Sawah lingko, sawah unik berbentuk jaring laba-laba di Manggarai

Narsis di sawah jaring laba-laba

Narsis di sawah jaring laba-laba

Awalnya salah satu teman satu tim penelitian saya memamerkan foto dari hpnya. Foto sawah. Iya dia berfoto dengan background sawah, tetapi bentuknya unik seperti jaring laba-laba. Tentu saja saya penasaran ingin ke tempat itu juga. Jangan-jangan ada crop circle made in alien di Manggarai😀 .Sayangnya teman saya ini sok-sok merahasiakan di mana letak sawah tersebut. Karena tambah penasaran saya bertanya kepada Jimmy, anak bapak camat tempat saya tinggal selama beberapa minggu di Cancar, Manggarai. Jimmy bilang akan mengantarkan saya dan salah satu teman yang ingin ke sana juga sehabis pulang sekolah. Kami kemudian berboncengan bertiga ke sana pada sore hari.Ternyata sawah jaring laba-laba ini jaraknya hanya 300 meter dari basecamp penelitian saya di Cancar.

Jalan setapak di belakang rumah gendang menuju sawah lingko

Jalan setapak di belakang rumah gendang menuju sawah lingko

Kami menaiki sebuah bukit kecil yang berada di desa Meler supaya view dari sawah jaring laba-laba ini tampak semuanya. Di atas bukit Weol ini terdapat rumah gendang desa setempat. Bapak yang tinggal di rumah gendang ini, pak Blasius mempersilahkan kami untuk mengisi buku tamu dan mengisi kotak sumbangan sukarela yang ada di sana. Ia juga bercerita bahwa sehari-hari ada banyak turis yang datang ke bukit weol ini, terutama turis mancanegara. Sawah lingko cara yang berada di Cancar ini merupakan yang terluas yang ada di Manggarai. Suku manggarai membagi tanah atau kebunnya berbentuk jaring yang dinamakan dengan lodok seperti bentuk kerucut asli rumah adat gendang mereka. Cara pembagiannya adalah dengan memasang kayu teno di tengah-tengah dan mengikatkan tali panjang yang ditarik sampai ke ujung. Besar kecil pembagiannya ditentukan dengan musyawarah dan posisi di suku tersebut. Menurut masyarakat Manggarai beginilah cara yang adil dalam membagi sawah dan kebun. Kami kemudian berjalan kaki melewati trek pendek yang ada di belakang rumah gendang. Di puncak bukit inilah view terbaik sawah jaring laba-laba ini bisa terlihat. Beruntung saya melihat pesawahan ini ketika sedang hijau-hijaunya, adem menyejukkan mata saya. Speechles deh. Ternyata bangsa Indonesia tak hanya mempunyai sawah bertingkat yang sangat indah tetapi juga sawah unik hasil dari kebudayaan suku Manggarai.

Jimmy sedang memandangi sawah lingko

Jimmy sedang memandangi sawah lingko

salah satu dari beberapa sawah jaring laba-laba di Cancar

salah satu dari beberapa sawah jaring laba-laba di Cancar

Seminggu kemudian, ketika saya berada di kecamatan Lelak, Manggarai, terdapat pula lahan lodok tapi bertingkat. Bentuknya jadi mirip crop circle😀

Salah satu sawah bertingkat dengan sistem lodok di Lelak

Salah satu sawah bertingkat dengan sistem lodok di Lelak

Untuk mencapai Cancar dari kota Ruteng, ibukota kabupaten Manggarai sangat mudah, jaraknya hanya sekitar 12 km. Terdapat banyak transportasi umum berupa angkot atau bus kecil jurusan Ruteng – Lembor atau Ruteng – Labuan Bajo. Bagitu pula jika anda datang dari Labuan Bajo, tinggal bilang saja turun di Cancar. Dari Cancar terdapat banyak ojek yang siap mengantar ke bukit Weol. Sebaiknya datang setelah musim tanam supaya mendapatkan view yang tercantik.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s