Berburu kain tenun di pasar kota Waingapu

Tugu Kota Waingapu

Landmark Kota Waingapu

Setelah terbang selama satu setengah jam dan pesawat yang saya tumpangi mampir sebentar di kota maumere, sampailah saya di pulau Sumba. Pulau yang tidak saya sangka bisa saya datangi dengan gratis *hehe*. Yak, salah satu tujuan tugas saya ada di kota waingapu, sumba timur. Saya dan dua orang rekan kerja saya memang tidak bisa seenaknya jalan-jalan muter-muter pulau sumba mendatangi tempat-tempat eksotis di sana, karena kami hanya memiliki waktu yang sangat terbatas. Tetapi setidaknya, setelah pekerjaan saya dan rekan saya beres, kami bisa muter-muter kota waingapu sekedar untuk melihat pantai yang paling dekat dengan kota dan pasar.
Pasar selalu menjadi destinasi paling menarik ketika saya mengunjungi suatu daerah baru untuk melihat apa saja perbedaan antara barang-barang yang dijual di sana dan tentu saja untuk melihat kultur penduduk setempat. Selain itu, saya juga punya tujuan lain, yaitu berburu kain tenun khas NTT. Jika saya mempunyai uang lebih, saya selalu mengusahakan untuk membeli kain khas daerah tertentu dan mengkoleksinya di rumah dan saya selalu berusaha mencarinya di pasar lokal, bukan di sentra oleh-oleh, karena harganya bisa lebih murah.
Siang itu pasar kota waingapu terlihat lengang, mungkin karena pengunjungnya lebih ramai di pagi hari. Walaupun lebih sepi pembeli, pasar ini tetap buka sampai menjelang sore hari. Para penjualnya menunggu pembeli sambil beristirahat siang. Yang di jual di pasar ini bermacam-macam, hanya saja penjual sirih pinang tampak lebih menonjol daripada penjual sayur-mayur. Tampaknya budaya mengunyah sirih dan pinang masih kental di kalangan masyarakat setempat. Selain sirih pinang, hal yang terlihat unik menurut saya adalah cabe rawit super mini, yang ukuranya jauh lebih kecil dari cabe rawit biasa. Konon katanya rasanya jauh lebih pedas dari cabe rawit biasa. Tentu saja saya tidak berani mencobanya karena saya tidak terlalu suka tersiksa karena pedas. Saya percaya saja deh, itu pedas banget.
cabe rawit mini pulau sumba

cabe rawit mini pulau sumba

Setelah berputar-putar pasar dan melihat beberapa lapak kain tenun, saya mendatangi salah satunya yang terlihat bervariasi motif kainnya. Si penjualnya seorang mama-mama menerangkan bahwa kain tenunnya ada yang dari sumba, ada pula yang berasal dari pulau sabu. Sebuah pulau yang letaknya di antara Sumba dan Rote. Kain-kain sarung yang digantung berjajar dengan motif sangat unik dan indah ini merupakan buatan pulau sabu, sedangkan kain yang bentuknya seperti syal adalah buatan Sumba. Mama yang mempunyai nama Nancy ini kemudian menerangkan bahwa kain-kain ini masih ditenun dengan cara tradisional dan menggunakan pewarna alami. Warna-warna ciri khas dari pulau Sabu adalah hitam, merah, kuning dan putih. Untuk menghasilkan satu buah sarung seorang penenun membutuhkan waktu tiga hari sampai seminggu. Wogh, lama juga yaa. Mama Nancy kemudian membanderol kain sarung tersebut Rp 150.000. Saya tertarik dengan satu kain yang berwarna hitam dan merah. Saya kemudian mencoba menawar kain tersebut, siapa tahu saja harganya lebih murah. Mama Nancy ternyata kekeuh dengan harga yang sama. Sepertinya Ia mematok harga pas dari awal. Saya kemudian berhenti menawar dan langsung membeli kain itu. Harga Rp 150.000 menurut saya adalah harga yang murah untuk sebuah proses kain yang masih tradisional dengan kesungguhan menenun si pembuatnya dan dengan motif yang merepresentasikan sebuah etnik tertentu. Sepulangnya dari pasar, saya masih saja mengagumi sarung yang saya beli. Ihh cantik bangeettt!
berburu kain tenun di pasar waingapu

berburu kain tenun di pasar waingapu

kain-kain tenun khas pulau sabu di pasar waingapu

kain-kain tenun khas pulau sabu di pasar waingapu

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s