekonomi bersama 3 orang rekan traveler dari jogja. Di dalam kereta kami bertemu 4 orang peserta lain dari bandung. Waktu itu sepertinya kereta berjalan lebih lambat dari biasanya, maka kami sampai di kota malang lumayan kesiangan. Sampai di kota malang, teman-teman couchsurfing malang menyambut kami dengan suka cita dan langsung membawa kami sarapan pagi dengan nasi madura yang rasanya maknyoos (full of jeroan)😀 . Hari pertama dalam hidup saya berada di kota malang, kami habiskan untuk sekedar putar-putar kota dan hang out dengan teman-teman baru. Malamnya, kami menginap bersama-sama di rumah teman kami, yang terkenal sebagai basecampnya anak-anak CS malang.

Ketika pagi menjelang, seluruh peserta kemping harus sudah siap sedia jam 6 pagi untuk ke pulau impian kami. Sang pemimpin ekspedisi kali itu adalah agung, yang telah mengatur strategi perjalanan dari malang sampai ke pantai sendang biru dengan cara backpacker a.k.a menggunakan angkot. Angkot pertama yang kami naiki adalah angkot jurusan malang-turen yang sangat penuuuh sesaak oleh penumpang (untung saya tidak kehabisan nafas di dalamnya, Alhamdullilah..). Angkot berikutnya adalah angkot jurusan turen-sendang biru yang juga masih penuh sesak penumpang. Tidak hanya itu, jalan naik turun dan berkelok-kelok sepanjang jalan ditambah cara menyetir si supir yang ala pembalap F1 sebenarnya berpotensi tinggi untuk memabukkan penumpang-penumpangnya. Untung saja tidak ada satupun dari penumpang yang muntah, karena saya gampang muntah ketika melihat orang muntah *ewwh.

sendang biru

pantai sendang biru yang penuh dengan perahu nelayan

perahu sempu

bersiap menyeberang ke pulau sempu

Setelah kira-kira mengarungi 70 km jalan dan menghabiskan waktu 2,5 jam, sampailah tim ekspedisi kami di pantai sendang biru yang saat itu sedang terguyur hujan. Sebagai peserta kemping yang baik, maka kami melapor ke pos kehutanan yang ada di pantai sendang biru. Kami mendapatkan ceramah dan himbauan untuk menjaga kelestarian alam pulau dengan luas 800 hektar itu. Sebenarnya untuk memasuki cagar alam pulau sempu yang dilindungi oleh negara tidaklah segampang ini, pengunjung tidak boleh begitu saja menginjakkan kaki ke pulau sempu. Pengunjung harus mengajukan proposal tertulis dengan tujuan jelas ke dinas kehutanan yang ada di Surabaya. Tetapi sepertinya memasuki kawasan pulau sempu tanpa adanya proposal sudah menjadi kebiasaan. Asalkan para kempingers berjanji untuk tidak meninggalkan sampah dan merusak hutan, maka ijin dari pos setempat pun bisa keluar.

teluk semut

sudah sampai di teluk semut, action dulu! mukanya masih ceria, baju masih bersih

tosca water

air laut di teluk semut yang berwarna tosca

Pulau sempu sebenarnya hanya terletak beberapa ratus meter dari pantai sendang biru, tetapi untuk menuju ke sana tentu saja kami harus menyewa perahu dengan harga sewa Rp 100.000 per perahu. Waktu itu kami menyewa 2 perahu, karena jumlah kami ada 25 orang. Perahu ini pulalah yang akan menjemput kami keesokan harinya untuk kembali berlayar ke pantai sendang biru. Meskipun mendung masih menggantung dan sesekali gerimis turun, wajah-wajah peserta perkemahan sabtu minggu ala pramuka ini nampak ceria dan sumringah. Beberapa menit kemudian kami mendarat di teluk semut, sebuah teluk mini dengan batu karang dan pasir putih di bagian utara pulau sempu. Air laut berwarna tosca di tepian teluk semut membuat saya menelan ludah karena segera ingin turun ke air dan berenang bersama ikan-ikan (eh salah ekspresi). Dari teluk semut inilah trek sepanjang 2,4 km akan kami lalui menuju laguna impian kami. Pukul 12 siang lebih sedikit kami mulai menyusuri trek, baru beberapa langkah mengijakkan kaki di trek sempu, saya sudah jatuh terpeleset.

