Nongkrong ala uda uni batusangkar di warung kawa daun

Pada zaman kolonial Belanda dahulu banyak masyarakat Batusangkar menjadi petani kopi. Sayangnya mereka tidak bisa menikmati hasil biji kopinya karena semuanya diekspor ke negara penjajah. Hanya penjajah saja yang berhak minum kopi. Bisa minum biji kopi pada kala itu merupakan suatu prestige tersendiri. Saking pengennya para petani dan masyarakat minum kopi akhirnya mereka berinovasi membuat minuman dari daun kopi yang dikeringkan dan diasap hingga kering, kemudian diseduh dengan air panas menggunakan bambu dan saringan tradisional. Minuman ini disebut dengan kawa daun dengan warna dan rasa mirip seperti kopi. Begitulah cerita uda Doni ketika kami mengunjungi salah satu warung kawa daun dan gorengan yang banyak berjejer di jalan antara Batusangkar-Bukittinggi. Mendengar cerita tersebut rasanya miris. Kejem banget sih penjajah, orang sini sudah susah-susah menanam, minum hasilnya saja tidak boleh. Untung saja orang-orang Batusangkar ini cukup kreatif memanfaatkan daunnya menjadi minuman yang saat ini justru lebih digemari oleh masyarakat.

Kawa daun yang nikmat disajikan panas

Kawa daun yang nikmat disajikan panas

Dinginnya malam itu di lembah antara gunung sago dan gunung marapi menjadi hangat dengan minuman kawa daun yang saya pesan bersama teman-teman saya. Kami baru saja pulang jalan-jalan dari Istana Basa Pagaruyuang menuju ke rumah host kami yang ada di Baso, Bukittinggi. Untuk menemukan warung kawa daun di Batusangkar memang mudah, di sepanjang jalan Hamka ke utara banyak sekali warung kawa daun dan gorengan. Kami memilih salah satu warung yang lumayan luas dan pengunjungnya banyak. Kawa daun disajikan di warung-warung ini bukan menggunakan gelas atau cangkir, melainkan dengan tempurung batok kelapa yang di bawahnya dilandasi bambu supaya tidak tumpah. Hmm rasanya seperti minum jamu kalau di Jogja. Kawa daun bisa diminum dengan atau tanpa gula. Ada pula menu kawa jahe,kawa susu atau kawa susu telur madu, seperti minuman STMJ. Selain kawa daun warung-warung tempat nongkrongnya uda-uni Batusangkar ini juga menyajikan aneka macam gorengan panas yang cara makanya dicelupkan ke kuah sambal. Hmm enak sekali. Anyway karena saya suka kopi tetapi suka sakit perut sehabis minum kopi, minuman kawa daun ini merupakan jawaban yang pas untuk keinginan saya minum kopi. Menurut saya rasanya mirip kopi tetapi tidak memberikan efek rasa bersalah setelah minum kopi. Seperti minuman dengan rasa di antara teh dan kopi. Minuman kawa daun juga tidak pahit seperti kopi. Kawa daun juga memiliki kandungan kafein yang lebih sedikit dan kandungan antioksidan lebih tinggi. Jika ingin membawa pulang daun kopi kering yang tinggal seduh, kita tinggal membelinya di warung-warung ini juga dengan beraneka ukuran kemasan.

Enjoying my kawa daun

Enjoying my kawa daun

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia, Travel Food and Fruit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s