Berkunjung ke Equator Bonjol dan Museum Tuanku Imam Bonjol

gapura equator bonjol

gapura equator bonjol

Kalau di Pontianak ada tugu khatulistiwa yang terkenal se-nusantara, di propinsi sumatera barat juga ada monumen equator bernama equator Bonjol. Kebetulan karena langkah kaki saya terbawa nasib sampai ke kabupaten pasaman untuk tugas penelitian, saya dan rekan-rekan penelitian saya menyempatkan diri untuk mampir ke sini. Nama bonjol sendiri tidak asing di telinga saya. Ternyata di kecamatan inilah Tuanku Imam Bonjol , pahlawan nasional kita lahir dan berasal. Di kecamatan ini pada zaman perang dahulu juga terdapat benteng milik kaum pederi yang hancur dikepung oleh penjajah.

Di pinggir jalan monumen equator ini juga terdapat gapura yang bertuliskan anda melintasi khatulistiwa. Dengan melintasi gapura itu otomatis kita berpindah belahan bumi dari utara ke selatan atau sebaliknya. Monumen equator di tempat ini berupa sebuah tugu kecil dengan bola dunia di atasnya. Di sepanjang tempat ini juga diberikan garis di atas jalan yang menggambarkan titik 0 garis equator. Konon katanya di saat-saat tertentu kita bisa mendirikan telur di garis equator ini.

tugu equator bonjol

tugu equator bonjol

Garis equator bonjol

Garis equator bonjol

Selain monumen equator, di lokasi ini terdapat sebuah museum berarsitektur Minangkabau yang dipersembahkan untuk tuanku imam bonjol yang dilahirkan pada tahun 1772. Di depan museum ini terdapat patung pahlawan perang paderi kita yang sedang menunggang kuda mengacungkan pedang. Saya dan teman-teman menyempatkan diri masuk ke museum ini walaupun sudah hampir tutup. Kami hanya membayar Rp 2500 per orang. Koleksi museum yang terdiri dari 2 lantai ini sebenarnya lumayan banyak dan menarik, hanya saja terlihat agak pengap dan kurang terurus😦. Benda-benda sejarah yang dipamerkan di museum ini berupa aneka macam senjata peninggalan perang paderi berupa keris, pedang sampai meriam kuno. Saya malah baru tahu kalau di Sumatera Barat ada keris juga seperti di Jawa. Hanya saja kerisnya lebih panjang daripada keris Jawa pada umumnya. Lukisan-lukisan yang menggambarkan perjuangan tuanku imam bonjol ketika jaman perang juga banyak dipajang di museum ini. Ada pula peninggalan alat-alat masak tradisional, uang-uang kuno dan perabotan yang dulu digunakan sewaktu jaman perang.

Museum tuanku Imam Bonjol tampak depan

Museum tuanku Imam Bonjol tampak depan

Keris peninggalan jaman perang paderi

Keris peninggalan jaman perang paderi

suasana di dalam museum tuanku Imam Bonjol

suasana di dalam museum tuanku Imam Bonjol

meriam peninggalan perang paderi

meriam peninggalan perang paderi

Memasuki museum ini saya jadi teringat dengan pelajaran sejarah yang saya terima di sekolah dasar dahulu. Pada waktu itu Tuanku Imam Bonjol digambarkan sebagai sosok kaum paderi yang gigih melawan Belanda. Perang paderi sendiri awalnya adalah perang saudara antara kaum paderi dan kaum adat di Minangkabau. Sedih juga mendengarnya, perang kok sesama saudara satu suku. Ketika sudah banyak korban mereka baru sadar siapa musuh sebenarnya yaitu penjajah Belanda. Sayangnya ketika mereka sudah bersatu dan Tuanku Imam Bonjol diajak berunding oleh Penjajah, nasibnya sama seperti Pangeran Diponegoro yaitu ditangkap dan diansingkan hingga meninggal di dekat kota Manado, Sulawesi Utara. Berkunjung ke sebuah museum memang sebaiknya tidak hanya melihat-lihat apa saja barang-barang di dalamnya tetapi cerita sejarah di baliknya. Dengan meresapi cerita sejarah tersebut kita bisa merasakan dan mengapresiasi perjuangan mereka, sebagai pelajaran untuk kita dan bangsa kita sendiri ke depanya. So ? No more perang saudara lah karena agama atau perbedaan suku di Indonesia ini. I wish!!

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s