muddy

welcome to the muddy trek!

muddy 2

kurang berlumpur apalagi?

muddy 3

lulur lumpur ala pulau sempu

muddy 4

di balik kubangan lumpur terdapat batu karang tajam jahanam

Beberapa hari sebelum ke pulau sempu, saya mengumumkan keberangkatan saya ke teman-teman petualang saya. Salah seorang diantaranya menyarankan saya untuk tidak berangkat karena trek sempu sedang menjelma menjadi kubangan lumpur, karena musim hujan yang terjadi beberapa bulan ini. Bagi saya yang waktu kecil sering bermain di sawah berlumpur dengan bertelanjang kaki, tentu saja hal ini tidak akan menjadi masalah, pikir saya waktu itu. Ternyata setelah saya berhadapan langsung dengan trek sempu, pikiran saya benar-benar salah!

Di bawah lumpur sawah di sekitar rumah saya masih ada lumpur, atau paling tidak ada tanah halus yang nyaman untuk berpijak. Nah kalau di bawah trek lumpur pulau sempu ada apa saja? Ada banyak benda-benda tak terduga yang dengan mudah bisa melukai telapak kaki anda. Yang paling durjana dinamakan batu karang tajam! Yang lumayan durjana adalah ranting-ranting dan duri-duri tajam. Gobloknya saya, karena buta terhadap medan, saya tidak membawa sepatu, melainkan sendal jepit yang memang sengaja tidak saya pakai karena saya memang berniat bertelanjang kaki (lu kira jalan di sawah?). Beban backpack yang saya gendong di punggung kira-kira 10 Kg lebih, berisi persediaan makanan kalengan instant, air 4 liter, nesting tentara dan kebutuhan pribadi lainnya. Lumayan berat untuk wanita lemah lembut di trek yang menurut saya lebih kejam dari trek pendakian gunung merapi😀.

muddy 5

maskotnya kelompok keong

Pada menit-menit awal menyusuri trek, tim kami masih solid, 25 orang berjalan berurutan mengarungi lumpur. 10 menit kemudian, terbuktilah siapa yang berjalan cepat dan siapa yang lambat. Saya termasuk di grup yang lambat *bangga*. Paling tidak kelompok pejalan lambat kami punya nama, yaitu kelompok keong. Kelompok keong kami terdiri dari beberapa anak-anak muda yang sebenarnya bisa berjalan cepat. Tetapi karena mereka bertanggung jawab membawa beberapa jerigen besar air tawar, terpaksalah mereka berjalan lambat juga. Selain para pemuda ini, terdapat pula beberapa manula dengan berat backpack antara 8-15 Kg, termasuk saya😀. Ada juga seorang pemudi yang mungkin tidak berniat ke pulau sempu, tetapi karena ia mendapat dukungan penuh dari teman-temannya maka berangkatlah ia ke kubangan lumpur yang tidak diinginkan.

Sepanjang trek, kami bertemu dengan beberapa pemuda-pemuda kuat yang terus saja menyelip langkah-langkah kami. Tidak hanya mereka, sekelompok bapak-bapak pemancing ikan dengan santainya melewati kami menggunakan sepatu bot yang membuat mereka leluasa mengarungi lumpur berkarang. Aaaaah seandainya saya bersepatu bot, saya juga bisa berjalan secepat itu!! *envy. Kubangan lumpur super licin penuh dengan karang dan bebatuan tajam sedikit demi sedikit kami lalui dengan bercanda, tertawa, bernyanyi dan mengumpat (yang ini yang paling banyak). Tidak ada satupun dari pakaian yang kami kenakan yang tidak terkena cipratan lumpur, semuanya kotor total. Beberapa meter sebelum laguna sempu, kami harus menyeberang jembatan yang super licyiiin, karena batang-batang kayunya sudah terbalut lumpur dengan sempurna. Untuk menghindari kelicinanya, saya bahkan memilih melewati jalan bawah jembatan itu. Selepasnya, terlihatlah laguna sempu dari trek kami. Laguna berwarna biru yang begitu menggoda iman. Rasanya saya ingin berenang saat itu juga, meninggalkan trek. Saya pikir tempat berkemah kami sudah dekat. Ternyata saya masih harus menyusuri trek di sepinggir laguna untuk sampai ke sana. Karena kecapean dan putus asa, maka saya duduk-duduk di pinggir trek dengan lemas. Untung saja beberapa detik kemudian, bala bantuan datang membawakan backpack saya😀.

