Anak kota terjebak di damainya Iteng, desa di pinggir pantai selatan Manggarai

Pantai berbatu kecil di Iteng, Satarmese

Pantai berbatu kecil di Iteng, Satarmese

Setelah kurang lebih 3 minggu tinggal di Cancar, saya dan teman-teman satu tim penelitian saya harus pindah wilayah pencacahan ke kecamatan Satarmese. Pusat kecamatan ini berada dibalik gunung Ranaka. Kami berangkat malam-malam dengan menyewa sebuah angkutan umum. Untuk menuju ke sana, kami harus kembali dulu ke kota Ruteng lalu melewati jalanan menanjak di lereng gunung Ranaka. Sepanjang jalan ini hanya hutan karena kampung-kampung berada di sini lain lereng ini. Kami juga melewati komplek PLTP Ulumbu yang merupakan pembangkit listrik utama untuk daerah kabupaten Manggarai. Sesekali kami melewati jalan aspal yang tertutup tanah karena longsor. Kata supir angkutan kami, jalur ini sangat berbahaya ketika hujan. Dalam hati saya berpikir, apa benar ada sebuah pusat kecamatan dibalik gunung ini? Karena sebelumnya saya mencoba mengecek dengan google map, dan tidak ada tempat yang dimaksud di dalam peta. Sepanjang jalan ini pun mobil angkutan kami hanya berpapasan dengan satu buah sepeda motor.

Kami sampai di Iteng, pusat kecamatan Satarmese setelah perjalanan selama 2 jam. Kali ini kami berenam tinggal di rumah dinas camat. Kami disambut dengan hangat dan baik oleh pak camat. Ia tinggal di rumah dinas ini dengan 2 orang keponakannya yang masih SMP. Mereka tinggal di sini karena hanya di Itenglah terdapat satu-satunya SMP negeri di kecamatan ini. Pak camat tidak setiap hari di sini karena rumahnya ada di kota Ruteng. Setiap hari libur, sabtu dan minggu atau ada rapat di kabupaten rumah yang besar ini hanya dihuni oleh 2 keponakannya. Sejak hari itu kamilah yang meramaikan rumah tersebut selama dua minggu.
Awalnya kami kira yang namanya pusat kecamatan itu ramai. Paling tidak ada banyak pertokoan dan pusat usaha. Jadi dari Cancar yang ramai, kami tidak membawa bahan makanan atau apapun untuk dimakan di sana. Ternyata dugaan kami salah. Kami yang hampir setiap hari jajan makanan di Cancar dan di Ruteng tidak bisa melampiaskan hasrat jajan kami di sana. Kios sembako jumlahnya bisa dihitung dengan jari, dan dagangan kiosnya sangat terbatas. Selama di sana kami hanya menemukan satu warung makan dan itupun sering tutup. Sewaktu warung ini buka rasanya bagaikan mall baru buka bagi kami. Fasilitas umum seperti bank hanya satu, tetapi belum bisa online. Pasar umum kecamatan hanya buka seminggu sekali. Kebanyakan penjualnya berbondong-bondong datang dari kota Ruteng dan pembelinya berbondong-bondong turun gunung dari desa-desa. Sebagian besar desa di kecamatan Satarmese berada di pegunungan dan lereng gunung Ranaka. Untungnya di desa Iteng ini ada sinyal, jadi ketika kami bosan kami bisa online walaupun masih edge😀 .
Selama di Iteng ini kami memasak sendiri. Yang menjadi masalah bukan karena kami anak kota menyebalkan yang tidak bisa memasak😛 , tetapi mencari dan membeli  bahan makanan di desa ini sangat susah. Penjual ikan pernah sekali lewat kemari pagi-pagi, tetapi kalau ia tak dapat ikan ia tidak berjualan. Sayur-mayur biasanya dipetik dari kebun sendiri masing-masing. Saya heran bagaimana pak Camat dan kedua keponakannya ini memasak ya? Ternyata mereka makan dengan menu yang sangat sederhana. Kalau tidak ada ikan dan telur, mereka makan nasi dengan rebusan daun pepaya atau saung daeng yaitu rebusan daun singkong. Pak camat hanya bisa masak enak kalau ia kembali dari Ruteng. Saya kagum dengan cara makan mereka yang sangat sederhana tetapi tetap menikmati apa yang ada. Tidak seperti kami yang terlalu dimanja aneka makanan sehari-harinya. Di Iteng ini selama dua minggu, kami memiliki rekor makan nasi dengan lauk mie instant terlama dalam hidup kami. Terkadang kami juga ikut-ikutan ke dua anak SMP ini merebus daun pepaya, buah pepaya dan daun singkong untuk dimakan. Walaupun yang seperti ini rasanya sudah seperti survival bagi kami, kami menjadi banyak belajar dan bersyukur tentang apa yang telah kami punya. Akhirnya lama-lama kami bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sana.

teman saya sedang narsis di pantai Iteng

teman saya sedang narsis di pantai Iteng

Kota kecamatan ini benar-benar sepi, tenang dan hening. Di malam hari bintang-bintang bertebaran di langit tanpa ada polusi cahaya dari bumi. Suara-suara binatang malam bersahutan meramaikan keheningan. Pagi dan siang hari di Iteng juga sepi. Sangat jarang ada kendaraan melintas. Terkadang saya berharap ada tukang bakso lewat di sini pas sore hari😀 . Sore hari kalau kami tidak sibuk karena pekerjaan, biasanya kami nongkrong di pantai. Pantai yang sangat sepi dan hening juga. Setiap kami ke sana tak seorangpun ada di sana. Pantai iteng ini unik. Pantainya berbatu-batu. Ada batuan kecil dan batuan besar. Ini merupakan ciri khas pantai di sepanjang pesisir selatan kabupaten manggarai. Mungkin batu-batu vulkanik ini dulunya terhempas ke pantai mengikuti aliran sungai dari hulu gunung ranaka yang konon masih aktif. Kami duduk-duduk sore di pantai sambil menikmati suasana sepi yang damai. Menurut saya Iteng cocok sekali untuk mereka yang benar-benar ingin mencari sepi dan hening, apalagi mencari jalur yang road less traveled.

pantai berbatu besar di Iteng, Satarmese

pantai berbatu besar di Iteng, Satarmese

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s