Waktu itu di Kokop, Madura

Narsis sebelum pulang dari Kokop

Narsis sebelum pulang dari Kokop

Saya tidak pernah menyangka akan dikirim ke pulau madura untuk sebuah tugas penelitian tentang sanitasi. Menurut saya ini pengalaman yang sangat menantang. Sewaktu pertama kali saya memasukkan surat ijin di kantor bakesbangpolinmas kabupaten bangkalan, mereka begitu amazed melihat saya seorang wanita sendirian naik motor dari surabaya ke bangkalan. Mereka lebih kaget lagi ketika saya mengatakan bahwa tim penelitian saya akan tinggal di daerah kecamatan arosbaya selama satu minggu dan di daerah kokop selama satu minggu. Kecamatan arosbaya letaknya tidak jauh dari pusat kota bangkalan, tetapi kecamatan kokop letaknya masih sekitar 1,5 jam dari kota. Yang membuat saya terhenyak adalah mereka mulai bercerita tentang daerah-daerah rawan yang ada di sekitar bangkalan. Mereka bilang saya harus hati-hati, setelah maghrib lebih baik saya berada di dalam rumah. Bahkan beberapa di antara karyawan bakesbangpolinmas bilang kalau mereka tidak pernah sampai ke daerah kecamatan kokop karena itu merupakan daerah pelosok, jauh dari mana-mana dan sudah berbatasan dengan kabupaten sampang. Saya malah jadi penasaran, seperti apa daerah kokop ini, karena dari pihak kantor pemerintah setempat sendiri menganjurkan saya ke sana paling tidak bersama seorang teman laki-laki demi keamanan. Sehari kemudian saya mengantarkan surat ijin penelitian langsung ke kantor kecamatan kokop ditemani seorang teman lelaki saya. Lumayan jauh juga 2 jam dari kota Surabaya. Kantor kecamatannya mudah dijangkau dari jalur aspal utama. Bapak camat menyambut saya dengan baik, ia kemudian memperkenalkan saya kepada kepala-kepala desa yang ada di kecamatan tersebut. Dari beberapa desa saya harus mengambil 3 desa sebagai sampel daerah penelitian. Masing-masing desa diambil sampel satu dusun. Waktu itu saya tidak bisa memutuskan sendiri desa mana yang harus diambil sebagai sampel. saya harus menelepon institusi penelitian saya terlebih dahulu. Setelah hasil sampelnya keluar, saya harus mengantarkan surat ijin penelitian langsung ke kepala desa. Ternyata 3 desa yang terpilih menjadi sampel letaknya masih jauh dari pusat kecamatan. Saya disarankan untuk memakai jasa ojek oleh pak camat untuk mengantarkan saya ke tiga desa tersebut yaitu desa kokop, desa bandang laok dan desa katol timur. Teman lelaki saya bersikukuh untuk mengantarkan saya ke salah satu desa tersebut. Ternyata apa yang dikatakan pak camat ada benarnya. Jalan dari Kecamatan sampai ke desa katol timur rusak parah, lubang di mana-mana. Selain itu karena waktu itu musim hujan, lumpur menggenangi beberapa ruas jalan. Teman saya kemudian kapok mengantarkan saya. Hari berikutnya saya menyewa ojek untuk ke desa bandang laok dan desa kokop. Jalannya waktu itu lebih parah dari jalan ke desa katol timur. Selain rusak, konturnya yang berupa perbukitan menciptakan tanjakan dan turunan tajam yang berbahaya. Saya kagum sekali dengan bapak ojek yang mengantarkan saya. Hebat sekali dia, offroad dengan motor bebek memboncengkan saya. Saya disambut dengan baik di semua desa yang menjadi sampel penelitian saya.

