Jurnal Teluk Bintuni part 5 : A long off road to Tembuni dengan mobil double gardan

ready to off road!

ready to off road!

Ada yang spesial untuk perjalanan kami selanjutnya ke distrik Tembuni. Apakah yang spesial? Yang spesial adalah institusi kami menyewa sebuah kendaraan yang cukup berbeda dari kendaraan biasanya. Namanya kendaraan double gardan dengan ban super gedhe yang biasanya cuma saya lihat di ajang off road saja. Ada dua mobil yang akan kami gunakan yaitu mitsubishi strada dan toyota hilux yang merupakan mobil 4WD semua. Jujur saja saya berasa seperti akan menaiki kendaraan tempur yang sewaktu-waktu nanti akan berubah menjadi autobot yang melawan megatron. Teman-teman setim saya ga kalah ndesonya dengan saya, kami berfoto-foto sampai puas di depan dua mobil double gardan yang masing-masing bisa memuat 6 orang. Tidak ada satupun di antara kami yang tidak excited, karena ini merupakan kali pertama kami menaiki mobil double gardan.

Lalu apakah kami akan off road dengan mobil ini? Jawabannya terungkap setelah kami berada sekitar 8 kilometer meninggalkan kota bintuni ke arah distrik tembuni yang berjarak sekitar 60 km ke barat. Selepas kota bintuni, jalanan tidak lagi beraspal. Jalanan aspal halus kemudian berganti menjadi jalan tanah halus yang debunya berhamburan menghalangi kaca depan mobil. Rumah penduduk mulai berkurang di sepanjang jalan dan akhirnya kami masuk ke hutan belantara. Benar-benar hutan belantara dengan pepohonan yang tinggi dan rapat, seperti tak ada celah untuk menembus ke dalamnya. Jalanan tanah yang kami lewati akhirnya memperlihatkan wujud aslinya. Ini benar-benar offroad! Ini bukan jalan, tetapi kubangan lumpur. Bagaimana kalau megatron datang menyerang kami sedangkan autobot terjebak di lumpur??? *salah fokus
on the way to tembuni

Kubangan lumpur siap menyambut kami! Lets off road!!

Mobil double gardan yang kami tumpangi berjalan perlahan-lahan meniti kubangan satu ke kubangan lain. Saya merasakan sensasi off road yang belum pernah saya alami sebelumnya.  Mobil seakan-akan impossible banget melewati jalanan ini, tetapi selalu saja berhasil melewatinya. Pak sopir yang mengemudikan mobil kami tampak lihai, tenang dan santai mengendarainya sambil memutar musik reggae ala papua kencang-kencang. Ia memang sudah bertahun-tahun meniti jalur ini, jadi tidak diragukan lagi bahwa ia sudah sangat expert. Ia bercerita bahwa banyak sekali kendaraan yang tidak tahu medan nekat melewati daerah ini. Seringkali kendaraan-kendaraan ini terjebak di antara kubangan lumpur dan mereka mau tidak mau harus membantu kendaraan itu untuk keluar dari jebakan. Ia selalu membawa tali tambang selama perjalanan yang dibutuhkan untuk menolong mobil lain. Pak sopir yang merupakan orang bugis ini sehari-harinya memang menjalankan trayek bintuni-tembuni-moskona. Biayanya Rp 300.000 sekali jalan per orang. Tentu saja sangat mahal untuk perjalanan sejauh 60 km, jika penumpangnya tidak tahu medan. Alternatif lain kendaraan dari bintuni ke tembuni adalah dengan ojek, yang harganya hanya selisih Rp 50.000, tetapi penumpang akan sering turun dari motor karena motor akan lebih sering terjebak di kubangan lumpur. Karena dua kendaraan double gardan ini kami sewa seutuhnya pulang dan pergi untuk mengangkut manusia dan barang-barangnya, maka kami harus membayar Rp 9.000.000, 00 untuk dua mobil. Harga yang cukup fantastis bukan? Terbuktilah betapa mahalnya hidup di papua.

Ternyata yang dikatakan pak supir ini benar, sesekali kami berpapasan dengan motor-motor biasa yang dipaksakan masuk ke kubangan lumpur. Kami juga sempat berpapasan dengan mobil jeep 4WD lain dari arah yang berlawanan. Tampak pak sopir kami membunyikan klakson dan menyapa sopir mobil tersebut. Saking jarangnya kendaraan yang berpapasan di jalan ini membuat para pengendara saling menyapa dan tersenyum.

Mobil yang biasa saja bisa dengan mudah terjebak

Di perjalanan pulang dari tembuni ke kota bintuni, apa yang diceritakan pak sopir tentang mobil biasa yang nekat melewati kubangan lumpur akhirnya saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Mobil itu tampak kesulitan untuk keluar dari sebuah jebakan lumpur yang dalam. Seluruh bagiannya kotor penuh dengan lumpur, bahkan sopir dan asistennya pun seperti mandi lumpur karena harus turun langsung menarik mobil. Sebuah mobil jeep 4wd berusaha memberikan pertolongan dengan tali tambang dan menariknya. Butuh waktu lama untuk mengeluarkan mobil itu dari kubangan. Setelah mobil itu berhasil keluar dari jebakan lumpur, mobil itu tidak berani lagi melanjutkan perjalanan ke tembuni. Entah apa jadinya jika mobil itu stuck di sana, di tengah hutan belantara.

Berkendara off road bagi beberapa orang mungkin adalah sebuah akivitas seru menantang adrenalin yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Tetapi di sebagian besar jalanan di pedalaman Indonesia hal ini adalah bagian dari hidup masyarakat sehari-hari. Perjalanan barusan menyadarkan saya bahwa sebenarnya Indonesia punya banyak off roader yang tidak terekspose ke dunia luar. Coba ada kompetisinya? sepertinya seru😀
 Kota Bintuni ke Mogoi di google map :

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s