Memanjat mercusuar pandansari, ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa

pandansari beach

sunset silau di pantai pandansari

Semua berawal dari sebuah sms saya ke mbak yayuk tentang betapa bosannya saya di rumah. Saya terpikir untuk pergi ke mercusuar pantai pandansari untuk memaksimalkan fungsi kamera saya sebagai alat pengambil gambar sembari menunggu adzan maghrib untuk berbuka puasa. Sudah beberapa tahun saya tidak ke pantai itu untuk sekedar mengambil foto. Karena waktu itu mbak yayuk juga ingin escape keluar kota jogja sejenak, maka pada keesokan sorenya kami sepakat berangkat naik motor ke arah bantul.

Kami berangkat pukul 3 sore dari jogja. Kami sepakat akan berbuka puasa di pantai kuwaru, sebuah pantai yang sekarang sedang populer bagi masyarakat Jogja dan letaknya tidak jauh dari pantai pandansari. Meskipun demikian saya masih takut kekurangan makanan, maka sembari jalan saya mampir membeli makanan untuk berbuka puasa. Dikarenakan takut warung di pantai kuwaru keburu tutup. Saya bingung makan apa. Kemudian saya membeli satu set junk food lengkap dengan junk drinknya, saya yakin ini akan membuat saya kenyang maksimal. Mbak yayuk masih bingung akan membeli makanan apa untuk berbuka. Sampai di bantul kota, saya melihat beberapa penjual takjil di depan kantor pos bantul. Kami berhenti di sana dan mbak yayuk membeli beberapa makanan dan minuman sebagai pengganjal perut sebelum main course. Oya saya juga beli lagi dink!😀.

Saya kemudian tancap gas ke arah selatan, sampai menemukan pertigaan yang ada plang bertuliskan pantai pandansimo ke arah kanan. Sebenarnya akan lebih mudah jika kami lurus saja sampai di gapura pantai samas, namun waktu itu kami menghindari loket retribusi untuk berhemat😀. Beberapa lama kami di jalan ke arah pandansimo itu, kami tersasar karena kesoktahuan kami, untung di tengah desa yang mentok tidak ada jalan beraspal itu, ada seorang bapak yang dengan baik hatinya menunjukkan jalan.

gua cemara

gua cemara

Jalan ke arah pantai pandansari kini sudah beraspal mulus, tidak seperti terakhir kali saya ke sana pada tahun 2008. Di kanan kiri saya sekarang terhampar padang pasir abu-abu yang sudah tertutupi hijaunya tanaman. Terlihat juga beberapa areal pesawahan yang lahannya didapat dari hasil pengerukan pasir. Banyak juga pohon jambu mete nangkring di sepanjang jalan. Sayang belum musim, jadi tak ada buah satupun yang bisa dipetik. Semua itu begitu menyejukkan mata kami. Sebelum pantai terdapat beberapa petilasan kejawen yang telah diberi papan nama dan jalan setapak putih menuju ke beberapa lokasi ang dianggap keramat.

Kami memarkir motor di sebuah warung bambu yang tepat berada di sebelah timur komplek mercusuar milik departemen perhubungan itu. Sebelum kami melaksanakan niat memanjat mercusuar, kami berjalan sejenak di pantai. Pengunjung hari itu hanya sedikit, tidak lebih dari dua puluh orang. Nama pantai pandansari terinspirasi dari banyaknya tumbuhan pandan laut di sekitar pantai. Namun kini di sepinggir pantai juga banyak ditumbuhi pohon cemara udang nan rimbun. Antara satu cemara dengan yang lain seperti berkaitan membentuk terowongan cemara. Tak heran ada sebuah pantai yang letaknya dekat dengan pantai pandansari dinamai pantai gua cemara.

the lighthouse

mercusuar pantai pandan sari

Beberapa saat yang lalu mercusuar yang dibangun pada tahun 1998 itu pernah ditutup untuk umum, karena alasan keamanan. Namun sekarang kami bisa menaikinya kembali dengan cara meminta ijin kepada petugas jaga mercusuar. Kami membayar Rp 5000 untuk dua orang. Bapak penjaga yang sepertinya berasal dari Indonesia timur itu lalu membukakan pintu besi mercusuar untuk kami.

Saatnya mendaki!😀 . Satu persatu tangga besi melingkar kami naiki. Lumayan berat untuk orang yang sedang berpuasa, karena tenaga yang keluar tidak bisa digantikan dengan air minum saat itu juga. Di setiap lantai mercusuar terdapat dua buah jendela kecil, angin yang berhembus dari jendela itu lumayan mengurangi rasa capek kami. Setelah delapan tangga melingkar kami naiki, sampailah kami pada tangga terakhir berbentuk tangga panjat yang kira-kira tingginya 3,5 meter. Tangga panjat tersebut juga terbuat dari besi, tetapi pada ujung bawahnya terlihat mengkhawatirkan karena sudah berkarat dan putus kedua ujungnya. Kami sempat takut, tapi bermodal nekad kami tetap naik. Saya naik duluan, kemudian mbak yayuk menyusul. Saya baru sadar kalau mbak yayuk takut ketinggian. Dia memanjat dengan sangat pelan dan telapak tangan serta kakinya berkeringat.

pandansari beach

pemandangan pesisir dari atas mercusuar

padang hijau pantai pandansari

padang pasir yang kini telah hijau

Sampai di puncak mercusuar terdapat sebuah ruangan kecil tempat lampu suar berwarna biru yang memiliki tiga buah sudut lampu. Di luar ruang lampu tersebut terdapat sebuah balkon melingkar yang dipagari besi setinggi dada saya. Pintu keluar ke balkon tampaknya sudah rusak dan berkarat, jadi harus berhati-hati ketika membuka-tutup pintunya. Angin di atas ketinggian 40 meter tersebut sangatlah kencang. Kami sesekali harus berpegangan karena takut kehilangan keseimbangan. Akan tetapi kencangnya angin dapat dengan mudahnya dikalakan oleh panorama indah yang terlihat dari atas. Di sebelah selatan kami bisa memandangi laut luas dengan horizon yang berbatas langit. Di sebelah utara terdapat pemandangan padang pasir yang sudah tertutup hijaunya pepohonan. Bukit-bukit yang mengelilingi daerah jogja terlihat jelas bila cuaca cerah. Pesisir pantai selatan yogyakarta juga tampak terlihat menarik dari atas, karena warna laut di beberapa bagian pantai berbeda. Ada yang berwarna biru tua, biru muda, kemerahan dan kecoklatan. Jika anda beruntung ketika cuaca cerah di sekitar bulan agustus-desember, anda akan dapat menikmati sunset yang indah dari lantai teratas mercusuar ini.

Hampir maghrib. Kami memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanan ke pantai kuwaru untuk berbuka puasa. Mbak yayuk mengumpulkan semua keberaniannya untuk menuruni tangga panjat. Salute to her!😀. Di pantai kuwaru pasar ikan masih buka dan kami membeli sekilo kerang seharga Rp 12.000 untuk dimakan berdua.

Secuil info pantai pandansari

  • Parkir motor Rp 2000.
  • Tidak ada tiket masuk jika anda dari desa gadingsari.
  • Tiket masuk jika melewati loket pantai samas Rp 3500/orang.
  • Jika anda ingin menaiki mercusuar, hubungilah petugas jaga yang tinggal di rumah dinas di komplek mercusuar. Tidak ada tarif resmi namun terdapat dana sukarela minimal Rp 5000/ 2 orang.

Arah :

jogja – jalan bantul – kota bantul – bambanglipuro – celep – sanden/samas

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s