Things To Do in The City of Makassar ala Kelanakecil

Welcome to Makassar!

Welcome to Makassar!

Saya hanya mempunyai waktu kurang lebih satu minggu di kota besar ini. Selain menjalakan tugas penelitian, sudah tentu saya juga jalan-jalan. Menurut saya kota Makassar agak mirip sih sama kota Surabaya, jalanannya besar dan ramai serta banyak terdapat pusat perbelanjaan seperti mall. Yang menjadi keunikan tersendiri di kota ini adalah banyaknya warung-warung kopi untuk nongkrong terutama di daerah panakkukang. Well kalau di Jogja sih bentuknya seperti warung burjo tetapi menunya kopi *EH*. Sayang saya tidak sempat nongkrong di sana. Kami dibekali beberapa motor untuk mobilitas. Untungnya tandem saya ketika menjalankan tugas orangnya suka dolan juga. Di sela-sela bekerja maka kami menyambangi dan mencoba beberapa kuliner khas Makassar.

During the day :
  1. Mengunjungi komplek benteng Rotterdam . Benteng ini adalah salah satu icon utama kota Makassar selain pantai Losari. Letaknya tidak jauh pula dari pantai Losari. Benteng yang sebelumnya didirikan oleh raja Gowa-Tallo ini kemudian jatuh ke tangan Belanda karena perjanjian bungayya. Setelah jatuh ke tangan Belanda arsitekturnya kemudian berubah menjadi arsitektur kolonial. Memang ketika memasuki benteng ini saya merasa seperti sedang di Eropa. Taman di Benteng ini juga begitu tertata rapi, sungguh nyaman sekali untuk kegiatan belajar bersama atau sekedar berkumpul dengan teman-teman. Di komplek Benteng ini juga terdapat museum sejarah kerajaan Gowa-Tallo yang bernama museum La Galigo. Di saat-saat tertentu ada berbagai macam acara pameran, pertunjukan seni dan kebudayaan diselenggarakan di Benteng ini. Di bagian pojok benteng ini terdapat sebuah ruangan penjara yang dahulu kala pernah ditempati Pangeran Diponegoro.
    Salah satu sudut fort Rotterdam, Makassar

    Salah satu sudut fort Rotterdam, Makassar

    Ruangan penjara Pangeran Diponegoro

    Ruangan penjara Pangeran Diponegoro

  2. Mengunjungi kompleks makam raja-raja Tallo. Saya dan rekan penelitian saya waktu itu mendapatkan tugas di kelurahan Tallo. Kami lalu tidak sengaja tersasar di makam ini. Akhirnya kami sempatkan untuk mengulik makam raja-raja ini yang letaknya ada di ujung jalan Sultan Abdullah Raya. Ketika saya melangkah melihat pusara-pusara raja ini, saya merasa amazed. Pusaranya besar-besar dan gelap, terlihat seperti candi. Selain itu terdapat pula makam yang berbentuk seperti kubah berwarna putih yang merupakan makam kalangan intelektual pada jaman dahulu kala.Komplek  makam ini dijaga dengan baik oleh pemda setempat dengan rerumputan dan pepohonan hijau bak taman yang menyejukkan. Di depan komplek makam ini terdapat daftar nama-nama raja serta bangsawan-bangsawan yang dimakamkan di tempat ini. Sesekali ada beberapa peziarah datang sambil menebar bunga di pemakaman ini. Sekembalinnya dari sini saya jadi penasaran, dahulu kerajaan Tallo ini istananya atau keratonnya ada di sebelah mana ya? Ternyata ada di Kabupaten Gowa. Sayang saya tidak sempat ke sana.
    Kompleks makam raja-raja Tallo

    Kompleks makam raja-raja Tallo

    Salah satu pusara makam raja Tallo yang berbentuk seperti candi

    Salah satu pusara makam raja Tallo yang berbentuk seperti candi

  3. Menyeberang ke pulau Lae-lae. Saya baru tahu kalau kota Makassar ini dikelilingi banyak pulau kecil dan terdapat sebuah pelabuhan rakyat antar pulau yang letaknya nyelempit di belakang komplek pertokoan tidak jauh dari Losari. Namanya dermaga Bangkoa. Sebenarnya kalau tidak karena tugas, saya mungkin tidak akan pernah ke pulau ini. Pulau Lae-lae adalah pulau yang paling dekat dengan kota Makassar. Di sebelah utara pulau ini terdapat hamparan pantai berpasir putih yang sering dikunjungi oleh para traveler.

    Pantai berpasir putih di pulau Lae lae, Makassar

    Pantai berpasir putih di pulau Lae lae, Makassar

  4. Berziarah ke makam pangeran Diponegoro. Sebagai warga Ngayogyokarto Hadiningrat yang mempunyai seorang pahlawan besar yang perjuangannya dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia, saya merasa perlu berziarah dan mengirimkan doa ke makam pangeran Diponegoro. Kebetulan rekan tandem saya pagi itu mengajak kami berziarah ke sana. Makam ini letaknya di Jalan Diponegoro Makassar di tengah padatnya pertokoan kota Makassar. Selain pusara pangeran Diponegoro, di komplek makam ini juga terdapat makam istri, pengikut setia serta anak dan cucunya. Semoga saja perjuangan beliau ketika masih hidup diterima di tempat terbaik di sisi Nya. Amin.

