A long way to Kowak and back

Jalan tanah di pinggir pantai menuju ke Kowak. Jika pasang, jalan ini tersapu ombak

Jalan tanah di pinggir pantai menuju ke Kowak. Jika pasang, jalan ini tersapu ombak

Kowak adalah sebuah desa yang masih terpencil di kecamatan Satarmese, kabupaten Manggarai. Jika jalan lintas selatan Flores telah dibangun, sebenarnya letak desa ini menjadi mudah untuk dijangkau. Tetapi ketika saya akan ke sana, infrastruktur jalan dan jembatan masih belum tersedia dengan baik. Saya ditugaskan berdua dengan teman saya kak Sius untuk menuju ke desa ini. Kami menggunakan motor sewaan dari Iteng. Untuk menuju ke Kowak dari Iteng,menurut penduduk setempat dan aparat kecamatan Iteng, kami harus naik gunung dulu menyusuri jalanan di gunung sepanjang 10 km baru turun lagi ke pantai, menyusuri jalan di pinggir pantai, menyeberangi dua sungai besar tanpa jembatan, naik lagi ke perbukitan barulah sampai ke Kowak. Mendengarnya saja saya cuma bisa mangap. Sumpe lu? Perjalanan kami dengan motor akan seperti itu? Sebelumnya kami mencoba menghubungi aparat  desa Kowak untuk menjemput kami di titik tertentu, tetapi karena tidak ada sinyal di sana, mereka hanya bisa dihubungi jika sedang ke Iteng, ibu kota kecamatan.

Pemandangan jembatan rusak di muara sungai menuju ke Kowak

Pemandangan jembatan rusak di muara sungai menuju ke Kowak

Waktu itu musim hujan jadi kalau hujan, jalanan yang akan kami lewati akan menjadi berlumpur dan sungai-sungai tidak bisa dilewati karena air meluap. Pak camat menyarankan supaya kami berangkat pagi-pagi sekali ketika ke dua sungai besar sedang surut. Hmm mungkin pas berangkatnya surut, nah kalau pulangnya meluap dan kami tidak bisa lewat bagaimana? Akhirnya kami berdua membawa peralatan lengkap dan pakaian untuk berjaga-jaga kalau harus menginap di sana.

Hari pertama kami mencoba ke Kowak, hari sudah siang menjelang sore. Kami nekad ke sana dengan asumsi, kalau air sungai meluap kami bisa menginap di rumah penduduk di dekat sungai dan melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali. Ternyata di perjalanan sewaktu kami melintasi lereng gunung, hujan turun deras sekali dan angin bertiup kencang. Bahkan sunga-sungai di gunung sampai meluap seperti membentuk air terjun. Kami berteduh di sebuah rumah penduduk. Eh ternyata ketika kami berteduh bersama dengan kepala desa Kowak. Ia memberi saran kepada kami untuk kembali ke Iteng karena cuaca buruk, lalu kembali lagi pagi-pagi sekali jika cuaca cerah. Jika tidak lebih baik menunggu sampai cuaca cerah. Kami sore itu juga setelah hujan reda kembali ke Iteng.

Jalanan berlumpur akibat hujan semalam

Jalanan berlumpur akibat hujan semalam

Pagi-pagi sekali kami berangkat jam 5.30 dan cuaca terlihat cerah. Saya begitu penasaran, seperti apa sih sebenarnya medannya? Ternyata setelah kami sampai di jalan di pinggir pantai, jalannya berlumpur bekas hujan semalam. Saya turun dari motor supaya kami berdua tidak jatuh ke lumpur. Setelah jalan berlumpur habis kami bertemu sungai besar pertama. Seperti para penduduk lain, kami menyeberangi sungai dengan motor. Saya agak khawatir juga, gimana kalau motornya keblebek dan macet? Motor sewaan tuh. Saya mempercayakan hal tersebut kepada rekan saya kak Sius yang sudah melalui berbagai macam medan berat se-NTT. Setelam menyusuri jalan pinggir pantai lagi kami bertemu sungai ke dua yang lebih besar dan dalam serta banyak batuan besarnya. Terlihat sebuah jembatan tua terbengkalai karena putus di atasnya. Saya tetap mempercayakan hal tersebut kepada teman saya, semoga bisa melaluinya. Saya sendiri harus jalan kaki menyingsingkan celana panjang saya menyeberangi sungai. Akhirnya kami sampai di Kowak dengan selamat. Jalan kampung menuju Kowak sendiri malah sudah beraspal mulus.

Sungai besar pertama yang harus kami sebrangi untuk ke desa Kowak

Sungai besar pertama yang harus kami sebrangi untuk ke desa Kowak

Sungai besar ke dua yang berarus lebih deras dan penuh dengan batu-batu besar

Sungai besar ke dua yang berarus lebih deras dan penuh dengan batu-batu besar

Ketika kembali dari Kowak ke Iteng meskipun masih siang dan cuaca cerah, ternyata air sungainya sudah meluap. Kami tidak bisa begitu saja melaluinya dengan motor. Untung saja ada penduduk setempat yang menyewakan jasa penyeberangan motor dengan sampan kecil. Kami membayar Rp 10.000 untuk jasanya. Motor dinaikkan ke atas sampan dan didorong sama-sama. Pengendara motor juga harus membantu pak sampan mendorongnya. Saya sendiri harus menyingsingkan celana panjang saya lebih tinggi dan mencari bagian sungai yang terlihat tak begitu dalam. Saya bersyukur hari itu tugas kami dilancarkan. Thanks God! Saya masih bersyukur setidaknya desa ini masih bisa ditempuh dengan motor dan kami berhasil. Ada banyak desa-desa yang pernah saya datangi harus ditempuh dengan laut ber jam-jam. Oh Indonesia, daerah-daerah terpencilmu memang sangat menantang🙂 .

Motor sewaan kami harus dinaikkan ke atas sampan

Motor sewaan kami harus dinaikkan ke atas sampan

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s