Jurnal Teluk Bintuni part 10 : Cerita tentang 7 jam terombang-ambing di laut karena perahu mogok

Luck is a very thin wire between survival and disaster, and not many people can keep their balance on it. -Hunter S. Thompson-

I guess we are lucky🙂

Sore itu tugas penelitian kami selama hampir 2 bulan di kabupaten Teluk Bintuni berakhir sudah. Kami meninggalkan kampung nelayan Magarina menuju ke ibukota Bintuni dengan perahu besar yang sudah menemani kami ke mana saja. Estimasi perjalanan laut dari Magarina sampai ke kota Bintuni adalah 6-8 jam. Wajah-wajah kami terlihat lega karena kami sudah berhasil menyelesaikan tugas. Kami semua rindu rumah di Jogja dan tak sabar ingin segera sampai di Jogja. Senja hari itu tampak lebih indah dengan sunset yang menyemburat jingga di langit Papua Barat. Kami duduk-duduk di atas perahu sambil memandangi matahari terbenam terakhir kami di atasnya. Langit jingga sore itu perlahan-lahan dilahap sang malam. Suasana di laut menjadi gelap.

Perjalanan pulang, sore di atas perahu di perairan Teluk Bintuni

Perjalanan pulang, sore di atas perahu di perairan Teluk Bintuni

Sunset dari atas perahu

Sunset dari atas perahu

Tiba-tiba perahu kami terhenti pukul 6.15 malam. Biasanya kalau perahu terhenti begini perahu kami terombang-ambing tak terkendali ke segala arah. Apalagi malam itu ombaknya lumayan besar. Selama hampir 2 bulan, perahu ini tidak pernah mogok, kalaupun tiba-tiba macet hanya sebentar saja kemudian baik kembali. Bang Iwan nahkoda perahu kami selalu sigap dalam keadaan seperti ini. Dibalik kesigapannya ia selalu tersenyum kepada kami dan mengatakan kalau perahunya mogok sebentar karena kurang oli. Malam itu menjadi malam yang berbeda untuk kami semua. 30 menit berlalu, perahu kami tetap mengapung terombang-ambing ke segala arah. Kami semua mulai agak-agak pusing. Meskipun demikian kami berusaha tidak panik. Saya dan seorang kawan kemudian pindah ke dek depan untuk bercengkerama. Saya membuka kaleng kola supaya saya bisa bersendawa mengeluarkan semua angin dari dalam perut saya. Sewaktu saya tidak sengaja melihat expired date di kalengnya, ternyata sudah 2 bulan expired. Oh God! Saya langsung muntah-muntah saat itu juga. Beberapa teman juga mulai mual dan mabuk lalu muntah-muntah. Tak seperti biasanya, bang Iwan malam itu tampak panik mencari kerusakan mesin perahu. Ia berkali-kali memperbaiki ini itu dan mencoba menyalakan mesin tetapi mesin tetap tak menyala sama sekali. Ia tampak berkeringat dingin menatap mesin perahu kami. Seorang teman yang biasanya tak pernah sembahyang tiba-tiba malam itu sembahyang di dalam ruangan dek. Orangnya yang biasanya santai menghadapi situasi buruk terlihat pucat.

