Nongkrong sore ala anak muda sawahlunto di lapangan segitiga dan puncak cemara

sunset di depan base camp saya di sawhlunto

sunset di depan base camp saya di sawhlunto

Sebulan tinggal di kota tambang sawahlunto, membuat saya terbiasa nongkrong dan jajan ala anak muda setempat di lapangan segitiga. Lapangan segitiga pas berada di tengah-tengah kota Sawahlunto. Di sekitar lapangan ini terdapat beberapa bangunan dan museum yang wajib dikunjungi jika ke kota sawahlunto. Sayang karena saya terlalu sibuk kerja setiap hari dan hari libur, saya hanya luang di sore hari jadi ga bisa masuk museum😦. Sembari jajan makanan seperti mie ayam, sate padang dan capuccino cincau, saya terbiasa mengamati bangunan-bangunan peninggalan tambang yang menurut saya spektakuler. Salah satu yang paling saya anggap wow adalah menara masjid besar sawahlunto. Menara masjid ini dulunya adalah cerobong asap pembakaran batubara. Tingginya mencapai 85 meter. Ini merupakan bangunan tertinggi se-sawahlunto yang kotanya dikelilingi perbukitan. Entah mengapa nongkrong sore di lapangan ini membuat lelah saya selama bekerja seharian menjadi hilang, mungkin karena suasananya.

Bangunan kuno pusat perkantoran pertambangan di sawahlunto

Bangunan kuno pusat perkantoran pertambangan di sawahlunto

Bangunan peninggalan belanda lainnya di sekitar lapangan segitiga

Bangunan peninggalan belanda lainnya di sekitar lapangan segitiga

Masjid besar sawahlunto dan menaranya yang terbuat dari cerobong asap

Masjid besar sawahlunto dan menaranya yang terbuat dari cerobong asap

Sore itu pas nongkrong di lapangan segitiga ada yang lain di sana. Ternyata sedang ada pertunjukan tari dari ISI padang panjang. Mereka mempertunjukkan tari persembahan, tari piring, tari lilin dan pertunjukan seni lainnya. Malam itu pertama kalinya saya nonton tari piring dari awal sampai akhir. Saya sangat takjub karena piringnya benar-benar dipecah dan diinjak-injak. Para penarinya bahkan tidak terluka sekalipun. Bagaimana bisa ya? Setelah pertunjukan berakhir kami menghampiri para penari-penari ini dan berfoto bersama. Saya suka sekali melihat pakaian-pakaian adat minang untuk menari ini. Cantik sekali!

Tari persembahan dari ISI padang panjang di lapangan segitiga

Tari persembahan dari ISI padang panjang di lapangan segitiga

Tari piring

Tari piring

Kalau pas saya dan teman-teman penelitian saya sedang tidak lembur, malamnya kami nongkrong di puncak cemara. Puncak ini adalah puncak tertinggi di kota sawahlunto. Letaknya tidak jauh dari kota tetapi jalannya sangat menanjak. Harus hati-hati jika naik kendaraan bermotor. Pemandangan malam hari kota sawahlunto terlihat sangat cantik dari sini. lampu-lampu kota berkerlipan bak bintang. Di puncak ini juga banyak bintang pas langit cerah. Untuk menemani malam kami melihat pemandangan, kami biasa memesan kopi hangat dan jagung bakar aneka rasa. Anak-anak muda paling senang ke tempat ini waktu malam minggu untuk bertemu teman-teman dan pacaran😀.

Kota sawahlunto di malam hari dari puncak cemara

Kota sawahlunto di malam hari dari puncak cemara

Sebulan di sawahlunto dan tidak ke museum-museumnya ternyata mebuat saya menyesal sampai rumah😦, semoga saja kapan-kapan bisa balik lagi.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s