finally sempu

finally! sampai ke laguna setelah 5 jam!

Dan sampailah saya di segara anakan pulau sempu, laguna impian saya, setelah 5 jam berjalan! Bayangpun 5 jam!, padahal waktu tempuh normal dari teluk semut ke laguna adalah 1,5 sampai 2 jam. Dengan keadaan yang tak karuan penuh lumpur, kelompok keong kami berlari-lari dan berlompatan di pasir putih, seolah kami menemukan surga😀. Sembari menunggu teman-teman yang mendirikan tenda, saya menceburkan diri ke laguna untuk membersihkan celana dan kaos saya yang terkena lumpur parah (percuma juga sih, keesokan harinya saya kan juga kena lumpur lagi).

tenda sempu 2

tenda-tenda di sekitar segara anakan sempu

Di sepinggir laguna sempu, tidak hanya kelompok kami saja berkemah di sana, banyak juga kelompok lain meramaikan suasana (yaa namanya juga malam minggu). Ketika hari menjelang sore, air pasang mulai naik ke permukaan sepinggir laguna yang berpasir putih, membuat kami lebih antusias untuk bermain air sore itu.

Menjelang malam, kami bersama-sama menggelar matras dan mantol di pinggir laguna sembari tidur-tiduran melihat ke arah langit (sok rokmantis). Untung saja nasib baik sedang berpihak kepada kami malam itu. Langit malam itu cerah sekali penuh bintang (cie). Tidak hanya bintang statis saja yang berkerlap-kerlip di atas sana, bintang-bintang jatuh dramatis dengan berbagai ukuran menghiasi langit malam itu. Sesekali kami bersorak-sorai bak anak paud melihat kembang api di malam tahun baru.

sempu 1

laguna sempu dilihat dari bukit karang

Paginya, saya memanjat bukit karang yang ada di belakang perkemahan kami untuk melihat laut lepas samudra hindia yang ombaknya sangat ganas. Selanjutnya saya mempolkan diri (bahasa apa ini?) untuk berenang di laguna yang ketika pagi hari airnya terlihat bening berkilauan. Sesekali saya meminjam snorkle kawan untuk melihat biota laut di bawahnya. Lumayan banyak ikan berwarna-warni berenang di sebelah selatan laguna, karena banyak terdapat batu karang di sana. Setelah capek berenang, saya bersantai di atas pasir putih sambil melihat air mancur yang berada di ujung laguna. Air mancur ini merupakan celah penghubung antara samudra dengan laguna sempu yang terkadang memuncratkan air laut dengan volume cukup besar. Pengunjung laguna tidak diperbolehkan untuk mendekati celah ini karena sangat berbahaya.

sempu 2

finally! i’m in sempu lagoon

Waktu berkemas tiba, kalau dihitung-hitung saya hanya berada di laguna ini kurang dari 18 jam! Rasanya saya tidak mau meninggalkan tempat ini, kurang lama! Apalagi saya harus berhadapan dengan kubangan lumpur dengan karang-karang tajam lagi. Oh No!

Saya tidak akan kembali lagi ke sini, setelah saya tahu kalau berkunjung ke pulau ini hanya akan merusak kawasan ini.

sempu 6

Selamat tinggal sempu lagoon!

1 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

One response to “Pulau sempu , heaven in hell

  1. subhannallah apik tenan mbak kui,,, artikel2 mbaknya josss jadi ngiler saya mbak pengen kesana kemari mbok ya saya diajak mbak hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s