Safari bersama gajah di taman nasional way kambas

Disclaimer : Ini petualangan saya tahun 2012, saat itu masih diperbolehkan safari menaiki gajah. Saat ini (2014) hal tersebut katanya sudah dilarang, untuk kebaikan para Gajah tentunya. Maaf ya Gajah dulu saya pernah menaikimu.

welcome to way kambas!

selamat datang di taman nasional way kambas

Sudah tiga hari saya menginap di rumah teman saya di desa margatiga, lampung timur. Mengapa saya tiba-tiba ada di sini? Ceritanya panjang pemirsa (Emangnya penting diceritain?). Perjalanan saya di pulau sumatra seharusnya dari selatan terus ke utara sampai ke kota Padang. Namun karena ada sesuatu hal saya kembali lagi ke Lampung dari kota Palembang dengan resiko saya akan mengalami perjalanan jauh dari Lampung ke kota Padang (Sungguh pointless, kan?). Saya ingin menghabiskan waktu di Lampung karena penasaran dengan Taman Nasional Way Kambas, ingin melihat gajah di alam liar, ingin melihat gajah di habitat aslinya. Dan waktu yang tersedia hanya di sela-sela perjalanan saya dari Palembang ke Padang.

Teman saya, sebut saja ginda, tinggal hanya satu jam dari way kambas. Pagi di hari ke tiga itu saya bersiap dari jam 8 untuk piknik ke way kambas. Peserta piknik hari itu adalah Saya, ginda dan keponakan ginda bernama ala yang baru berumur 4 tahun. Kami berangkat pukul 9 lebih dan sampai di taman nasional way kambas jam 1 lebih. Lho katanya cuma satu jam? Benar pemirsa! Waktu kami habis di jalan karena mencari mesin ATM, dan mesin ATM baru kami temukan 20 kilometer dari way kambas.
Siang yang cukup terik itu tidak membuat niat saya untuk melihat gajah surut. Apalagi ketika gerbang taman nasional way kambas sudah ada di depan saya. Taman nasional seluas 12.562.139 hektar ini, menurut saya berbeda dengan taman nasional yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Way kambas wilayahnya tampak datar di dataran rendah, tidak bergunung-gunung. Dari pintu gerbang taman nasional, kami masih harus memicu kendaraan kami sejauh 9 kilometer menuju pusat konservasi gajah. Jalan yang kami tempuh berada di pinggir hutan lebat yang di sisi luarnya terdapat pagar berkawat sebagai pembatas antara taman nasional dengan tanah pertanian penduduk. Ginda kemudian bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu, kawan-kawan kami juga mengunjungi way kambas dan menginap di rumahnya. Saat perjalanan menuju ke pusat konservasi gajah, beberapa teman kami dikejar gajah liar yang tiba-tiba keluar dari hutan. Untung saja mereka selamat. Hwaduuuh! saya tidak bisa membayangkan deh kalau kami dikejar gajah di tempat yang sesepi itu. Gajah kan kalau lagi niat lari kan cepat juga larinya.
Sesampainya kami di pusat konservasi gajah, kami beristirahat sejenak sambil memakan bekal yang kami beli di minimarket. Tampak beberapa gajah yang biasa ditunggangi oleh pengunjung ditempatkan di sebuah pelataran penuh dengan pohon rindang. Hari itu bukan hari libur, jadi pengunjung jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ginda bilang kalau hari libur, pengunjung banyak yang datang karena ada berbagai macam atraksi yang ditunjukkan oleh gajah-gajah dan pawangnya.
Safari naik gajah

safari naik gajah way kambas

Saya kemudian ditawari naik gajah oleh pawang gajah yang ada di sana. Paket naik gajah yang ditawarkan ada beberapa jenis, paket menunggang gajah hanya di pelataran Rp 10.000, paket safari setengah jam Rp 75.000, paket safari satu jam Rp 150.000 dan paket safari malam hari yang harganya jauh lebih mahal dari paket-paket yang lain. Karena budget saya terbatas tetapi ingin sesuatu yang berbeda, maka saya ambil paket setengah jam. Saya tidak sendirian dalam safari gajah kali ini, ala menemani saya. Gadis kecil ini ternyata tidak takut naik gajah. Gajah yang saya tunggangi ini bernama haryono, gajah terbesar yang merupakan blasteran gajah way kambas dan gajah Thailand. Pawangnya haryono bernama pak coy yang menemani kami sepanjang perjalanan. Saya sangat excited, karena ini pertama kali dalam hidup saya, saya bisa naik gajah (terharuuu…).

Sepanjang jalan, pak coy menceritakan banyak hal mengenai gajah dan taman nasional way kambas. Saya kemudian merekam perjalanan naik gajah ini dengan kamera pocket saya. Videonya sangat amatir dan berantakan pemirsa😀. Silahkan klik link di bawah ini :
keluarga gajah yang sedang merumput

keluarga gajah yang sedang merumput

Bagaimana pemirsa? apakah tampak seru? Taman nasional way kambas, selain terdapat hutan perawan lebat yang ditumbuhi beraneka macam pohon-pohon tinggi juga terdapat hamparan padang rumput lengkap dengan kubangan yang juga luas,  surga para gajah dan rusa. Gajah-gajah di padang rumput di pusat konservasi gajah ini jumlahnya ada 60 ekor dengan jumlah pawang yang hampir sama banyaknya. Setiap hari mereka digembalakan dan dimandikan di kolam gajah. Sekitar dua puluh kilometer arah ke dalam taman nasional ini terdapat padang rumput yang jauh lebih luas dan jauh lebih indah, kata pak coy. Ada ratusan gajah liar yang hidup di sana. Gajah-gajah inilah yang terkadang suka merusak ladang-ladang petani karena habitatnya merasa terancam. Selain gajah, masih banyak aneka satwa liar yang menjadi penghuni tetap taman nasional way kambas, termasuk harimau sumatra yang sudah mulai berkurang populasinya. Whuaaah mendengar cerita pak coy saja saya sudah merasa seperti di film madagascar! Rasanya ingin menjelajah lebih jauh lagi. Tidak usah jauh-jauh ke Afrika, negara kita juga punya taman-taman nasional yang begitu liar untuk dijelajahi, seperti di way kambas ini.

kolam mandi gajah-gajah way kambas

kolam mandi gajah-gajah way kambas

Setelah 45 menit berlalu, hmm dapet bonus 15 menit nih😀, kami sampai lagi di pelataran tempat atraksi gajah. Sesudah kami say bye bye ke haryono dan pawangnya, kami menuju ke kolam gajah. Waktu menunjukkan jam setengah 4 sore, waktu di mana gajah-gajah giliran untuk mandi sore. Kolam seluas beberapa ratus meter itu kemudian dipenuhi gajah-gajah yang sedang mandi. Mandinya sih tidak lama, hanya beberapa menit, yang penting lumpur-lumpur di tubuh mereka luruh terbawa air.  Setelah semua gajah di tempat konservasi ini mandi, mereka dikumpulkan dan ditambatkan ke sebuah pelataran gajah yang disebut dengan kandang gajah. Kandang beratapkan langit yang sebenarnya membuat mereka lebih nyaman daripada kandang gajah seperti di kebun binatang.

6 Komentar

Filed under Keliling Indonesia

6 responses to “Safari bersama gajah di taman nasional way kambas

  1. Sih A

    nice trip sist🙂
    saya rencana akhir bulan mau kesana….

  2. Biayanya sekitar Rp 200.000 per orang tapi tergantung durasinya sih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s