Liburan woles ke danau Ranamese

Papan petunjuk arah menuju ke jalan setapak danau ranamese

Papan petunjuk arah menuju ke jalan setapak danau ranamese

Sebagai orang lapangan, walaupun hari minggu dan libur biasanya kami tetap bekerja. Tetapi jika hari libur keagamaan dan masyarakat setempat banyak yang menganut agama tersebut, maka kami tidak bekerja. Hari itu hari libur paskah dan di kabupaten manggarai mayoritas masyarakat menganut agama Katolik dan Protestan. Sudah 2 minggu ini kami bekerja tiada henti, jadi hari ini adalah momen kami bisa melakukan apa saja yang kami mau, mau tidur seharian oke, mau jalan-jalan oke. Tetapi karena kami sudah menyewa roda dua untuk sebulan, sayang juga kalau hari itu ga digunakan untuk jalan-jalan. Dua orang teman kami yang asli NTT kemudian menyarankan kami yang dari Jawa untuk jalan-jalan ke danau Ranamese. Kata mereka di sana indah dan suasananya menenangkan. Tanpa pikir panjang kami berangkat pagi-pagi dari Cancar, base camp penelitian kami.

Kami menempuh waktu 1 jam lebih dari Cancar untuk sampai ke danau Ranamese yang sudah terletak di kabupaten Manggarai Timur. Dari kota Ruteng jarak danau ini adalah 25 km tetapi jalannya sangat berkelok-kelok. Terkadang ada longsoran tanah dari perbukitan di sisi jalan. Sebagai penunggang roda dua kami harus sangat berhati-hati terutama setelah turun hujan. Perjalanan dari Ruteng ke Ranamese juga melewati hutan lebat yang masih sangat terjaga. Terkadang terlihat monyet ekor panjang nongkrong di pinggir jalan sambil makan buah. Setelah beberapa kilometer melintasi hutan ini terlihatlah danau ini di sisi bawah jalan. Dari tempat ini saja danau ini terlihat berwarna hijau misterius dikelilingi oleh hutan hijau yang sangat lebat.

Danau Ranamese dilihat dari pinggir jalan Ruteng-Borong

Danau Ranamese dilihat dari pinggir jalan Ruteng-Borong

Ranamese dalam bahasa Manggarai berarti danau besar. Lokasi danau Ranamese ini berada di antara gunung mandosawu dan gunung ranaka dengan ketinggian 1200 mdpl. Jadi di saat-saat tertentu danau ini tertutupi kabut. Kebayang ga sih kalau sudah di tengah hutan lebat begini ada danau yang warna airnya bening tetapi terkesan gelap dan di beberapa bagiannya tertutupi kabut? Benar-benar memberikan kesan misterius sekaligus menyejukkan. Kami kemudian turun ke pinggiran danau ini. Meskipun ranamese sudah dibuka sebagai tempat wisata, tempat ini terlihat abandoned alias terlantar. Tidak ada pos jaga atau pos karcis masuk. Kesan yang membuat saya merasakan bahwa tempat ini benar-benar misterius dan wingit. Kami kemudian mencari tempat untuk menaruh motor karena belum terdapat tempat parkir resmi di sana. Kami berjalan kaki ke arah danau melewati jalan setapak di tengah pohon-pohon rindang.

Jalan setapak menuju danau ranamese

Jalan setapak menuju danau ranamese

Danau ranamese yang tampak sepi

Danau ranamese yang tampak sepi

Salah satu sudut danau Ranamese

Salah satu sudut danau Ranamese

Danau ranamese yang terkesan dark dan misterius tetapi menenangkan

Danau ranamese yang terkesan dark dan misterius tetapi menenangkan

Kenang-kenangan dari Ranamese, foto diri :)

Kenang-kenangan dari Ranamese, foto diri🙂

Para pemancing di danau Ranamese

Para pemancing di danau Ranamese

Di pinggiran danau sedalam 43 meter dan seluas 5 hektar ini tampak sepi. Hanya ada beberapa orang sedang memancing di sana. Kata para pemancing itu di danau ini banyak ikan dan belut. Kami kemudian duduk santai dan woles di pinggiran danau sambil sesekali mengamati para pemancing ikan. Menurut saya meskipun tampak misterius suasana di danau ini terkesan menenangkan dengan suara-suara kicauan burung yang bersahutan. Sesekali kami juga berbincang-bincang dengan para pemancing. Kata mereka setahun sekali danau ini selalu minta tumbal, ada saja orang meninggal tenggelam di danau ini. Mendengar cerita itu saya rasanya merinding. Menurut para pemancing yang berasal dari desa Golo lani ini, ada beberapa legenda tentang terbentuknya danau ranamese. Ada yang bilang danau ini adalah tempat pertempuran mahkluk halus ada pula yang bilang danau ini dulunya adalah sebuah kampung yang dikutuk dan ditenggelamkan. Entah mana cerita yang benar, yang jelas danau ini terbentuk dari kejadian vulkanik. Beberapa teman saya kemudian meminjam alat pancing mereka dan ikut memancing. Saya rasanya hari itu ingin bertapa di pinggir danau sambil menghirup oksigen dari daun-daun hijau di sekeliling saya. Sekembalinya saya dari sini, rasanya woles dan pikiran tenang serta siap untuk bekerja kembali esok.

Landscape of Ranamese

Landscape of Ranamese

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s