Ini karena penasaran…maka ke gunung kemukus

gunung kemukus

waduk wediombo di gunung kemukus

Pernah dengar tentang gunung kemukus? Gunung kemukus adalah makam dari pangeran samudra, seorang pangeran dari akhir dinasti majapahit yang hijrah dari jawa timur ke daerah demak. Namun sebelum sampai demak, ia meninggal dunia di lokasi yang disebut gunung kemukus ini. Begitulah cerita yang saya dengar dari masyarakat desa bagor, desa yang letaknya hanya beberapa kilometer dari gunung kemukus. Meskipun dekat dengan desa bagor, masyarakat desa mengaku tidak pernah ke lokasi tersebut, karena takut.

Kenapa menakutkan? gunung kemukus terkenal sebagai tempat mencari pesugihan yang happening terutama untuk kalangan masyarakat yang percaya kejawen dan hal-hal mistik. Ritual yang dilakukan untuk pesugihan adalah dengan cara memohon di makam lalu bercinta dengan lawan jenis yang belum dikenal sebelumnya. Ada yang bilang ritualnya dilakukan 7 kali berturut-turut pada malam jumat pon, ada pula yang bilang ritualnya dilakukan 7 malam berturut-turut. Yang bener yang mana? whatever! haha. Silahkan googling sendiri😀. Yang jelas, menurut keterangan pak carik desa bagor, lokasi ini lama-lama kemudian berkembang menjadi red distrik di jawa tengah.
Mendengar cerita tersebut, saya semakin penasaran untuk melihat lokasi ini. Hmmm seperti apa ya? Pak carik mengijinkan saya dan teman-teman bermain ke gunung kemukus dengan syarat jangan datang kesana pada malam hari, nanti bisa ditawar, diajak melakukan ritual atau paling apes digrebeg satpol PP dan polisi.
Pada pagi harinya, saya dan teman-teman satu tim penelitian saya meluncur ke TKP dengan motor bersama-sama. Saya yakin teman-teman saya juga penasaran dengan tempat ini, terutama teman-teman cowo. Setelah melewati beberapa dusun dan hutan jati sampailah kami di gunung kemukus yang memang tidak ada gunungnya, hanya bukit kecil yang menonjol. Lokasi ini berada di ujung selatan waduk kedung ombo sehingga di pinggirnya terdapat perahu-perahu yang menyeberangkan penduduk dari desa sebelah. Waduk kedungombo pagi itu tergolong surut, sehingga di pinggiranya dimanfaatkan oleh penduduk untuk ditanami jagung. Beberapa orang terlihat menyeberangi jembatan yang sudah terendam beberapa tahun ini untuk melakukan ritual sadranan di makam pangeran samudera sambil membawa sesembahan. Rombongan ibu-ibu berjilbab juga terlihat menaiki perahu sambil membawa berkah makanan yang sudah didoakan dari ritual sadranan tersebut.
Setelah puas menikmati pagi di waduk, beranjaklah kami ke pelataran makam dengan melewati jalanan yang membelah dusun. Dusun ini sangat berbeda dengan dusun-dusun yang ada disekitarnya. Rumah-rumahnya berjajar padat. Rumah-rumah tersebut disewakan oleh penduduk sebagai hotel dan penginapan dengan lebar kamar yang sempit-sempit. Kok tahu? Saya dan teman-teman saya berjalan sambil mengintip ke dalam sih😀. Selain penginapan, di lokasi ini juga terdapat bar dan tempat karaoke dengan baliho-baliho kecil yang disponsori oleh beberapa merek minuman beralkohol. Beberapa wanita berambut panjang dan berpakaian sedikit sexy keluar dari rumah sambil menyisir rambutnya yang habis dikeramas. Oke, baiklah saya percaya ini adalah red distrik! Beberapa orang yang kami lewati terlihat memperhatikan kami dengan aneh, mungkin mereka pikir kami adalah anak-anak KKN yang penasaran dengan gunung kemukus. Benar saja, ketika kami memarkir kendaraan seorang mbak-mbak mempertanyakan kedatangan kami di tempat ini sebagai anak KKN😀.
Untuk menuju ke makam pangeran samudra yang berada di atas, kami berjalan kaki menaiki beberapa anak tangga sampai ke bangunan utama makam yang berbentuk joglo. Di sekitar bangunan ini terdapat pohon-pohon beringin besar yang usianya sudah ratusan tahun, menambah suasana mistik tempat ini. Nampak beberapa pengunjung antri bergantian keluar masuk bangunan utama makam. Menurut keterangan seorang bapak yang sedang menyapu sisa-sisa sampah bekas upacara sadranan tadi pagi, pengunjung gunung kemukus ada yang murni berziarah, ada yang memang ingin meminta sesuatu sambil berdoa di makam dan ada yang memang mencari pesugihan melalui bercinta dengan orang tidak dikenal. Tempat ini selalu ramai pada malam jumat pon dan kebanyakan pengunjungnya berasal dari luar kota.
Akhirnya rasa penasaran kami setelah mengunjungi gunung kemukus tersalurkan sudah. Meskipun demikian masih terbersit pertanyaan tentang tempat ini di benak saya. Siapa sih yang awalnya menyebarkan mitos tentang pesugihan dengan cara bercinta ini? Dan siapa sih yang pertama kali melihat peluang tempat ini dijadikan usaha red distrik? Hehe, tampaknya saya harus googling kembali.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s