Jurnal Teluk Bintuni part 4 : Atibo Manimeri

Siang itu kami meninggalkan kenyamanan penginapan ber-AC dan berkasur empuk, untuk turun ke wilayah penelitian pertama yaitu ke sebuah desa yang letaknya sekitar 20 km dari pusat kota bintuni. Desa itu bernama atibo di kecamatan manimeri. Perjalanan menuju lokasi tergolong cukup lancar karena jalan aspal masih tergolong baik untuk dilewati kendaraan.

Sebenarnya perjalanan untuk ke desa atibo tidak sampai satu jam, tetapi berhubung supir avanza yang kami tumpangi sedikit bingung dengan letak desa ini, maka kami harus bertanya berkali-kali kepada penduduk. Dan ternyata sedari tadi kami sebenarnya sudah sampai di atibo dan mondar-mandir di sana.
Tidak seperti desa-desa di jawa, desa di kab teluk bintuni seperti di atibo ini penduduknya hanya sedikit. Hanya terdapat 23 rumah di atibo. Desa ini terlihat seperti perumahan transmigrasi yang teratur jaraknya dari rumah ke rumah. bentuk rumahnya  sama semua, kecuali rumah kepala desa yang terbuat dari batu. Konon dulu penduduk asli desa yang merupakan suku souw ini tinggal berpindah di hutan-hutan.
Setelah kami bertemu dengan pak kepala desa atibo manimeri, kami kemudian diberikan tempat tinggal selama di sana, yaitu di balai desa mereka yang terbuat dari kayu. Balai desa di atibo bentuknya sederhana, terdiri dari satu ruang terbuka untuk bermusyawarah dan dua buah ruangan tertutup berukuran dua kali satu meter. Melihat keadaan ini para lelaki dalam tim kami yang terdiri dari 6 orang harus mengalah tidur di ruang yang terbuka, dan para wanita tidur di dalam ruangan tertutup. Sebelumnya kami sudah membawa bekal sleeping bag yang akan kami gunakan selama tidur dalam keadaan darurat.
Ketika kami membereskan dan membersihkan balai desa, para penduduk berdatangan menyapa kami dengan ramah. Salah seorang mama-mama yang bernama mama agnesi menyapa kami kemudian menawarkan kami buah merah dan buah lemon dari kebunnya. Waktu itu saya belum tertarik untuk melihat buah merah, tetapi lebih tertarik dengan buah lemon yang ditawarkan mama. Lemon papua seperti apa ya? Waktu itu saya belum tahu kalau buah merah nilai ekonomisnya cukup tinggi dan berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit serta merupakan buah yang benar-benar khas papua *dodol.
Mama agnesi kemudian mengajak saya ke belakang rumahnya. Ia membawa kayu panjang untuk mengambil buah lemon yang dimaksud. Saya benar-benar penasaran dengan bentuk dan rasa buah lemon tersebut. Saya membayangkan akan memakan buah terbaru dalam hidup saya yang tidak ada di tempat lain selain di papua. Akan tetapi ternyata sebenarnya dan sesungguhnya setelah melihat bentuknya  yang dimaksud buah lemon oleh mama agnesi adalah buah jeruk bali. Hilanglah imajinasi saya tentang memakan buah langka.
Sambil menikmati buah lemon papua jeruk bali itu di bawah pohon, saya memperhatikan mama agnesi yang saat itu sedang merajut sesuatu yang berwarna-warni. Mama agnesi kemudian menerangkan kepada saya bahwa itu adalah noken, tas rajutan khas papua yang biasanya selalu dibawa kemana-mana oleh orang papua. Setelah ia menyelesaikan beberapa buah rajutan noken, ia biasanya menjual hasil karyanya di pasar bintuni seharga Rp 350.000. Waktu itu saya hampir keselek buah lemon papua jeruk bali mendengar harganya yang sangat mahal bagi kantong saya.
Baru hari pertama kami melakukan wawancara dengan warga desa atibo, kami dikejutkan dengan perbedaan-perbedaan drastis antara kehidupan di kampung kami dan di sana. Salah satu contohnya adalah makanan yang biasa mereka makan. Mereka sehari-hari masih mengandalkan berburu untuk mendapatkan makanan. Hasil berburu makanan mereka berupa rusa, lau-lau, burung mambruk dan babi hutan. Mereka mengaku bahwa tidaklah sulit untuk mendapatkan buruan di hutan, bahkan hewan seperti rusa liar saja masih sangat banyak populasinya di hutan dekat rumah mereka. Meskipun masih banyak, tetapi mereka hanya berburu secukupnya untuk kebutuhan makan mereka saja. Jika mereka mendapatkan rusa, rusa tersebut tidak dimasak oleh satu keluarga saja, melainkan seluruh kampung juga ikut menikmati. Selain berburu daging, mereka juga suka mengambil anak kasuari sebagai peliharaan mereka di rumah. Gila yaa, peliharaan aja kasuari! Jadi jangan heran jika datang ke sebuah perkampungan di papua ada kasuari raksasa berkeliaran seperti ayam kampung😀.
 Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga desa ini bertani menanam sayuran yang kemudian dijual di pasar bintuni. Satu ikat kangkung di bintuni dijual Rp 5000, lima kali lipat lebih mahal daripada di jawa. Selain bertani, mereka juga menjual hasil mencari ikan atau udang di sungai. Terkadang mereka juga menjual hasil buruan rusa atau babi hutan, tetapi tidak banyak. Jika mereka mempunyai sisa daging rusa yang banyak, mereka biasanya mengawetkannya dengan cara dibuat dendeng yang kemudian juga dijual ke pasar.
Tiga hari berlalu sudah, kami tidak boleh berlama-lama di desa ini karena perjalanan kami di kabupaten teluk bintuni masih panjang. Kami berpamitan kepada warga desa dan kepala desa atibo, yang selama tiga hari ini dapurnya kami ganggu karena kami harus memasak beras *maklum belum biasa makan sagu sih😀. Saya waktu itu membatin, baru di wilayah penelitian pertama saja sudah banyak hal-hal baru yang saya dapat, bagaimana dengan wilayah-wilayah selanjutnya ya?
Desa Atibo Manimeri di Google Map :

2 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

2 responses to “Jurnal Teluk Bintuni part 4 : Atibo Manimeri

  1. doni

    lokasi yg berkesan…kita smua dah kayak pengungsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s