Jurnal teluk bintuni part 6 : Membelah teluk dari bintuni ke babo

jeti pelabuhan bintuni

jeti pelabuhan bintuni

Pelabuhan kota teluk bintuni siang itu lumayan ramai oleh orang-orang yang akan menaiki ketinting ke daerah lain. Ketinting adalah perahu besar yang biasa digunakan oleh masyarakat teluk bintuni sebagai alat transportasi mereka yang mengubungkan daerah satu ke daerah lain. Keadaan geografis kabupaten teluk bintuni yang terdiri dari teluk, hutan mangrove dan sungai-sungai besar inilah yang membuat moda transportasi air sebagai yang utama. Tidak hanya ketinting dan perahu-perahu kecil saja yang hilir mudik di sungai bintuni, nampak beberapa kapal besar juga berlabuh di sepanjang pelabuhan sungai besar ini.

Kami, siang itu menunggu ketinting yang kami sewa berlabuh di dermaga pelabuhan bintuni. Ketinting ini tidak hanya membawa kami yang badannya besar-besar tetapi juga semua barang-barang kami yang beratnya bisa mencapai ribuan kilo. Awalnya saya sempat ragu, perahu seperti apa yah yang bisa membawa barang bawaan segini banyaknya. Tetapi setelah ketinting kami menepi di dermaga dan siap menjemput, saya begitu yakin karena perahu besar ini bisa membawa muatan 12000 kg. Ketinting yang bernama km wulandari inilah yang akan menemani kami dari satu daerah ke daerah lain menjelajahi suku-suku di kabupaten teluk bintuni.
hutan bakau di seberang kota bintuni

hutan bakau di seberang kota bintuni

Perjalanan pertama dengan ketintingpun akhirnya dimulai. Kami akan menuju babo, wilayah teramai kedua setelah kota bintuni, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Saya memilih tempat di atap ketinting, jadi bisa melihat sekeliling dengan bebasnya. Dari km wulandari inilah kami melihat sisi lain dari kota bintuni. Rumah-rumah panggung yang kaki-kaki pondasinya menjejak ke sungai berjajar rapi di sepinggir sungai besar ini. Tepat di seberang sungai kota bintuni terdapat hutan rawa yang tumbuhannya beraneka macam jenisnya.

rumah-rumah panggung di kota bintuni

rumah-rumah panggung berjejer di sepinggir sungai bintuni

Awalnya saya mengira jarak kota bintuni ke daerah perairan teluk dekat. Ternyata tidak. Ketinting kami harus menelusuri sungai yang bercabang dan berkelok-kelok, yang disepinggirnya merupakan hutan rawa lebat dan masih alami. Tak heran jika, pengemudi perahu yang tidak kenal daerah ini bisa tersasar dengan mudahnya. Hutan rawa yang masih alami ini tentu saja menyimpan keanekaragaman hayati yang tak ternilai. Beberapa jenis burung kakak tua dapat dengan mudahnya ditemukan ketika melintasi hutan rawa ini. Waktu itu saya melihat sekelompok burung kakak tua putih bertengger di puncak-puncak pohon. Sungguh suatu moment yang tidak biasa untuk saya, karena biasanya saya melihat burung kakak tua hanya di kebun binatang. Sayang saya tidak mempunyai kamera dengan tele jauh, jadi saya tidak punya dokumentasinya. Selain beraneka macam jenis burung, hutan rawa ini juga merupakan rumah bagi para kuskus. Air sungai yang tampak tenang dan dalam ini tidak hanya menjadi surga berbagai macam jenis ikan rawa, tetapi juga surga bagi para buaya. Buaya rawa, terutama yang berada di muara, panjangnya bisa mencapai 6 meter. Whadd?? 6 meter?? Sambil naik ketinting, kemudian saya berdoa dengan khidmat supaya ketinting selamat sampai tujuan.
hutan rawa bintuni

di balik hutan rawa lebat ini tersimpan berbagai macam kekayaan hayati yang tak ternilai

Dua jam berlalu sudah, akhirnya kami sampai di perairan teluk. Beruntung sekali kami sampai di tempat dengan cakrawala sebagai ujungnya bertepatan dengan waktu tenggelamnya matahari. So its sunset time, tampaknya semua anggota regu mengeluarkan kamera, berlomba menagkap sunset dengan lensa.
sunset teluk bintuni

sunset terselimut mendung di teluk bintuni

Begitu matahari tenggelam dengan suksesnya, suasana di atas ketinting jadi sedikit mencekam. Semuanya gelap, hanya kerlip ketinting lain terlihat di kejauhan. Untung saja bang iwan, sang nahkoda ketinting mempunyai insting dan navigasi sangat baik ketika cuaca saat itu mendung dan hujan di laut, sehingga kami sampai jeti babo dengan selamat.
Photos by Doni Aswandi

4 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

4 responses to “Jurnal teluk bintuni part 6 : Membelah teluk dari bintuni ke babo

  1. keren mas cerita Bintuninya, tahun depan pengennya bisa KKN di Bintuni🙂 aamiin

  2. Hen

    Thanks..
    Sudah mau mengunjungi tempat kami…😀
    kab. Teluk Bintuni.. Sisi lain dari bumi pertiwi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s