Berburu kain tenun khas Manggarai di pasar Ruteng

Salah satu lapak kain tenun di Pasar Ruteng

Salah satu lapak kain tenun di Pasar Ruteng

Hai kota Ruteng! Terimakasih dengan sambutanya yang sangat menyejukkan! Ini pertama kalinya saya datang ke kota ini. Kota sejuk di atas ketinggian 2000 mdpl yang berada di pulau Flores, NTT. Setelah kemarin mendarat di bandara Frans Sales Lega dari kota Kupang, hari ini saya berkesempatan untuk jalan-jalan di sekitar alun-alun dan kantor bupati Manggarai. Saya dan teman-teman saya sebenarnya akan melaksanakan tugas penelitian pendidikan di kabupaten Manggarai. Tetapi karena ada jeda waktu sebelum bertugas, yaa kami scanning dulu lah ya. Scanning dari mulai makanan, minuman dan hal-hal khas yang ada di kabupaten ini. Salah seorang teman yang dulu pernah bertugas di kabupaten ini kemudian mengajak saya ke pasar inpres kota Ruteng. Ia ingin membeli kain syal tenun yang asli dari kabupaten Manggarai. Ia ingin mengenakanya ketika bertugas nanti.

Hari masih pagi, jadi pasar ini ramai sekali oleh pengunjung. Selain aneka sayur mayur lokal, yang banyak dijual di pasar ini adalah kopi lokal dan aneka ikan asin. Yang jualan ikan asin ada di mana-mana! Saya pernah dengar sih kalau Manggarai itu penghasil kopi dan penduduknya juga suka minum kopi. Tapi kalau ikan asin? Saya baru tahu kalau penduduk kabupaten Manggarai suka masak ikan asin🙂 . Well harus dicoba nih masakan ikan asin khas mereka.

Kami kemudian langsung menuju ke bagian kain tenun di pasar ini. Kain-kain dengan rapinya dijejerkan di kayu-kayu dari atas sampai ke bawah. Jujur ini pertama kalinya saya melihat kain tenun khas Manggarai. Ternyata motifnya cantik-cantik! Sembari teman saya mencari syal, saya bertanya kepada salah satu penjual yang ada di sana. Ia bilang kain yang dijual di sini berasal dari Cibal, Lambaleda dan Todo. Kain tenun ini biasa disebut songke. Songke dari Cibal dan Lambaleda dasarnya hitam dan  memiliki motif yang berwarna-warni. Sedangkan kain khas Todo motifnya garis-garis atau kotak-kotak aneka warna. Harga kain di sini tergantung musimnya, jika membeli pas musim panen harga kain-kain ini bisa sampai 2 kali lipat. Saat ini masih musim biasa jadi harganya normal dari Rp 150.000 sampai di atas satu juta rupiah. Harga yang disebutkan penjual masih bisa ditawar. Harga selalu berdasarkan kualitas benang dan kerumitan tenunan. Waktu yang dihabiskan untuk menenun satu kain adalah seminggu sampai sebulan. Syal-syal yang dijual di sini warnanya bermacam-macam, tetapi kebanyakan berdasar warna hitam. Teman saya kemudian membeli satu buah syal seharga Rp 50.000.

Pedagang kain berjejeran di pasar Ruteng

Pedagang kain berjejeran di pasar Ruteng

Kain-kain khas manggarai ini adalah simbol adat bagi mereka. Seperti mengenakan sarung di Jawa, masyarakat Manggarai masih mengenakan sarung tenun ini untuk sehari-hari. Pas saya jalan-jalan di pasar inipun masih banyak orang mengenakan sarung tenun ini. Di hari raya seperti natal dan paskah atau hari minggu ketika mereka pergi ke gereja, mereka masih dengan bangga mengenakan identitas budaya mereka. Saya awalnya tergiur untuk membeli kain untuk syal saking cantiknya! Tetapi karena di perjalanan saya nanti saya akan mengunjungi beberapa desa penenun maka saya mengurungkan niat dahulu. Yang jelas kalau kalian pas ke kota Ruteng dan ga sempat ke mana-mana di Manggarai dan pengen membeli kain tenun, tinggal datang saja ke pasar Ruteng, ada banyak penjual di sana.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s