Setengah jam setelah perahu mogok, kami masih bisa tersenyum

Setengah jam setelah perahu mogok, kami masih bisa tersenyum

3 jam berlalu, kami masih terombang-ambing di lautan Teluk Bintuni. Lautan yang sepi dari lalu lalangnya kapal atau perahu. Kami memang bisa melihat daratan di sisi utara, karena perahu ini memang berlayar tidak jauh dari daratan. Namun daratan di utara kami ini adalah hutan manggrove lebat berlumpur yang banyak binatang liarnya. Kalau terjadi apa-apa di laut, daratan ini bukan alternatif yang baik untuk menyelamatkan diri. Kami semua di dalam perahu sudah pusing dan mual kuadrat seperti di wahana permainan ombak banyu yang tak pernah berhenti. Kami hanya bisa berdoa supaya ada bala bantuan yang bisa menolong kami. Bang Iwan kemudian mencoba menghubungi bala bantuan lewat sms dari hpnya. Sinyalnya terkadang ada terkadang hanya satu bar. Untung saja sms berhasil dikirim dan bala bantuan segera datang. Alhamdullilah. Bala bantuan yang akan datang dari kota Bintuni ini akan memakan waktu sekitar 3-4 jam untuk menemukan perahu kami. Perahu yang akan menjemput kami ini, masih satu perusahaan dengan perahu yang kami tumpangi. Jadi istilahnya teman menyelatkan teman. Belum ada pusat penyelamatan seperti SAR laut untuk perahu-perahu mogok di laut di daerah ini😦. Perahu-perahu di sini juga belum dilengkapi dengan alat komunikasi memadai seperti sistem radio terpusat. So, kami masih merasa sangat beruntung dengan sinyal satu bar yang menyelamatkan kami.
Kondisi kami satu per satu mulai menurun karena lapar. Kami punya banyak bahan makanan dari mulai beras, mie instant, sarden sampai udang laut. Tapi kami otomatis tidak bisa memasak karena perahu terlalu goyang. Jika kami memaksakan diri untuk memasak di dapur perahu dengan kompor minyak, bisa-bisa perahunya terbakar. Akhirnya kami makan apa yang ada, sisa roti dan biskuit serta mie instant mentah sambil menunggu bala bantuan. Sebagian dari kami naik ke dek paling atas untuk berbaring sambil menatap langit yang penuh bintang. Mencoba mengalihkan pusing dan mual yang kami alami.
Jam 2 kurang sedikit, perahu bala bantuan datang membawa tambang besar. Alhamdullilah, kami tak henti-hentinya bersyukur, kami tertolong. Perahu kami ditarik menggunakan tambang tersebut sampai ke muara sungai menuju ke kota Bintuni. Sebenarnya dari muara sungai ini kota Bintuni masih jauh. Ke dua perahu besar ini kemudian merapat ke daratan. Kami semua beristirahat di sini sampai pagi menjelang untuk memasak dan tidur. Kami bahu-membahu masak nasi dan mie instant di dalam dapur perahu untuk makan bersama. Setelah kenyang kami tidur selama beberapa jam. Yang saya sukai dari perahu-perahu besar ini adalah toilet darurat di bagian paling belakang. Jadi kami tak pernah risau ke mana harus buang air selama perjalanan laut.

Pagi menjelang, wajah-wajah bersyukur tampak di depan saya. Bang Iwan sang nahkoda perahu sudah bisa tersenyum kembali. Teman saya yang tadinya berwajah pucat menjadi ceria kembali. Ke dua orang ini kemudian bercerita tentang kejadian semalam. Bang Iwan yang sudah expert menjadi nahkoda di Teluk Bintuni baru sekali ini mengalami kejadian seperti itu. Ia bilang semalam kami mogok di tempat paling berhantu di lautan Teluk Bintuni, namanya Tanjung Tembuni. Konon katanya di sana banyak hantu laut yang suka menenggelamkan kapal-kapal. Sudah banyak kapal, perahu nelayan bahkan speed boat tenggelam di sana karena alasan yang tak masuk akal. Kebanyakan dari perahu-perahu ini hanya ditemukan rangkanya saja, jasad-jasad orangnya entah ke mana. Saya langsung merinding mendengarnya. Semua orang merinding mendengarnya. Untung saja hari sudah pagi dan kami berada di tempat yang aman. Alhamdullilah, kami tak henti-hentinya bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup oleh sang Maha Pencipta.

Suasana pagi hari setelah berisitirahat di atas perahu di muara sungai Bintuni

Suasana pagi hari setelah berisitirahat di atas perahu di muara sungai Bintuni

Sampai di Jogja beberapa hari kemudian, saya mendapatkan sms dari bang Iwan, katanya penyebab perahu mogok cuma hal sepele yaitu tersumbat plastik kecil. Anehnya plastik itu tak tampak selama kami terombang-ambing di lautan. Hmm entahlah…

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s