Pantai air manis, Malin Kundang dan Pemalakan si Uda

Yeah! finally! saya menginjakkan kaki di ranah Minang. Selain untuk mengerjakan sebuah tugas penelitan, tujuan utama saya tentu saja adalah jalan-jalan dan blusukan. Tujuan pertama saya di ranah minang adalah the famous batu malin kundang di pantai air manis, kota padang. Saya cuma penasaran saja sih apakah benar batunya berbentuk seperti orang yang sedang bersujud. Selama di kota padang saya tinggal di rumah orang tua sahabat saya di daerah seberang padang. Pas di tengah-tengah kota. Yang menyenangkan di kota padang adalah transportasi umum berupa angkot amatlah mudah dijumpai di jalan raya kota padang. Trayeknya ke berbagai jurusan dan waktu beroperasinya pun sampai jam 9 malam.
Kali ini saya pergi ke pantai air manis ditemani 2 teman saya, sebut saja pakdhe dan pampam. Pagi-pagi kami sudah siap nyegat angkot nomer 433 dari seberang padang ke pelabuhan teluk bayur. Ada dua jurusan angkot yang bisa dinaiki dari pasaraya padang (pusat kota padang) yaitu no 433 dan no 402. Angkot no 402 sangat jarang jumlahnya, biasanya baru lewat satu jam sekali. Tetapi angkot no 402 langsung menuju ke pantai air manis dengan tarif Rp 5000. Kami memilih menggunakan angkot no 433 karena lewat setiap 5 menit sekali dan kami penasaran juga dengan pelabuhan teluk bayur yang termahsyur itu. Tarif angkot no 433 ini hanya Rp 3000 saja. Ketika masuk kawasan teluk bayur, kita tinggal meminta supir angkot untuk menurunkan di jalan menuju air manis. Pantai air manis letaknya ada di balik bukit air manis, jadi jika tidak langsung menaiki bukit dengan kendaraan umum, maka kami harus mendaki bukit dengan berjalan kaki.

Trek antara teluk bayur ke air manis

Trek antara teluk bayur ke air manis

Hari itu bukan hari libur , jadi jalan setapak ke pantai air manis ini terlihat sepi. Kami berjalan mendaki dan menurun sekitar 600 meter dari teluk bayur hingga pantai . Mendakinya lumayan juga, bisa membakar beberapa kalori. Menurut saya, tempat ini cocok sekali untuk sekedar trekking dan olahraga warga kota Padang. Selain letaknya tidak jauh dari pusat kota, jalan setapak yang berada di tengah hutan lindung ini juga sangat asri dan terjaga. Setelah sekitar 30 menit trekking akhirnya sampailah kami di kawasan wisata pantai air manis. Begitu kami melangkah menuju ke pantai, kami dicegat oleh uda-uda yang meminta uang masuk ke pantai. Awalnya 2 teman saya menolak untuk membayar dan mengeluarkan beberapa argumen bahwa yang dilakukan oleh si uda adalah pemalakan karena tidak ada karcis resminya. Namun karena kami malas mencari masalah dan si uda tetep kekeuh untuk meminta uang maka kami memberinya Rp 9000 untuk 3 orang. Sebenarnya saya sangat menyayangkan ada kejadian seperti ini di tempat wisata. Jika memang hal seperti ini memang tidak resmi kenapa tidak diberantas ya sama pemerintah kota Padang? Atau kalau memang harus membayar karcis ketika masuk lewat teluk bayur, kenapa tidak mendirikan loket resmi saja di sana? Jujur saja sebagai traveler yang sudah lumayan jalan-jalan ke berbagai tempat di nusantara, saya baru merasakan pemalakan di pantai air manis ini. Meskipun saya jadi agak bete, saya tidak ingin mood jalan-jalan saya jadi rusak karena kejadian ini.
Kami kemudian berjalan menuju the famous batu Malin Kundang. Memang bentuknya benar-benar seperti orang yang sedang bersimpuh ketakutan karena dikutuk sang bundo kanduang. Ada yang bilang bahwa batu yang sekarang ini sudah dimodifikasi agar bentuknya benar-benar mirip orang bersujud, tetapi ada yang bilang juga bahwa puluhan tahun yang lalu bentuk aslinya memang seperti orang bersujud. So mana yang benar nih? Yang jelas legenda Malin Kundang yang termahsyur ini, merupakan kisah yang bisa mengingatkan kita bahwa kita harus selalu hormat dan menyayangi orang tua kita, apalagi Ibu. Mom’s words is powerfull men! Ya ga sih?🙂 Selain batu ini, di bagian lain juga terdapat batu-batu yang konon merupakan pecahan kapal Malin Kundang lengkap dengan drum-drum kayu, serta tali-temali kapal yang terbuat dari semen.

The famous batu malin kundang

The famous batu malin kundang

Kapal malin kundang yang juga membatu

Kapal malin kundang yang juga membatu

Pantai air manis yang berpasir hitam ini tampak begitu hijau karena di sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon pinus sebagai peneduh. Jadi pengunjung tidak merasa terlalu kepanasan di sini. Selain itu banyak terdapat gazebo-gazebo kayu untuk beristirahat. Tetapi kalau ingin duduk-duduk di sana tampaknya kita harus menyewanya. Yang membuat pantai ini menarik adalah jika anda berjalan ke arah utara, maka pasirnya menjadi semakin terang dan putih. Di pantai ini juga terdapat 2 pulau yang berada di lepas pantai yaitu pulau pisang kecil dan pulau pisang besar. Jika air surut kita bisa berjalan kaki menuju pulau pisang kecil. Jika ingin ke pulau pisang besar, banyak terdapat perahu yang bisa disewa. Saya sendiri waktu itu rasanya ingin menyeberang ke pulau, namun karena ke dua teman lelaki saya harus melaksanakan sholat jumat, maka kami segera pulang ke seberang padang dengan menggunakan angkot no 402.

Pantai berpasir hitam air manis

Pantai berpasir hitam air manis

Bagian utara pantai air manis, pasirnya lebih putih

Bagian utara pantai air manis, pasirnya lebih putih

Pulau pisang kecil dan pulau pisang besar

Pulau pisang kecil dan pulau pisang besar

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s