Rumah adat di Kokop Madura

Rumah adat di Kokop Madura

Saya kembali ke Bangkalan satu minggu kemudian bersama 3 orang rekan penelitian saya, 2 orang perempuan dan satu orang laki-laki. Minggu ke dua kami  penelitian adalah hari-hari yang sangat menarik. Kami tinggal di sebuah rumah kepala dusun di desa bandang laok sebagai base camp kami. Untuk  mendatangi setiap responden yang menjadi sampel penelitian kami, kami tidak bisa menggunakan kendaraan apapun. Karena kebanyakan rumah-rumah yang berada di kecamatan kokop ini melalui jalan setapak, meskipun letaknya sangat jauh dari jalan utama. Sebagai gadis kota (jiaah) saya tidak habis pikir bagaimana kalau para warga ini harus pergi ke pasar, pergi berbelanja ke toko, atau ke sekolah ,mereka harus jalan kaki dulu berkilo-kilo meter terlebih dahulu. Karena waktu itu musim hujan dan hujan terkadang turun dengan deras jalan-jalan setapak itu kemudian berubah menjadi kubangan lumpur dan licin. Tidak ada satupun dari kami yang pulang ke base camp dengan keadaan bersih. Kaki kami pasti full tanah liat dan celana kami sangat kotor. Meskipun sekotor apapun, saya tidak sempat mencuci celana saya karena esok harinya juga belum tentu kering. Akhirnya saya memakai celana itu berhari-hari dan membiarkan tanah liatnya mengering. Saya menggantungkan celana saya di luar rumah bak celana petani yang digantung sehabis membajak sawah. Tuan rumah kami, bapak kepala dusun adalah orang yang sangat ramah dan baik hati. Setiap ada masalah ia selalu membantu menyelesaikan persoalan kami di lapangan. Setiap pagi dan malam Ibunya memasakkan kami makanan lokal yang biasa dimakan oleh penduduk setempat. Makanan sederhana tetapi rasanya lezat. Penduduk di desa ini kebanyakan memasak lauk dari hasil kebun mereka sendiri seperti daun bayam, terong, daun singkong dan kangkung. Mereka juga suka makanan pedas, jadi setiap menyajikan makanan mereka selalu menyediakan sambal. Sarapan pagi kami adalah singkong rebus yang disajikan dengan sambal khas mereka. Meskipun sederhana, rasanya sangat enak. Saya sendiri kalau mencoba membuat singkong rebus dengan sambal seotentik itu, rasanya tidak sama atau mendekati. Meskipun sate ayam adalah makanan khas madura, di daerah kokop ini amat sangat jarang ada penjual sate, hanya di ibukota kecamatan saja. Jadi kami harus menahan diri jika kangen makan sate ayam.Hal menarik yang terdapat di desa-desa kecamatan kokop adalah suasana pedesaannya yang masih sangat kental dengan rumah-rumah adat kayunya yang masih terjaga dengan baik. Hal unik lain yang saya temui di Kokop adalah, di sana penduduk setempat menguburkan anggota keluarganya di samping rumah. Jadi ketika saya berjalan menyusuri desa dan rumah-rumah saya pasti melewati makam-makam. Saya agak takut juga melewati makam-makam ini bila hari agak gelap, tetapi bapak basecamp saya selalu berpesan bahwa tidak ada hantu di makam-makam tersebut. Mungkin karena mereka sudah terbiasa melihat pusara makam ada di mana-mana maka mereka sudah tidak takut lagi. Seminggu setelahnya, kami berhasil menyelesaikan target penelitian kami, dan kami harus segera pulang ke Jogja. Pengalaman di Madura ini kemudian membuat saya berpikir, seandainya saja tempat-tempat seperti ini bisa dikembangan sebagai desa wisata dengan konsep yang menjunjung kearifan lokal, pasti akan sangat menarik. Apalagi sebenarnya pedesaan di kecamatan Kokop ini termasuk tidak jauh dari kota Surabaya yang hingar bingar. Menyepi dan menepi sambil merasakan aktifitas masyarakat lokal pasti akan memperkaya pengetahuan dan menyegarkan kembali pikiran kita.

Watch my amateur Video here :

 

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s