Jurnal teluk bintuni part 3 : Akomodasi orang jawa yang price shock

Mobil pick up penuh dengan tumpukan barang dan manusia yang disewa oleh tim kami membelah jalanan kota bintuni dari bandara menuju ke sebuah penginapan. Kami menginap di penginapan kayu bernama kabira ini sehari semalam sebelum turun penelitian lapangan yang mengharuskan kami tinggal bersama penduduk lokal setempat. Lumayan lah bisa merasakan kasur empuk dan ruangan ber-AC sebelum tidur berserakan😀. Penginapan di kota bintuni sebenarnya banyak sekali. Jika anda jalan-jalan di kota ini, tidaklah susah untuk mendapatkan penginapan, dari yang non AC hingga yang ber-AC. Hotel berbintang di kota ini ada satu, tapi maaf saya lupa namanya. Tarif menginap di bintuni rata-rata Rp 150.000 sampai Rp 500.000 per malam.

Kamar yang disewa untuk saya adalah kamar double bed kamar mandi luar dengan AC dan TV kabel, tarifnya Rp 250.000. Harganya hampir sama lah dengan penginapan di Jawa. Fasilitas lain yang bisa didapatkan di penginapan ini adalah snack di pagi hari, air minum, teh atau kopi gratis dan dapur yang bisa dipergunakan pengunjung untuk memasak.

Malam harinya, sebagai manusia yang baru menginjakkan kaki di tempat asing dan kelaparan, maka kami survei harga makanan di seberang hotel. Kami yang sebagian besar adalah orang jawa sudah bersiap-siap untuk price shock! Alias kaget mendengar harga makanan yang akan disebutkan oleh si penjual makanan. Kami menuju ke warung tenda lamongan yang menjual nasi pecel telor, ayam dan ikan. Yang unik adalah mereka tidak punya lele, seperti warung tenda lamongan di kota lain (yaa eyalaah..) Benar saja, nasi pecel telor harganya Rp 10.000. Nasi ayam atau ikan Rp 20.000 sampai Rp 25.000 satu porsi. Harganya 3 kali lipat dari harga pecel lamongan di Jogja. Kalau dipikir-pikir sih uang kami lebih dari cukup untuk makan nasi ayam 3 kali sehari , tetapi sebagai orang yang terbiasa dengan harga murah di jawa, kami mengencangkan pengeluaran makan kami. Kami memesan menu paling murah, nasi telor 10 porsi untuk sepuluh orang. Kami minta dibungkus dan memakannya di hotel supaya tidak perlu beli minum di luar yang harganya Rp 4000 untuk segelas es teh.

Kami makan bersama di ruang makan hotel, setelah bungkusan nasi telor dibuka, ternyata porsi nasinya gwedheeee banget!!! banyak sekali! Saya hanya mampu makan sepertiganya saja. Teman-teman wanita saya juga hanya mampu makan separuhnya saja. Teman-teman pria saya ada yang bisa menghabiskan ada yang tidak. Pada pagi harinya kami makan menu yang sama untuk sarapan, nasi pecel telor juga. Bedanya kami hanya membeli 5 porsi dan memesan masing-masing 2 telor satu porsinya. Harganya Rp 12.000 satu bungkusnya. Jadi masing-masing dari kami hanya mengeluarkan Rp 6000, cukup murah dan irit!!😀

Kalau ingin berputar-putar kota bintuni sekedar ke pasar, ke rumah adat atau ke dermaga, transportasi yang bisa digunakan adalah ojek, jika jaraknya dekat hanya membayar Rp 5000 saja. Kalau jauh tetapi masih di dalam kota paling mahal Rp 10.000.

5 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

5 responses to “Jurnal teluk bintuni part 3 : Akomodasi orang jawa yang price shock

  1. arien windari

    zaya jg berazal dr yogya tp zaya dah lama tnggal d bintuni,walaupun bintuni mzh zeperti hutan tp bagiQ bintuni IS THE BEST…

  2. asyik dibaca ceritanya Mbak..Thanks keep writing…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s