Menilik kebudayaan minang lama dari pariangan sampai ke balimbing #3

Hari beranjak siang, jalan yang kami lalu masih meliuk-liuk dengan pemandangan alam yang tak pernah membuat mata bosan. Sawah bertingkat dengan latar belakang pegunungan dan perbukitan hijau adalah hal biasa di kabupaten Tanah Datar ini. Karena saya jarang-jarang melihat yang segar-segar seperti ini, rasanya saya ingin bisa tinggal di daerah seperti ini. Kendaraan roda dua kami melaju ke sebuah desa yang juga menjadi icon wisata kab Tanah Datar yaitu nagari Balimbing. Awalnya saya meminta uda Doni untuk mengajak kami ke rumah bagonjong yang sudah sangat tua. Setelah googling dan mendapatkan cukup informasi, akhirnya kami memutuskan untuk ke Balimbing. Seperti di nagari Pariangan, di nagari Balimbing juga terdapat beberapa rumah Bagonjong yang umurnya sudah ratusan tahun. Salah satunya yang paling tua adalah rumah gadang kampai nan panjang. Keunikan rumah ini adalah dibangun full dengan kayu dan tanpa menggunakan paku. Wow! saya sendiri sempat bertanya-tanya, bagaimana caranya ya menyambungkan kayu yang satu dengan kayu yang lain tanpa paku?

rumah gadang tuo kampai nan panjang di Balimbing

rumah gadang tuo kampai nan panjang di Balimbing

Kami disambut oleh salah satu keturunan datuk penghulu basa yang mendirikan rumah gadang ini. Ia bilang usia rumah ini sudah mencapai 350 tahun lebih tua dari istana pagaruyuang sebelum terbakar. Setelah mengisi buku tamu, kami kemudian memasuki rumah yang seluruh dinding, atap dan lantainya berwarna hitam. Untuk memasuki rumah ini, kami harus menaiki tangga kayu kecil dan memasuki pintu kecil yang berbentuk oval. Di dalam rumah ini terdapat 6 bilik yang berukuran kecil. Pada jaman dahulu di ranah Minang, kamar tidur hanya berukuran kecil-kecil dan hanya digunakan untuk tidur dan menyimpan barang-barang penting. Selebihnya mereka menggunakan ruangan utama untuk berbagai aktivitas dari mulai memasak hingga belajar. Di dalam ruangan utama terdapat berbagai macam alat-alat makan dan memasak yang terbuat dari anyaman bambu dan tanah liat. Ada pula tungku api yang ukurannya kira-kira 1×1 meter persegi. Menurut saya, lumayan juga ukurannya untuk rumah gadang yang tidak terlalu luas ini. Saya masih penasaran juga dengan tungku ini, jaman dahulu kalau masak di dalam ruangan yang kayu semua bagaimana caranya supaya tidak kebakaran ya? Konstruksi rumah gadang ini memakai sistem pautan antar kayu, sehingga tidak menggunakan paku satupun. Langit-langitnya terlihat jelas, sehingga kita bisa melihat rangkaian atapnya. Atap rumah ini memiliki 2 tumpuk gonjong. Hebat sekali ya yang membangun bangunan ini, rasanya seperti main lego dan puzzle menggunakan kayu-kayu. Rumah ini masih digunakan untuk rapat-rapat adat dan upacara adat pada hari-hari tertentu.

Jendela-jendela di rumah tuo kampai nan panjang

Jendela-jendela di rumah tuo kampai nan panjang

Bagian dalam ruamh tuo kampai nan panjang

Bagian dalam ruamh tuo kampai nan panjang

Selain rumah gadang tuo, di nagari Balimbing ini juga banyak terdapat rumah-rumah bagonjong tuo yang masih terbuat dari kayu. Ada pula rumah-rumah gadang cantik yang atapnya sudah terbuat dari seng. Terdapat pula surau kuno tempat beribadah yang letaknya ada di pinggir sungai. Sayang surau ini tampak sudah tidak bisa dipakai lagi. Sepertinya tinggal di desa ini dengan cara homestay di rumah penduduk dan melihat aktivitas keseharian yang masih menjunjung tinggi adat adalah hal yang sangat menyenangkan. Desa ini menawarkan banyak hal-hal kuno dan tradisional yang asyik untuk wawasan kita.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s