Rembang-Lasem-Purwodadi Roadtrip #5 : Demi ke Bledug Kuwu

Perjalanan bermotor ria Jogja-Rembang-Lasem-Purwodadi pun berlanjut. Saya dan Emi mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal kepada host kami Maulin yang telah menampung kami di rumahnya selama 2 hari di kota Rembang. Thank you ya for the guidence and the experience!  Perjalanan balik kami ke Jogja kali ini mengambil jalur yang berbeda dari jalur berangkat kami. Kami melewati jalur Blora-Purwodadi-Sragen. Yang jelas perjalanan ini tidak bisa ditempuh sekali saja dengan motor, kami harus menginap di tengah-tengah perjalanan. Lagian saya masih punya bucket list yang harus saya wujudkan di jalur pulang ini😀 , untung mbak Eminya mau-mau aja saya paksa😀. Salah satu dari list bucket list saya adalah mengunjungi Bledug Kuwu yang terletak di desa Kuwu, kecamatan Kradenan, kabupaten Grobogan. Dulu pas saya kecil, saya pernah meilhat tayangan di TVRI mengenai tempat ini. Sebagai anak kecil yang lugu dan ingin tahu, saya merasa heran kok bisa ya ada tanah yang bisa meletus. Ingatan masa kecil saya ini lumayan tajam, makanya saya ingin sekali mengunjungi tempat ini.

Dengan bantuan navigasi dari smartphone, kami melintasi jalur Blora – Purwodadi. Kami sempat mampir sebentar di alun-alun kota Blora untuk wedangan dan makan sore. Dari google map terlihat bahwa kota terdekat dengan lokasi Bledug Kuwu adalah Wirosari, sebuah kota kecamatan di kabupaten Grobogan. Kami berharap supaya kami menemukan penginapan atau hotel di sana.  Jarak Blora ke Wirosari ternyata lumayan lah 60 km, jadi kami sampai di Wirosari jam 9 malam. Ternyata malam itu Wirosari sudah sepi, kami agak panik karena tidak menemukan satu penginapanpun di sana. Kami kemudian memacu motor kami ke arah Bledug Kuwu, siapa tau saja ada banyak homestay di dekat obyek wisata ini. Sampai di sana suasana lebih sepi lagi. Seorang bapak penjaga bledug kuwu menyarankan kami untuk kembali lagi ke Wirosari, ada satu penginapan di area perkampungan di sana, atau kami menginap di kota pruwodadi yang jaraknya 28 km dari sana. 28 km merupakan jarak yang lumayan untuk motoran malam-malam, lagian esok harinya kami harus kembali ke mari lagi. Akhirnya kami mendatangi satu-satunya penginapan di Wirosari. Penginapan sederhana ini bernama losmen penggung mas. Harga kamar per malam untuk 2 orang adalah Rp 60.000. Kamar mandinya di luar dan tamu harus menimba airnya sendiri di sumur. Waaks, masih ada yaa penginapan seperti ini? Pemiliknya menyambut kami dengan ramah seperti kami ini saudaranya yang datang dari jauh. Ia menyuguhkan teh panas kepada kami. Losmen tua ini masih terbuat dari kayu, sehingga ada beberapa bagian yang sudah rusak dimakan rayap. Di dalam kamar kamipun ada bagian yang dimakan rayap kemudian ditambal dengan kertas koran. Para tamu penginapan ini bermacam-macam, dari sales keliling sampai bapak-bapak pengusaha yang mencari paranormal. Saking capeknya saya tidur duluan, teman saya Emi yang suka ngobrol dengan orang menikmati malam itu berbincang dengan tamu-tamu lain. Ia mendapatkan cerita-cerita luar biasa malam itu.

Penginapan Penggung Mas di kecamatan Wirosari

Penginapan Penggung Mas di kecamatan Wirosari

di dalam kamar penginapan kami

di dalam kamar penginapan kami

Jam 8 pagi setelah mandi dan sebelum check out, kami sudah ngacir ke Bledug Kuwu mumpung cuaca belum panas-panas banget. Kami memacu kendaraan roda dua kami sejauh 6,7 km dari Wirosari. Dan voila! akhirnya sampai juga keinginan saya melihat fenomena lumpur yang meletup-letup seperti di TV dulu. Tempat ini tampak seperti lumpur lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Bedanya bledug kuwu memang alami sudah terbentuk dari jaman dahulu kala. Letusan lumpur atau yang kerap disebut dengan mud volacno ini terjadi selang 2 sampai 3 menit. Suaranya semi menggelagar seperti letusan gunung kecil. Bledug atau letupan di kawah lumpur ini terjadi karena pelepasan gas dan aneka mineral dari dalam bumi. Menurut petugas penjaga obyek wisata ini, kawah lumpur ini kaya dengan aneka jenis mineral, garam dan mengandung kadar salinitas yang tinggi. Sejak dahulu kala penduduk Kuwu banyak yang memanfaatkan tempat ini untuk bertani garam. Garam-garam bahkan lumpurnya sendiri banyak dikemas dan dijual di sini. Katanya sih lumpurnya sangat berkhasiat untuk keremajaan kulit. Kami kemudian berkeliling tempat ini sampai jarak terdekat dengan letupan terbesar. Karena tempat ini begitu terbuka, meskipun masih pagi panasnya sudah luar biasa. Tak terasa ternyata saya terlalu dekat melangkah di kubangan lumpur, dan saya pun terperosok!! Untung saja lumpurnya bukan lumpur hisap. Kaki dan celana saya otomatis full lumpur. Kalau begini mah ga usah beli lumpur lagi buat luluran. Semoga lumpur dari Bledug Kuwu ini menjadikan kaki saya halus bak kaki bidadari. By the way anyway busway, Bledug Kuwu ini juga menyimpan cerita legenda tentang Jaka Linglung yang membuat lubang jalan pulang dari laut selatan ke kerajaan Medang Kamulan. Jaka Linglung bisa merubah dirinya menjadi naga yang menembus perut bumi. Well done mas Joko! lubang yang kau buat menjadi mata pencaharian utama untuk warga desa Kuwu.

pelataran bledug kuwu yang seluas lapangan terbang

pelataran bledug kuwu yang seluas lapangan terbang

Kandungan mineral dari dalam bumi dilepaskan di sana

Kandungan mineral dari dalam bumi dilepaskan di sana

Letupan Bledug Kuwu selang 2-3 menit

Letupan Bledug Kuwu selang 2-3 menit

kaki saya dan lulur alami

kaki saya dan lulur alami

Garam, lumpur dan aneka mineral yang dijual oleh penduduk setempat sebagai oleh-oleh

Garam, lumpur dan aneka mineral yang dijual oleh penduduk setempat sebagai oleh-oleh

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s