Sehari menyapa kota wisata Bukittinggi, dari Ngarai Sianok, Jam Gadang hingga Pasar Atas

Bersiap mengambil foto view dari Ngarai Sianok

Bersiap mengambil foto view dari Ngarai Sianok

Petualangan saya di provinsi Sumatera Barat berlanjut! Setelah seminggu saya dan teman-teman penelitian saya tinggal di kota Lubuk Sikaping, kami pindah ke kota Bukittinggi, kota wisata yang tersohor di Sumatera barat. Yak! Siapa sih yang ga pernah dengar kota Bukittinggi tempat the famous jam gadang berada? Hari itu hari sabtu, Kami hanya punya waktu seharian di kota ini. Meskipun ini ke dua kalinya saya berada di Bukittinggi saya tetap bersemangat untuk jalan-jalan menikmati suguhan pemandangan alam ngarai sianok dan keramaian suasana di pelataran jam gadang. Sebagai traveler ngirit hari itu kami muter-muter naik angkot. Selain murah dan mudah, ada banyak jalur yang dilalui angkutan umum di kota Bukittinggi.

tebing dan lembah di Ngarai Sianok, Bukittinggi

tebing dan lembah di Ngarai Sianok, Bukittinggi

Mumpung masih pagi tujuan pertama kami tentu saja adalah Ngarai Sianok. Dahulu pertama kali saya mengunjungi ngarai sianok, saya kira lokasi ini berada jauh di luar kota Bukittinggi. Ternyata lokasi lembah-lembah jurang ini berada pas di kota Bukittinggi, tidak jauh dari Jam Gadang. Bahkan bisa ditempuh dengan cara jalan kaki selama 20 menit dari jam gadang. Nama taman untuk melihat view ngarai sianok ini adalah taman panorama. Ngarai ini panjangannya mencapai 15 km membentang dari kota Bukittinggi sampai Palupuh. Ngarai ini terbentuk dari sebuah gempa patahan yang membuat bagian tengahnya turun membentuk lembah dan lereng selebar 200 meter ratusan tahun yang lalu. Terdapat sebuah jalan raya yang membelah ngarai ini menuju ke kecamatan Palupuh. Jika waktu itu saya punya banyak waktu, sepertinya menyenangkan juga bermotor ria di jalan raya di antara ngarai dengan pemandangan indah di kanan kiri jalan🙂. Di tengah ngarai ini juga mengalir sebuah sungai bernama batang sianok yang terkadang dimanfaatkan untuk jelajah sungai dan bermain kano. Wih! menarik! sayangnya kami tidak siap berbasah-basahan hari itu. Kami hanya menjelajah taman Panorama ini dari ujung ke ujung, menikmati keindahan lembah patahan yang kini hijau penuh dengan pepohonan. Dari view point ini juga terlihat perkampungan yang dibangun di lembahnya. Di taman panorama yang juga banyak satwa kera ekor panjang ini juga terdapat pasar seni kerajinan ala Minangkabau.
Ngarai Sianok dilihat dari taman panorama Bukittinggi

Ngarai Sianok dilihat dari taman panorama Bukittinggi

Tidak hanya view point ngarai sianok, di taman panorama ini juga terdapat sebuah terowongan peninggalan Jepang yang panjangnya mencapai 6 km. Salah satu terowongan terpanjang di Asia. Untuk memasuki lubang Jepang ini, pengunjung harus membeli tiket terpisah dari taman panorama. Satu tiket seharga Rp 10.000. Kami lalu masuk dan meniti 132 anak tangga ke bawah lubang ini. Cukup jauh juga! Turunya sih gapapa, naiknya lumayan nih buat ngurusin badan🙂 . Dibalik kehebatan Jepang membuat ruang terowongan bawah tanah dengan struktur yang lumayan rumit ini, tersimpan cerita pedih para romusha yang diharuskan bekerja paksa siang dan malam membangun tempat ini. Romusha yang membangun terowongan ini konon katanya berasal dari luar pulau Sumatera yaitu Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Pembangunan lubang yang dimulai tahun 1942 sampai tahun 1945 ini memakan banyak korban. Ketika terowongan ini pertama kali dibuka dan diteliti oleh pemerintah setempat, ditemukan banyak tulang-benulang manusia berserakan di dalamnya. Sungguh sejarah yang menyedihkan dan memilukan. Salah satu peristiwa genocide yang dilakukan oleh penjajah Jepang ada di tempat kami berjalan saat itu😦 . Semoga korban-korban genocide ini diterima di sisi Tuhan yang maha esa dengan damai. Dari cerita-cerita memilukan ini kemudian beredar pula cerita-cerita horror tentang hantu penghuni terowongan ini. Berjalan menyusuri tempat ini memang rasanya merinding, seperti ada yang mengawasi kami. Lubang jepang ini memiliki banyak ruangan yang berfungsi sebagai persembunyian, ruangan penyimpanan senjata dan amunisi, penjara bawah tanah dan lain-lain. Meskipun panjangnya mencapai 6 km, lubang ini hanya dibuka sejauh 1,5 km untuk wisata.

