Jurnal teluk bintuni part 9 : Antara Ikan, Udang dan Kepiting

Hampir dua bulan saya berkeliling distrik yang berada di kabupaten teluk bintuni, membuat pola makan saya berubah total. Sebagai orang jawa yang tinggal di Yogyakarta, sehari-hari saya biasanya mengkonsumsi tempe, tahu, sayur-mayur dan ayam. Kalau jajanpun biasanya saya paling sering membeli bakso atau mie ayam. Di teluk bintuni sehari-hari saya dan teman-teman satu tim penelitian saya mengkonsumsi makanan yang kami masak sendiri dengan bahan-bahan yang paling mudah kami dapatkan di sana. Teluk bintuni adalah daerah perairan laut, sungai dan rawa yang menyimpan sumber daya seafood yang luar biasa jumlahnya. Sebenarnya dan sesungguhnya saya adalah penggemar seafood terutama kepiting dan ikan laut. Sayang ketika di Jogja, harga seafood terutama kepiting mahal dan pakai banget.

Sewaktu tim penelitian saya dikirim ke desa wimro yang terletak di distrik Aruba, kami tinggal di rumah kepala kampung selama 3 hari. Di hari terakhir kami berpesta kepiting di sana. Harga kepiting di kampung ini sangatlah terjangkau. Satu buah kepiting kecil dihargai Rp 5000 rupiah. Tapi sekecil-kecilnya kepiting yang dijual di sini tetap saja beratnya mencapai setengah kilogram. Harga kepiting paling mahal adalah Rp 15.000 dan ini sudah sangat besar sekali. Kepiting yang ini besarnya belum pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Besar banget! Kepiting yang ada di desa wimro ini adalah jenis kepiting hijau yang hidup di daerah bakau. Karena desa wimro dikelilingi pohon bakau, sebenarnya kalau niat berburu kepiting sendiri sih tinggal nyemplung saja. Makhluk ini sangat gampang dijumpai sedang bersantai-santai di pohon bakau dan tinggal diciduk *EH*. Pesta kepiting yang kami lakukan sangat simpel. Kami hanya tinggal mengumpulkan kayu bakar dan membakar kepitingnya langsung di atas kayu setelah dibersihkan. Tidak perlu tambahan bumbu apapun, rasanya sangat manis dan enak. Mungkin karena air rawa di daerah ini masih sangat alami dan tidak terkontaminasi zat-zat yang merusak rasa kepiting *jiah*. Beberapa hari kemudian ketika kami tinggal di distrik Babo, kami membeli kepiting lagi dengan harga Rp 60.000 untuk satu ember kepiting yang jumlahnya 12 ekor. Murah sangat! Kepitingnya juga tidak kalah besar seperti di desa Wimro. Kami mencoba memasak kepiting dengan cara digulai. Rasa manisnya tetap lekat di lidah. Di Babo juga amat sangat mudah untuk mendapatkan kepiting. Biasanya para pekerja perusahaan minyak yang akan kembali ke Jawa membawa oleh-oleh kepiting yang dimasukkan ke dalam kotak es.

kepiting bakar raksasa dari desa wimro

kepiting bakar raksasa dari desa wimro

Kepiting gulai kuning yang kami masak di distrik Babo

Kepiting gulai kuning yang kami masak di distrik Babo

Selain pesta kepiting, kami juga pesta udang. Waktu itu di Babo udang sekilo hanya Rp 15.000. Tetapi karena salah satu kenalan pengemudi ketinting kami kelebihan hasil udang, kami mendapatkan 5 kg udang secara gratis. Udang segar itu kemudian hanya kami bumbui bawang dan garam lalu kami bakar. Selain udang laut, di distrik Tomu ada juga udang sungai sepanjang 10-12 cm yang dijual Rp 6000 untuk 5 ekor udang. Kami sesekali membelinya dan hanya menggorengnya dengan bumbu garam. Salah satu kampung yang terkenal sebagai penghasil udang adalah kampung magarina yang masih termasuk wilayah distrik weriagar. Ketika musim udang, para nelayan hanya tinggal menebar jaring tidak jauh dari kampung dan dengan mudah mereka bisa mendapatkan 100 kg udang dalam sehari. Menurut beberapa nelayan yang kami wawancarai, ketika musim udang, mereka sudah bisa melihat sekumpulan udang berloncatan di sekitar perahu mereka seperti cendol. Wih! ga kebayang deh saking banyaknya udang lautan menjadi seperti cendol. Udang-udang di Magarina ini kebanyakan dijual keluar papua karena harganya bisa menjadi berkali-kali lipat.

Pesta udang gratisan di distrik Babo

Pesta udang gratisan di distrik Babo

Nelayan Magarina sedang panen udang

Nelayan Magarina sedang panen udang

Untuk mengimbangi udang dan kepiting yang penuh dengan kolesterol, kami sehari-hari memasak ikan laut. Ikan laut di sebagian besar distrik di teluk bintuni tidak dijual perkilo tetapi per ikat. Satu ikat ikan bisa terdiri dari satu ikan besar, satu potongan dari ikan yang sangat besar atau beberapa ikan ukuran sedang. Ikan yang kecil-kecil seperti di Jawa tidak dijual karena tidak laku di sini. Jika diperkirakan satu ikat ikan yang harganya Rp 10.000 ini beratnya bisa 2 sampai 3 kg. Harga yang sangat murah! Ikan-ikan yang pernah saya beli di Babo, Weriagar dan Tomu adalah ikan pari, ikan kakap merah, ikan kakap hitam dan ikan baubara, yang merupakan ikan-ikan mahal di Jawa. Cara para penduduk dan nelayan berjualan ikan adalah dengan menyuruh anak-anak mereka beredar mengelilingi kampung sambil memikul kayu yang penuh dengan ikatan ikan. Sungguh unik memang. Jika tidak sabar menunggu anak-anak ini lewat, kita bisa menunggu nelayan di jeti membawa hasil ikannya langsung dari laut. Menurut saya, seperti udang dan kepiting, ikan di teluk bintuni rasa dagingnya terasa lebih kenyal dan manis. Tampaknya kondisi perairan laut dan pencemarannya ikut mempengaruhi rasa ikan.

Ikan baubara, satu ikat Rp 10.000

Ikan baubara, satu ikat Rp 10.000

Berjualan ikan ala teluk bintuni

Berjualan ikan ala teluk bintuni

Hampir dua bulan sudah lidah saya dimanjakan dengan seafood favorit saya dengan harga yang terjangkau di tanah papua dan dalam kondisi paling segar. Saya merasa sangat beruntung *beneran*. Gara-gara petualangan teluk bintuni saya kali ini, saya jadi membandingkan harga ikan, udang dan kepiting di daerah lainnya juga. Saya berharap harga kepiting dan ikan bisa turun di tanah jawa! *EH*. Well, saya berharap saja sih, semoga di petualangan saya yang lain ke bagian lain dari negeri saya tercinta ini saya bisa menikmati sea food yang se-fresh dan seistimewa di sini. Amin😀

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia, Travel Food and Fruit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s