Blusukan sampai ke Desa Ulak Austanding, Ogan Ilir

Pertama kali saya menginjakkan kaki di provinsi sumatera selatan, saya merasakan suasana yang berbeda dari daerah lain yang pernah saya kunjungi. Bukan cuma karena aneka macam kulinernya yang lezat, tetapi juga karena bangunan-bangunan rumah panggung yang berjajar dengan rapi masih banyak terlihat di sepanjang jalan di Ogan Ilir. Menyenangkan rasanya melihat arsitektur rumah adat yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakatnya. Selain itu budaya sungai juga sangat erat dengan masyarakat di sini. Sebagai orang jawa yang jarang sekali melihat sungai besar sebagai jalur transportasi dan jalur perekonomian masyarakat, hal-hal kecil yang saya amati di sana menjadi sesuatu yang sangat menarik.

sungai ogan di ogan ilir

sungai ogan di ogan ilir

Pada suatu pagi saya mendapatkan tugas untuk melakukan penelitian di SMPN 2 pemulutan selatan, masih di kabupaten Ogan Ilir. Saya dan seorang rekan saya berangkat pagi-pagi sekali dari Indralaya didampingi oleh pengawas sekolah menggunakan mobil. Awalnya jalan yang kami lalui mulus-mulus saja meskipun  di beberapa bagian jalannya belum diaspal dengan pemandangan padang ilalang yang membentang luas. Sampai pada akhirnya jalan yang kami lewati berubah menjadi kubangan lumpur akibat hujan di daerah itu semalam. Bapak pengawas sekolah yang mendampingi kami bercerita bahwa jalan yang seperti ini dianggap sudah biasa di kabupaten tersebut, terutama di wilayah pedesaan yang jauh dari pusat kota. Daerah pemulutan selatan ini salah satunnya. Kami lalu bertemu dengan bapak kepala sekolah SMP tersebut di sebuah tempat penyeberangan kendaraan. Kami melanjutkan perjalanan dengan perahu karena tidak bisa menggunakan mobil untuk menuju ke sekolah tersebut. Bapak kepala sekolah tinggal jauh dari tempat ia mengajar. Setiap pagi ia harus berangkat pagi-pagi sekali menggunakan motor melalui jalan rusak yang barusan kami lewati. Saya sungguh salut dengan perjuangannya mengajar setiap hari. Ia menyambut kami dengan ramah seraya menjelaskan bahwa untuk menuju ke sekolahnya kami akan menyusuri sungai selama beberapa menit. Saya yang jarang-jarang menggunakan perahu sebagai alat transportasi menjadi sangat excited. Ia dan bapak pengawas sekolah juga bercerita bahwa, jika anda lapar ketika sedang di pedalaman desa seperti ini, janganlah mencari warung nasi. Karena warung nasi tidaklah wajar di daerah sumatera selatan. Saya jadi melongo, kalau kelaparan makan apa dunk pak? Mereka lalu tertawa dan menjawab dengan santai, cari saja pedagang pempek atau tekwan, pasti ada di mana-mana. Ternyata memang benar, ketika kami menunggu kedatangan perahu di dermaga, di sana ada yang jualan tekwan. Pedagang tekwan dan pempek juga ada saja di setiap beberapa rumah.Saya baru tahu ternyata pempek dan tekwan bagi wong kito galo itu sudah seperti makanan sehari-hari, bahkan lebih penting dari nasi.

pedagang tekwan, ada di mana-mana di ogan ilir

pedagang tekwan, ada di mana-mana di ogan ilir

rumah panggung di sepanjang sungai ogan

rumah panggung di sepanjang sungai ogan

Pemandangan dari atas perahu bagi saya sangat menyenangkan. Mulai dari bermacam-macam perahu berbagai ukuran sampai kapal tongkang pengangkut pasir pun lewat di sungai ogan. Bagi pengendara sepeda motor, sudah biasa untuk menaik-turunkan motornya dari perahu dari satu tempat ke tempat yang lain. Rumah-rumah panggung yang masih terbuat dari kayu berjajar rapi di sepinggir sungai. Tampaknya sebagian besar dari pemilik rumah ini juga memiliki perahu sebagai kendaraan pribadinya. Perahu-perahu ini diparkirkan di bawah rumah panggung mereka atau ditambatkan di tepian sungai. Selain mencari ikan secara langsung, para masyarakat di sini juga membuat karamba-karamba dari bambu dengan beratapkan daun-daun kering. Mungkin supaya sekalian bisa nongkrong di atas karamba. Kami akhirnya sampai di desa ulak austanding yang menurut saya namanya unik sekali. Konon ada yang bilang bahwa nenek moyang menamai desa ini dengan bahasa Belanda atau bahasa Inggris. Di desa inilah smpn 2 pemulutan selatan berada. Untuk menuju ke sekolah ini kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak membelah kampung. Kampung yang rumah-rumahnya juga masih banyak yang terbuat dari kayu dengan rawa-rawa yang masih luas. Uniknya penduduk desa bertanam padi di rawa-rawa tersebut dengan metode pertanian khusus menggunakan jaring-jaring. Saya penasaran, bagaimana ya caranya? Yang ngajarin mereka siapa?  Di ujung jalan setapak ini sampailah saya di smpn 2 pemulutan selatan. Meskipun keadaan fisik bangunan sekolah ini sangat mengenaskan dan sering terkena banjir, para siswa yang tempat tinggalnya tidak jauh dari sekolah tampak rajin bersekolah setiap harinya. Para gurupun meskipun ada yang bertempat tinggal berpuluh kilometer dari sekolah, tetap semangat mengajar setiap harinya. Saya kagum dengan mereka para siswa dan para guru di sini. Mereka tetap menjalankan tugas dan belajar dengan keadaan yang sangat minim. Yang saya heran mengapa ya bangunan sekolah di Indonesia itu kebanyakan standar terbuat dari tembok seperti sekolah pada umumnya di Jawa? bangunan seperti ini kan belum tentu cocok ada di daerah lain. Seperti di desa Ulak Austanding yang berawa dan berada di pinggir sungai ogan, menurut saya pribadi sih bangunan sekolah akan lebih cantik dan artistik jika terbuat dari kayu panggung seperti rumah-rumah di sini.

Karamba ikan yang beratap daun kepala kering

Karamba ikan yang beratap daun kelapa kering

suasana pedesaan di ulak austanding

suasana pedesaan di ulak austanding

Bertanam padi di rawa-rawa

Bertanam padi di rawa-rawa

Desa-desa di sumatera selatan terutama di sepinggir sungai ogan ini sebenarnya sangat menarik untuk “blusukan”. Kebudayaan sungai yang sangat melekat di masyarakatnya hampir di segala bidang. Sungai menjadi penyambung nafas dan denyut nadi kehidupan penduduk setiap hari. Berkunjung ke ulak austanding saja untuk saya seperti berada di desa wisata budaya. Sayang saya hanya bisa mampir dan mendeskripsikan sebagian kecil hal-hal menarik di sini.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s