Jurnal teluk bintuni part 1 : persiapan snorkeling??

Bulan oktober tahun 2011, tidaklah sia-sia saya melepaskan tiket perjalanan Indonesia – Vietnam yang sudah saya beli dari tahun 2010 begitu saja, why? Karena saya diberi kesempatan untuk mengunjungi pulau yang berada di ujung paling timur Indonesia, papua, salah satu tujuan dari my dream destination🙂. Kenapa waktu itu saya lebih memilih papua daripada vietnam? Jawabannya klise saja, traveling ke papua kan mahal, jauh lebih mahal dari traveling ke vietnam. Jadi saya bersyukur banget lah saat itu, bisa jalan-jalan sambil bekerja dan dibayar😀.
Daerah yang saya kunjungi di papua adalah kabupaten teluk bintuni, sebuah kabupaten di propinsi papua barat yang bisa ditempuh dengan kapal laut dari sorong, pesawat perintis dan mobil off road double gardan dari manokwari.
Sebelum berangkat saya memperbanyak browsing tentang peta dan keadaan geografis di sana. Ketika saya melihat peta teluk bintuni, yang terbayang dalam benak saya waktu itu adalah pulau-pulau kecil dengan air laut berwarna biru dan pasir putih nan bersih. Wah pastilah ada banyak tempat untuk snorkeling di sana! Saya sangat excited dan berniat membawa peralatan snorkeling saya, goggle biru berminus tiga kesayangan saya. Tetapi setelah saya membaca tentang keadaan geografis di sana yang sebagian besar merupakan daerah rawa, saya kemudian menepis bayangan indah tersebut. Meskipun demikian saya masih tidak percaya kalau di bintuni tidak ada pantai yang bisa untuk snorkeling. Saya kemudian bertanya tentang tempat snorkeling di teluk bintuni kepada sebuah forum traveler *ngeyel. Seorang anggota forum traveler tersebut kemudian menjawab bahwa tidak ada satupun snorkeling spot di teluk bintuni karena daerahnya berawa dan merupakan surga bagi para buaya, terutama di muara-muara sungai. Hmmm mau snorkeling lihat buaya??? Ia kemudian menyarankan untuk melakukan aktivitas animal watching di hutan rawa yang menyimpan berbagai macam hewan langka seperti kuskus dan berbagai jenis burung.
Harapan saya untuk snorkeling di sana kemudian benar-benar tandas setelah tim tempur beranggotakan 10 orang dibriefing mengenai keadaan geografis daerah-daerah yang akan kami kunjungi beserta bahaya-bahayanya. Yap benar saja! Kami harus waspada terhadap buaya dan babi hutan! Di sebuah tempat di teluk bintuni bahkan pernah ditemukan seekor buaya dengan panjang 6 meter!
Selain buaya dan babi hutan, bahaya yang akan mengancam kami adalah nyamuk malaria, binatang sangat mini tetapi bisa berdampak kematian. Bahkan ada satu jenis nyamuk malaria di teluk bintuni yang virusnya menyerang otak dan menyebabkan kegilaan permanen. Satu lagi binatang mini yang akan mengancam kami di daerah rawa-rawa, agas. Gigitan agas jauh lebih parah dari gigitan nyamuk biasa.
Meskipun terdengar ngeri, saya sih tetap excited dan bersemangat ke teluk bintuni. Saya tidak begitu memikirkan tentang buaya dan nyamuk malaria. Dan saya tetap membawa goggle biru minus tiga kesayangan saya ke sana. Entah untuk apa? Yang penting saya bawa saja dulu😀

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s