Berkunjung ke desa Ling, desa penenun di Manggarai

Off road ke desa Ling

Off road ke desa Ling

Pagi itu saya dan rekan kerja saya kak Sius ditugaskan untuk berkunjung ke desa Ling yang berada di kecamatan Satarmese barat. Kami clueless tentang arah menuju ke sana karena desa ini belum tercantum di google map. Untung saja saya punya aplikasi peta lain yang bisa menunjukkan kami untuk ke sana, selain GPS tentunya🙂 alias gunakan penduduk setempat. Kami menggunakan kendaraan roda dua melalui jalan raya Cancar – Lembor sampai ke pertigaan arah satarmese barat. Dari pertigaan ini ternyata jalan yang tadinya mulus berubah menjadi jalanan off road dan menanjak. Kami baru tau kalau desa Ling terletak di lereng gunung Curunumbe. Gunung tempat desa Wae Rebo yang terkenal berada. Untung saja motor yang kami sewa kuat dan tahan banting untuk perjalanan ini. Kami berdua off road menembus hutan dan jembatan-jembatan rusak. Saya tidak bisa membayangkan kalau harus malam-malam lewat sini, pasti sepiii sekali. Setelah 1,5 jam barulah kami sampai di desa Ling, salah satu desa terpencil di kabupaten Manggarai. Begitu sampai, rasanya semua mata dari anak-anak sampai orang tua tertuju kepada kami. Mungkin karena sangat jarang sekali orang asing yang datang ke sini.

Sampai di desa Ling setelah naik-naik jalanan off road

Sampai di desa Ling setelah naik-naik jalanan off road

Kami disambut dengan sangat hangat oleh aparat desa dan masyarakat. Mereka sangat kooperatif membantu kami melaksanakan tugas. Setelah tugas-tugas kami selesai. Kami dijamu makan siang nan istimewa. Banyak masyarakat berkumpul di rumah kepala desa waktu itu untuk melihat kami berdua di sana. Wah saya berasa seperti jadi seleb. Saya kemudian bertanya tentang hal-hal ringan kepada aparat desa dan orang-orang di sana, seperti apa ada air terjun atau tempat indah tersembunyi di desa ini atau ada yang khas dari desa ini. Ternyata mereka serentak menjawab kalau desa mereka terkenal dengan tenunannya. Hampir semua ibu-ibu yang tinggal di desa Ling ahli menenun dan memiliki alat tenun tradisional di rumahnya. Biasanya mereka menempatkan alat tenun ini di ruang keluarga atau di dapur. Anak-anak gadis di desa ini sudah diajarkan menenun dari kecil. Menenun adalah kegiatan turun-temurun dari nenek moyang yang dilakukan oleh kaum hawa. Seketika itu, datanglah satu orang ibu-ibu yang membawa hasil karya tenunanya. Ia yang tadinya sempat saya wawancarai untuk tugas saya kemudian menerangkan tentang hasil tenunannya. Ada dua gaya tenun ala desa Ling, gaya songke Manggarai raya yang warna dasarnya hitam dan benangnya berwarna-warni dan gaya Todo dengan motif garis-garis atau kotak-kotak. Motif kotak-kotak biasanya dipakai oleh kaum pria dan garis-garis biasanya dipakai oleh wanita. Kain bergaya Todo biasanya dijual seharaga Rp 200.000 ke atas, tergantung harga benang. Kain bergaya songke Manggarai raya biasanya dijual Rp 500.000 ke atas karena kerumitan motifnya. Kain bergaya songke  dikenakan untuk upacara adat seperti perkawinan. Pak kepala desa kemudian mempersilahkan saya mencoba mengenakan sarung kain tenun khas songke Manggarai raya. Ibu kemudian membantu saya mengenakannya. Ia juga menyematkan sebuah mahkota di kepala saya. Katanya itu mahkota untuk mempelai wanita. Cie…saya didandani dan ditonton orang banyak! Mereka senang sekali ada orang asing yang tertarik dengan tenun mereka. Tenun-tenun ini kalau tidak dijual di kota Ruteng, dijual dari desa ke desa. Bahkan sebagian dari masyarakat menjajakan kain ini dengan jalan kaki😦 . Katanya sudah biasa.

Hasil tenunan songke Manggarai karya ibu-ibu desa Ling

Hasil tenunan songke Manggarai karya ibu-ibu desa Ling

Saya sehabis didandani :D

Saya sehabis didandani😀

Salah seorang ibu yang saya temui ketika menenun

Salah seorang ibu yang saya temui ketika menenun

Saya kemudian diajak salah satu aparat desa ke rumah salah seorang penenun yang lain. Ia memperlihatkan alat tenun dan prosenya. Untung saja batere kamera saya masih full, jadi saya rekam deh. Alat tenun yang dipakai masih tradisional dan terbuat dari kayu. Alat tenun ini mempunyai bagian-bagian tersendiri yang menurut saya rumit. Wow pastilah susah dan perlu kesabaran untuk menggunakan alat tenun ini. Untuk gaya tenun songke, tidak semua ibu-ibu di desa Ling bisa membuatnya karena terlalu rumit.

Ketika saya kembali ke rumah kepala desa ibu yang tadi mendadani saya kemudian memberikan salah satu hasil karyanya sebagai kenang-kenangan. Seorang aparat desa juga memberikan saya satu kain sarung khas Todo. Saya merasa sangat berterimakasih sekali kepada mereka. Saya tidak bisa membalas dengan apa-apa saat itu. Saya hanya bisa berdoa supaya Tuhan membalas kebaikan mereka. Sehari di desa Ling membuat saya semakin mengenal potensi seni dan budaya di indonesia tercinta ini. Semoga saja mereka para penenun ini mendapatakan perhatian khusus dari pemerintah atau pihak terkait lainnya. Mereka kan bagian dari pelestari budaya Manggarai pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Buat teman-teman yang tertarik dengan tenunan Manggarai dan ingin melihat mereka menenun langsung di desanya, silahkan kunjungi desa Ling. Selain sebagai desa tenun desa ini juga mempunyai pemandangan yang menawan lho! Sangat berpotensi menjadi desa wisata🙂 .

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s