Jurnal teluk bintuni part 2 : Fly with miss susi in the air

terbang dengan susi air ke bintuni 1Setelah kurang lebih 9 jam saya dan tim saya yang berjumlah 10 orang terbang dan transit dari Yogyakarta, tibalah kami di tanah Papua, yaitu di kota Manokwari pada pukul 9 WIT. Penerbangan kami selanjutnya masih 6 jam, yaitu pada pukul 3 WIT menuju ke kabupaten teluk bintuni. Satu-satunya penerbangan ke sana dioperasikan oleh maskapi susi air, menggunakan pesawat cessna yang hanya muat untuk 12 orang dan 2 orang pilot. Ini kali pertama saya naik pesawat super kecil. Saya sangat excited! Rekor pesawat terkecil yang pernah saya tumpangi sebelumnya adalah pesawat transnusa avia star yang memuat 40 orang dari tambolaka ke denpasar.

Sebelum saya dan teman-teman menaiki pesawat ini, kami diharuskan menimbang badan sambil membawa tas yang akan kami bawa masuk ke kabin. 10 orang dari tim kami hanya 2 orang yang badanya kecil dan kurus, 8 orang lainnnya besar-besar dan sedikit gemuk, termasuk saya :D. Bagasi kami juga ditimbang satu persatu, berat totalnya 200 kilogram lebih. Kami sedikit kuatir , takut bagasi kami overweight dan tidak bisa terbang bersama pesawat. Setelah total berat penumpang dan bagasi dihitung semua, ternyata semua barang-barang kami bisa diangkut bersama pesawat. Saya tidak tahu berapa berat maksimal bagasi yang bisa diangkut dengan pesawat cessna ini, tapi dengan banyaknya barang bawaan kami dan pesawat yang begitu kecil, pesawatnya beneran kuat ga yaa?

Begitu panggilan untuk terbang dengan pesawat susi air menuju teluk bintuni dikumandangkan di ruang tunggu bandara rendani, kami beranjak satu per satu menuju ke landasan. Selain kami bersepuluh, ada 2 orang penumpang penduduk lokal yang sudah duduk di dalam pesawat. Pilot yang mengemudikan pesawat kami adalah 2 orang asing. Saya sih suprised saja, ternyata kebanyakan pilot susi air di papua adalah orang asing *maklum baru liat pilot bule *ndeso. susi air kokpitSaya duduk pas di belakang kokpit, sehingga saya bisa sambil mengamati apa yang bapak-bapak bule ini lakukan ketika menerbangkan pesawat.

Jam 3 tepat pesawat kami lepas landas. Terbang dengan pesawat kecil rasanya seperti naik odong-odong, seperti naik mainan pesawat atau seperti naik mobil terbang. Kena angin atau melewati tumpukan awan yang sedikit tebal saja pesawatnya gampang goyang. Salah satu teman saya ada yang phobia terbang, sehingga sepanjang perjalanan ia terlihat tegang, berkeringat dan tanganya terus memegang kursi tanpa dilepas. Saya dan beberapa teman yang membawa kamera kemudian memotret keceriaan dan tingkah pecicilan kami di dalam pesawat, seakan pesawat ini kami sewa secara pribadi. Kami juga mengambil gambar pemandangan papua dari atas awan. Looks great! Warna laut yang ada di teluk cendrawasih begitu biru menyala. Pesisir pantainya berpasir putih dan terlihat bersih. Dari atas ini pula terlihat bahwa hutan benar-benar merajai wilayah papua barat. Pegunungan arfak terlihat sangat hijau royo-royo. Selepas pesawat berbelok ke arah barat daya, akhirnya saya mengerti kenapa tidak bisa snorkeling di teluk bintuni. Wilayahnya terdiri dari sungai-sungai besar yang berkelok-kelok. Tidak ada warna biru atau pasir putih di pantai seperti di teluk cendrawasih. Warna lautnya coklat pemirsa!bintuni river

bintuni cityTidak sampai satu jam, kami mendarat di bandara bintuni yang landasannya memang hanya cukup untuk pesawat kecil. Seperti bandara-bandara di kota-kota kecil lainnya di Indonesia, bandara bintuni juga merupakan bandara bebas, peternak kambing, babi atau sapi bisa kapan saja menggembalakan ternaknya di bandara. Karena tidak banyak petugas di bandara ini, maka kami membantu mereka untuk mengeluarkan bagasi kami yang seabreg dari pesawat. Mobil pick up yang menjemput kami saja bahkan dengan bebasnya memasuki pinggir landasan untuk menjemput barang-barang kami hanya beberapa meter dari pesawat. Baguslah, kami tidak perlu repot melewati prosedur ketat seperti di bandara besar dan mengangkut barang kami lebih jauh lagi :D.

Ketika kami masuk di dalam ruangan bandara, kami melihat ada satu poster besar bapak-bapak dengan muka yang familiar, siapakah gerangan dia? Ternyata beliau adalah bupati teluk bintuni yang satu pesawat dengan kami. Ouh! Perasaan kami ribut terus deh di dalam pesawat, sungguh memalukan pemirsa.

tim utara

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s