Jurnal teluk bintuni part 7 : Mengulik sisa-sisa perang dunia ke dua di Babo

Suara takbiran malam Idul Adha dengan keras berkumandang sampai ke jetty rakyat di Babo, Kabupaten Teluk Bintuni. Malam itu kami baru sampai dari kota Bintuni setelah 4 jam berketinting ria membelah perairan teluk. Saya merasa surprised juga, ternyata di distrik babo ini banyak yang beragama Islam. Berarti saya dan teman-teman satu tim saya tidak akan kesulitan mencari tempat untuk sholat Idul Adha esok harinya. Kami satu tim yang terdiri dari 10 orang kemudian berbaur dengan masyarakat setempat yang sebagian besar asli papua barat untuk melaksanakan sholat Idul Adha.  Di distrik ini terdapat markas LNG tangguh, sehingga selain penduduk asli, di Babo juga banyak pendatang dari luar papua seperti dari Maluku, Sulawesi dan Jawa untuk bekerja di sektor perminyakan atau sektor-sektor yang mendukung kegiatan tersebut. Ada juga penduduk dari etnis tiong hoa yang telah lama berdagang di sini. Kami datang ke distrik ini untuk melakukan penelitian kependudukan selama 2 minggu.

Sembari bekerja dan mewawancarai penduduk, saya dan teman-teman juga menyempatkan diri untuk bermain dan mengeksplor daerah babo. Terkadang di sore hari kami bercengkerama dengan anak-anak babo yang berenang dan berloncat indah di jetty rakyat. Saya juga berkesempatan bertemu dengan orang tertua se-Babo, pak Samad Fiawe yang masih mahir menari tarian khas suku irarutu. Ketika kami melaksanakan tugas, kami didampingi oleh masyarakat setempat. Mereka selalu bercerita bahwa Babo pada jaman perang dunia ke dua adalah Surabaya ke dua. Setahu saya pernah terjadi pertempuran besar di Surabaya pada 10 November dan Surabaya juga pernah menjadi pangkalan militer Jepang pada tahun 1942. Sebelumnya Surabaya  pernah menjadi pangkalan militer tentara Belanda. Salah satu pendamping penelitian kami pak Dekky, kemudian menyarankan kami untuk mendatangi beberapa tempat di Babo. Ternyata benar di beberapa tempat ini masih terdapat bangkai-bangkai pesawat perang dunia ke dua yang teronggok di antara padang ilalang. Ada pula beberapa bangkai pesawat yang tergeletak begitu saja di halaman SMP Babo. Selain bangkai-bangkai pesawat, ada pula traktor tua yang pada jaman perang digunakan untuk membangun infrastruktur seperti jalan dan pangkalan udara. Di sekitar pelabuhan ferry juga masih ditemukan drum-drum sisa perang. Pak Dekky juga mengatakan bahwa di Babo masih banyak ditemukan ranjau dan granat yang masih aktif, sehingga kita harus berhati-hati jika berjalan menuju ke bangkai-bangkai pesawat ini. Saya dan beberapa teman mendatangi tempat tersebut satu per satu dengan perasaan horror sekaligus wow. Bongkahan-bongkahan bangkai pesawat tersebut masih terlihat baik jika harus dimuseumkan. Saya mulai bertanya-tanya kenapa ya cerita soal Babo ini tidak pernah terdengar atau masuk dalam pelajaran sejarah ketika saya masih sekolah.

Drum-drum berkarat yang ditemukan di perairan babo

Drum-drum berkarat yang ditemukan di perairan babo

Traktor kuno saksi PD 2 di Babo

Traktor kuno saksi PD 2 di Babo

Pesawat perang dunia ke dua di Babo

Pesawat perang dunia ke dua di Babo

Pesawat perang dunia ke dua di Babo #2

Pesawat perang dunia ke dua di Babo #2

Pesawat perang dunia ke dua di Babo #3

Pesawat perang dunia ke dua di Babo #3

Karena sewaktu saya di Babo tidak ada koneksi internet yang memadai, saya tidak bisa googling tentang sejarah Babo secara lengkap dan langsung. Siapa tahu saja ada penjelasan sejarah yang bisa saya pelajari ketika saya on the spot, selain keterangan dari masyarakat setempat bahwa Babo pernah menjadi Surabaya ke dua. Pernah dijadikan pangkalan militer oleh Belanda dan Jepang. Sekembalinya saya ke Yogyakarta, 2 bulan kemudian barulah rasa penasaran saya akan Babo tercerahkan. Sayangnya belum banyak orang Indonesia yang membahas tentang sejarah PD 2 di Babo seperti membahas Surabaya. Jika saya tidak pernah mengunjungi Babo, sepertinya saya juga tidak akan tahu bahwa di sana pernah menjadi TKP perang dunia ke dua.
Photos By : Doni Aswandi & F Lusiana
Jika tertarik tentang sejarah PD ke dua yang terjadi di Babo, silahkan baca di website di bawah ini :
Lokasi Distrik Babo di google map :

8 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

8 responses to “Jurnal teluk bintuni part 7 : Mengulik sisa-sisa perang dunia ke dua di Babo

  1. halo…terima kasih sudah ikut meramaikan penulisan sejarah tentang Babo🙂 Di Babo apa sedang ada tugas atau hanya berkelana?

  2. bambang a. roesamadikroen

    Hallo…..mas Hendra dan mbak kelana kecil….salam kenal, saya sedang banyak mencari ceritera tentang distrik Babo…terutama bandar udaranya. Menarik….

  3. Hai pak Bambang, salam kenal juga! Memang sejarah tentang Babo sangat menarik. Sayangnya belum ada pembahasan mendalam tentang Babo dan PD 2

  4. Ping-balik: Catatan perjalanan ke Fakfak #2 : Kokas photo highlights | Kelanakecil

  5. Hallo Mbak Kelana Kecil, sy suka baca artikel Babonya terutama photo2 rongsok pesawatnya. Jadi pd saat kunjunganya th 2012 rongsok itu masih ada seperti di foto ya? wah mudah2han sekarang masih tetep ada, supaya bisa dilihat anak cucu…kalau Babo itu benar bekas pangkalan udara saat WWII

    • Hallo juga pak Eko Winarno, salam kenal. Terimakasih sudah mampir. Kalau informasi dari teman, terakhir beberapa ada yang sudah dipindahkan pak. Dan belum tau juga dipindahkan di mana. Semoga catatan sejarah tentang WWII di Indonesia timur bisa diketahui seluruh masyarakat Indonesia juga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s