Mencari pangeran uda di Istano Basa Pagaruyung

Setelah 2 jam naik motor smpailah kami di Istano Basa Pagaruyung

Setelah 2 jam naik motor smpailah kami di Istano Basa Pagaruyung

Hari minggu nan cerah di siang hari. Kami 6 gadis perawan berniat mengunjungi sebuah istana yang dulunya merupakan istana sebuah kerajaan termahsyur di Minangkabau. Meskipun kami harus berpanas-panasan di atas kuda besi selama dua jam dari Baso dan membelah lembah antara gunung Marapi dan gunung Sago, kami tetap bersemangat menuju ke kota Batusangkar. Siapa tahu saja sesampainya di istana ini kami akan bertemu pangeran kerajaan ini yang menunggang kuda putih dan membawa gitar *Errr*. Sebut saja namanya pangeran uda😀 . Pangeran uda yang dengan gagah mengenakan busana adat Minangkabau dan pandai merayu lewat pantun. Ia akan mengadakan sayembara untuk memilih istri yang akan dijadikan ratu di depan Istano Basa Pagaruyung. Syaratnya ke 6 perawan ini harus berpakaian layaknya seorang putri raja. Sang pangeran akan menilai mereka dari keanggunan mereka mengenakan pakaian adat ala putri raja ini. Sesampainya ke enam perawan tersebut di istana, hanya tiga orang dari mereka yang mau mengenakan pakaian adat. Tiga yang lain tidak tertarik mengikuti sayembara dari si pangeran uda. Mereka lebih suka dengan rakyat jelata😛. Ternyata untuk mengenakan pakaian ala bangsawan Minangkabau ini, kami harus menuju ke ruang bawah istana Pagaruyung. Masing-masing dari kami membayar Rp 30.000 untuk menyewa satu set pakaian adat lengkap dengan suntiangnya. Ada banyak warna yang bisa kami pilih di sini. Karena saya suka warna biru, saya menyewa kostum berwarna biru dengan aksen dan manik-manik serta suntiang keemasan. And so what do you think? Siapakah di antara kami yang paling anggun dan layak dijadikan istri pangeran uda?

Mencoba baju adat ala putri Minang berwarna biru di bawah istana Pagaruyung

Mencoba baju adat ala putri Minang berwarna biru di bawah istana Pagaruyung

Siapa di antara kami yang layak jadi istri pangeran uda?

Siapa di antara kami yang layak jadi istri pangeran uda?

Seorang yang ditugaskan oleh pangeran uda, kemudian datang kepada kami untuk bercerita tentang sejarah singkat Istano Basa Pagaruyuang dari luar. Kami tidak bisa masuk ke dalam istana ini karena masih dalam tahap renovasi setelah terbakar tahun 2007. Proses pembangunan kembali replika istana ini memang memakan waktu bertahun-tahun, karena pengerjaanya yang rumit. Semua dinding yang terbuat dari kayu khusus ini memiliki ukiran di setiap jengkalnya. Benar-benar full ukiran! Orang yang mengerjakan ukiran inipun harus ahli, bahkan beberapa didatangkan dari jawa juga. Istano Basa Pagaruyung yang asli rusak berat akibat perang pada tahun 1804 dan pernah terbakar habis pada tahun 1966. Setelah dibangun replikanya kembali pada tahun 1968, istana ini terbakar lagi akibat petir di tahun 2007. Benda-benda adat dan dokumen bersejarah di dalamnya pun ikut terbakar😦. Bangunan adat nan megah ini memang mudah terbakar karena sebagian besar terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari ijuk. Hal ini untuk mempertahankan keasliannya secara adat. Istana bertingkat tiga yang sudah mulai selesai renovasinya ini memang terlihat megah dan mewah dengan kesan dan corak Minangkabau yang mempesona. Saya tak henti-hentinya berdecak kagum akan detail ukiran dan ornamen-ornamen yang disematkan di istana kayu ini.

Ukiran cantik di atap teras istana Pagaruyung

Ukiran cantik di atap teras istana Pagaruyung

belum boleh masuk karena masih dalam tahap renovasi, jadi saya foto-foto di luar saja :)

belum boleh masuk karena masih dalam tahap renovasi, jadi saya foto-foto di luar saja🙂

Saya kemudian juga mencari tahu tentang rangkuman sejarah kerajaan Pagaruyung yang mempunyai nama lengkap Pagaruyung Darul Qarar. Daerah kekuasaan kerajaan pada zaman dahulu kala adalah seluruh ranah Minagkabau, bahkan sampai di beberapa bagian di Jambi. Kerajaan ini berdiri pada tahun 1347 masehi dan sebelumnya merupakan kerajaan Buddha bagian dari Malayapura. Sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Adityawarman yang merupakan raja bawahan dari kerajaan Majapahit. Konon katanya Adityawarman lah pendiri kerajaan ini. Pengaruh islam kemudian masuk ke dalam kerajaan ini dari Aceh dan Malaka. Tepatnya pada abad ke 17, kerajaan Pagaruyung berubah menjadi kerajaan islam dan sistem adat serta sistem pemerintahannya mengacu ke Al Quran. Kerajaan ini runtuh akibat perang paderi pada tahun 1825 dan karena banyak wilayah yang kemudian memisahkan diri dari kerajaan. Sultan terakhir dari kerajaan ini bernama Sultan Alam Bagagarsyah yang diangkat pada tahun 1821. Sultan ini kemudian diasingkan dan wafat di pengasingan Belanda di batavia pada tahun 1833. Setelah ia wafat, ada beberapa klaim tentang pewaris takhtanya. Meskipun demikian keluarga bangsawan keturunan kerajaan ini banyak yang tinggal di daerah Batusangkar. Tidak hanya istana ini saja, terdapat banyak bangunan adat yang tersebar di Batusangkar.

Putri Minang dengan wajah Jawa :D

Putri Minang dengan wajah Jawa😀

Sampai menjelang sore hari kami asyik berfoto-foto dengan pakaian adat di sekitar istana ini. Kami menunggu sampai si pangeran uda muncul dari dalam istana. Tampaknya sampai menjelang senja pun ia tak muncul-muncul. Ya sudahlah, mungkin kami lebih baik mengejar mas-mas atau akang-akang saja.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s