Mengenal si Flo, manusia purba dari Liang Bua

Situs Liang Bua

Situs Liang Bua

Beberapa teman satu tim penelitian saya sedang ditugaskan di desa Liang Bua, kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Siang itu setelah menyelesaikan tugas di desa lain di kecamatan yang sama, saya dan salah seorang rekan saya menyusul mereka. Kami sengaja bertemu untuk mengunjungi sebuah gua yang merupakan situs arkeologi yang diakui dunia, namanya juga Liang Bua. Kami bermaksud untuk menjelajahinya bersama-sama. Sebelum masuk ke gua rekan-rekan yang bertugas di desa setempat bercerita bahwa mereka disambut dengan sangat baik dan ramah. Baik dan ramah memang ciri khas umum orang Manggarai. Yang membuat pertemuan mereka istimewa adalah, mereka sampai dijamu makan siang daging kelelawar! Nah jika sedang berada di desa Liang Bua dan dijamu dengan daging kelelawar konon berarti teman-teman saya dianggap tamu yang dihormati. Mereka mengaku memakan daging itu dan rasanya enak. Kalau itu terjadi kepada saya, entah bagaimana cara menolaknya, saya pasti akan sangat bingung. Saya tidak ingin membuat mereka tersinggung tetapi saya juga takut makan daging kelelawar.

Langit-langit Liang Bua

Langit-langit Liang Bua

Pintu gua Liang Bua yang saat itu dipagari besi kemudian dibukakan oleh petugas setempat. Liang Bua dalam bahasa Manggarai artinya lubang yang sejuk. Kami kemudian masuk ke dalam gua tersebut. Saat kami di sana tidak ada aktivitas penggalian yang sedang berlangsung. Gua karst yang telah terbentuk belasan juta tahun yang lalu ini tampak kosong, karena semua fossil dan penemuan-penemuannya telah dipindahkan ke berbagai museum. Ada yang dibawa sampai ke Leiden,Belanda untuk diteliti lebih jauh. Ada pula yang dibawa ke museum Sangiran Early Man Site di Jawa Tengah. Saya jadi teringat kunjungan saya ke Sangiran beberapa bulan yang lalu. Saya melihat sendiri tulang-tulang lengkap Homo floresiensis dipajang di sana. Homo floresiensis merupakan manusia purba yang memiliki bentuk fisik lebih kecil dari manusia purba yang lain. Homo florensiensis juga memiliki nama panggilan yang gaul, namanya Flo! Flo oleh arkeolog dan ilmuwan asing sering dijuluki sebagai the Hobbit.

Saya di dalam rumah sejuk bagi Flo

Saya di dalam rumah sejuk bagi Flo

Saya dan teman-teman setelah menjelajahi gua yang tampak seperti rumah purba yang nyaman ini kemudian beralih ke sebuah museum kecil tak jauh dari sana. Di dalam museum ini terdapat papan dan gambar-gambar penjelasan mengenai sejarah penggalian si Flo. Penggalian arkeologis di Liang Bua ternyata sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1930. Sudah banyak arkeolog-arkeolog dunia dan Indonesia yang mengeksplorasi dan menemukan fossil di tempat ini. Tak hanya si Flo , ada pula fossil gajah purba, buaya purba dan tikus raksasa purba. Wiiih melihat keterangan dan gambar tikus raksasa di museum ini saya jadi merinding. Ada ya tikus sebesar ini jaman dulu?? Tikus yang kecil banget aja saya takut apa lagi tikus segedhe anjing?? Di museum ini juga terdapat satu tengkorak Flo yang dipajang di dalam kotak kaca. Yang jelas belajar tentang penemuan arkeologis di museum ini sangat menarik. Menurut pak penjaganya, malah lebih banyak turis asing dan masyarakat dari luar daerah yang tertarik untuk mengenal si Flo. Semoga saja yaa masyarakat Manggarai juga tertarik dengan penemuan-penemuan arkeologis di tanah warisan nenek moyang mereka sendiri.  Anyway sebenarnya ngomongin si Flo, Liang Bua dan penemuan fossil-fossil di sini memang tidak ada habisnya. Ada banyak referensi dari buku sampai situs internet yang memaparkannya lebih dalam. Ada beberapa koleksi buku dalam bahasa Inggris dan Belanda tetang Lian Bua yang dapat dibaca di museum ini.

Kerangka Flo yang dipajang di museum Liang Bua

Kerangka Flo yang dipajang di museum Liang Bua

Untuk menuju ke desa Liang Bua, paling mudah ditempuh dari kota Ruteng yang jaraknya sekitar 10 km. Sudah tersedia papan petunjuk arah dari kota Ruteng sampai ke lokasi. Sekembalinya saya dari Liang Bua saya jadi teringat tentang sebuah dusun atau kampung di sana yang orang-orangnya pendek-pendek yang diduga adalah keturunanya Flo. Saya membacanya dari majalah National Geographic. Sayang yah pas di sana saya malah lupa, kalau ingat kan sekalian juga mengunjungi kampung tersebut.
Lokasi Liang Bua di google map :

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s