Menilik kebudayaan minang lama dari pariangan sampai ke balimbing #2

selamat datang di balairung sari tabek

selamat datang di balairung sari tabek

Dari nagari tuo Pariangan, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah bangunan bersejarah lainnya yang masih berlokasi di kec Pariangan, Tanah Datar. Bangunan ini masih mempunyai hubungan yang erat dengan sejarah asal mula suku Minangkabau yang ada di nagari Pariangan. Salah satu tetua adat Minang yang dimakamkan di nagari Pariangan yaitu Datuak Tantejo Gurhano adalah seorang perancang cikal bakal dari bangunan adat minang seperti rumah gadang dan balairung. Salah satu peninggalannya yang kini menjadi cagar budaya adalah balairung sari tabek. Menurut keterangan yang ada di papan cagar budaya, balairung ini dibangun pada abad 18 masehi. Balai ini dibangun dengan jenis-jenis kayu pohon juar dan beratapkan ijuk serta berlantai panggung. Terdapat 18 pasang tiang kayu yang menyangga balairung ini. Salah satu tiangnya terbuat dari kayu teras jilatang yang dianggap mempunyai kharisma tersendiri oleh masyarakat Minangkabau. Panjang bangunan ini mencapai 49,47 meter dengan lebar 4 meter. Atapnya memiliki 6 gonjong yang bertumpuk-tumpuk. Diujung gonjong yang paling tinggi terdapat lambang bulan dan bintang sebagai pemaknaan bahwa adat masyarakat Minangkabau juga berlandaskan agama islam. Konstruksi bangunan balairung ini sama sekali tidak boleh dirubah atau direnovasi menggunakan bahan yang berbeda. Harus dengan bahan sesuai aslinya. Sebagai contoh atapnya hanya boleh memakai ijuk dan bambu tidak boleh digantikan dengan seng atau genteng.

selasar balairung sari tabek

selasar balairung sari tabek

Ketika saya sampai di tempat ini, saya takjub. Panjang sekali balaiurung ini. Sampai tidak bisa masuk semua dalam frame kamera saya. Tampak balairung ini masih sangat terawat dengan baik, karena memang masih difungsikan oleh masyarakat untuk bermusyawarah.  Pada jaman awal berdirinya balairung ini yang bermusyawarah di tempat ini adalah ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai dan bundo kanduang. Saat ini masyarakat dan pemerintah setempatpun menggunakan balairung ini untuk bermusyawarah. Jika tidak sedang digunakan, masyarakat sekitar menyambangi balairung ini untuk sekedar bercakap-cakap dengan kawan, atau membaca koran. Tampak beberapa orang yang tertidur di Balairung ini. Tampaknya mereka tersihir oleh udara nyaman dan angin sepoi-sepoi yang berhembus disekelilingnya. Mengunjungi balairung ini, saya semakin kagum dengan kebudayaan minangkabau. Sedari dahulupun mereka sudah mengutamakan musyawarah mufakat dengan cara bertukar pikiran bersama di satu tempat. Jika anda sedang berada di kabupaten Tanah Datar atau anda penyuka arsitektur kuno etnik Indonesia, jangan lupa singgah ke Balairung sari yang ada di nagari tabek.

Salah satu sisi balairung sari tabek nan panjang

Salah satu sisi balairung sari tabek nan panjang

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s