Ruang pelarian di dalam lubang jepang

Pintu pelarian di dalam lubang jepang

Di dalam terowongan lubang Jepang

Di dalam terowongan lubang Jepang

Siang menjelang sore hari, kamipun melanjutkan perjalanan ke pelataran jam gadang. Landmark yang paling terkenal seantero Sumatera Barat. Jam setinggi 26 meter ini berdiri kokoh di tengah-tengah kota Bukittinggi sejak tahun 1926. Jam gadang ini dibangun sebagai hadiah dari ratu Belanda kepada pemimpin Fort de Kock di jaman penjajahan Belnda dahulu. Desainernya adalah Yazid Rajo Mangkuto. Nah apa yang unik dari jam gadang ini? Kalau menurut yang saya baca dari wikipedia sih, keempat jam ini dibuat secara mekanik dan hanya dua buah jam di dunia yang dibuat seperti ini yaitu di sini dan di London yaitu jam yang ada di Big Ben. Benar ayau tidaknya saya ga tau sih. Struktur bangunan menara jam ini konon katanya juga dibangun dari bahan-bahan campuran kapur, putih telur dan pasir putih. Yang membuat bangunan di titik nol kota Bukittinggi ini menjadi fenomenal sampai sekarang adalah biaya pembangunannya yang mencapai harga 3000 gulden. Harga yang fantastis untuk sebuah menara saat itu. Orang-orangpun berdatangan untuk melihat menara jam ini pada masa itu karena harganya. Untuk menaiki menara jam ini pengunjung diwajibkan membayar Rp 50.000. Sebagai traveler ngirit hari itu, kami sudah cukup puas mengagumi bangunan mahal ini dari luar. Pelataran jam gadang ini sore itu ramai oleh para wisatawan yang bercengkerama sambil memakan aneka macam jajanan. Dari sisi barat pelataran ini, pemandagan kota Bukittinggi dan gunung Singgalang terlihat dengan indahnya.

Jam Gadang di senja hari

Jam Gadang di senja hari

Pemandangan kota Bukkitinggi dari pelataran jam gadang

Pemandangan kota Bukkitinggi dari pelataran jam gadang

Dari pelataran jam gadang, kami melangkahkan kaki sedikit menuju ke pasar atas untuk berbelanja oleh-oleh. Sebenarnya yang banyak beli oleh-oleh adalah teman-teman saya. Saya sendiri hanya membeli beberapa gantungan kunci berbentuk rumah gadang dan dadiah. Apa itu dadiah? Saya baru tahu ketika melihat potongan-potongan bambu berisi krim berwarna putih dijual di bagian makanan pasar atas ini. Dadiah adalah susu fermentasi kerbau. Rasanya seperti kefir atau yoghurt kental yang asam. Dadiah biasanya dijadikan bahan masakan makanan tertentu berkuah kental khas Minagkabau atau sebagai celupan cemilan emping beras. Nah sebagai penggemar berat yoghurt saya membeli satu dan langsung dicemil di sana. Enak pemirsa! Mungkin bagi sebagian besar orang yang eneg melihat susu, mereka tidak ingin mencobanya. Tetapi buat penggemar yoghurt, dadiah khas Bukittinggi ini wajib dicoba. Sambil ngemil dadiah saya menemani teman-teman saya berbelanja. Pasar ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pakaian dan souvenir serta bagian makanan. Di bagian pakaian dan souvenir terdapat aneka macam kain songket dan sulaman khas Minagkabau dari harga yang murah meriah sampai jutaan rupiah. Kerajinan khas Minagkabau dari gantungan kunci, tas, lukisan, pajangan rumah hingga kaos-kaos bertuliskan Bukittinggi lengkap ada di sini. Di bagian oleh-oleh makanan, selain kripik-kripik dengan bumbu balado dan makanan tradisional lainnya, yang menurut saya menarik dan tidak ada di tempat saya di Jogja adalah belut-belut kering yang dijual per jepitan kayu. Kami menghabiskan waktu jalan-jalan di pasar ini sampai hampir malam. Seharian di kota ini saja masih banyak tempat lain seperti benteng Fort de Kock dan Museum bung Hatta yang belum sempat kami kunjungi. Next time maybe, sekalian ke danau maninjau juga🙂.

Kaos bergambar jam gadang di lorong pakaian pasar atas

Kaos bergambar jam gadang di lorong pakaian pasar atas

Aneka gantungan kunci dengan gambar ala Minangkabau

Aneka gantungan kunci dengan gambar ala Minangkabau

Pasar makanan di pasar atas Bukittinggi. Tempat yang membuat air liur menetes :P

Pasar makanan di pasar atas Bukittinggi. Tempat yang membuat air liur menetes😛

Dadiah yang dijual di tabung-tabung bambu

Dadiah yang dijual di tabung-tabung bambu

Ngemil dadiah, mumpung di pasar atas :)

Ngemil dadiah, mumpung di pasar atas🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s