    Nyekar di pusara pangeran Diponegoro

    Nyekar di pusara pangeran Diponegoro

  5. Makan coto Makassar dan Es Pisang Ijo. Coto adalah salah satu makanan favorit saya karena kuahnya yang kaya akan rasa rempah. Waktu itu saya tidak menargetkan harus mencoba coto merk tertentu yang paling terkenal di Makassar. Yang penting saya makan coto pas sedang di kota Makassar. Akhirnya dua hari sekali selama di sana saya makan coto terus untuk makan siang. Random saja, saya menyambangi warung-warung coto lokal yang tampak ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat. Saya juga terkejut karena harganya hanya berkisar Rp 7000 – Rp 9000 untuk semangkok coto daging. Apakah daging di sini lebih murah dibandingkan di tempat lain? Selain coto, bagi saja wajib ain untuk mencicipi es pisang ijo. Namun karena waktu itu saya diundang oleh seseorang asli Makassar untuk mencicipi es pisang ijo di sana, maka saya tidak perlu membelinya. Tinggal hlebb😀.
  6. Makan sop saudara pangkep. Salah satu kuliner yang populer di Makassar adalah sop pangkep. Sop ini rasanya agak mirip coto dengan kuah kentalnya, tetapi dagingnya adalah daging ayam dan dibubuhi soun. Saya juga dengan random memilih warung sop pangkep yang terlihat ramai dikunjungi oleh masyarakat lokal. Harga sop pangkep rata-rata Rp 10.000 sampai Rp 14.000. Lebih mahal dari coto. Nah kenapa coto daging harganya bisa lebih murah? *teteuup*
  7. Makan ikan bolu bakar. Ikan bolu atau lebih dikenal sebagai ikan bandeng adalah ikan yang paling sering dikonsumsi masyarakat Makassar. Warung ikan bolu tersebar hampir ada di semua sudut kota Makassar. Jika anda sedang berada di kota ini dan mencari makanan paling murah, sambangilah warung ikan bolu bakar. Rata-rata harga per porsi ikan bolu bakar adalah Rp 5000 – Rp 7000. Waktu itu saya makan di sebuah warung ikan bolu di Tallo dan saya hanya menghabiskan Rp 6000 saja. Ikan bolu bakar ini biasanya disajikan dengan kuah sop saudara.

    Ikan bolu bakar murah meriah

    Ikan bolu bakar murah meriah

  8. Makan sop ubi. Memang kuliner di kota ini tidak ada habis-habisnya. Saya sendiri sampai bingung harus makan apa *tsaaah*. Sop ubi merupakan kuliner pagi khas makassar. Menurut saya rasanya seperti soto ayam tetapi dimakan dengan ubi goreng yang dimasukkan ke kuah sop. waktu itu saya mencoba salah satu warung sop ubi sederhana tidak jauh dari pantai Losari. Rasanya memang enak, tetapi waktu itu pedagangnya membanderol harga semangkok sop Rp 17.500, saya kaget. Mungkin si pedagang tahu saya pendatang dan tidak menanyakan harga sebelumnya. Saran saya kalau makan di dekat pantai Losari lebih baik jangan lupa menanyakan harga terlebih dahulu.

    Sop Ubi khas Makassar

    Sop Ubi khas Makassar

During the night dan sore hari :

  1. Nongkrong ria di kawasan pantai Losari. Nah siapa yang gak kenal pantai icon utama kota Makassar ini? Tadinya saya pikir pantai Losari ini pantai beneran dengan pasir hitam atau putih seperti di kawasan pantai Kuta Bali. Ternyata pantainya sudah berubah menjadi semen. meskipun demikian kawasan ini merupakan kawasan yang menyenangkan untuk menghabiskan sore hari dengan keindahan sunsetnya. Selain itu kawasan pedestrian yang bersahabat ini juga menawarkan beberapa macam wahana air yang bisa dinikmati oleh para pengunjung. Di sebelah selatan kawasan ini terdapat sebuah masjid yang di bangun di atas air. Mungkin terinspirasi masjid Ortakoy yang ada di Istambul. Sayangnya di pantai ini terkadang terdapat sampah-sampah yang mengambang di tepian. Semoga saja ya tidak ada orang yang membuang sampah di laut lagi supaya keindahan pantai ini tetap terjaga.
    Masjid Amirul Mukminin, Losari

    Masjid Amirul Mukminin, Losari

    Iconetic Pantai Losari

    Iconic Pantai Losari

    Pedestrian di pantai Losari

    Pedestrian di pantai Losari

  2. Makan pisang epe dan minum wedhang saraba. Menjelang malam hari di Losari, terdapat banyak penjual pisang epe dan wedhang saraba. Pisang epe adalah pisang bakar khas Makassar yang diberi topping bermacam-macam seperti durian, keju, coklat, nanas dan aneka selai. Waktu itu saya mencoba pisang epe rasa cokelat. Tidak tanggung-tanggung coklatnya banyak banget. Sembari makan pisang epe, dinginnya malam bisa dihangatkan dengan wedhang saraba yang terbuat dari santan, jahe dan kayu manis. rasanya mirip dengan wedhang bajigur di Jawa. Selain wedhang yang dijual di pinggir jalan, ada pula wedhang yang dibuat kemasan instant cocok untuk oleh-oleh.

    pisang epe makassar

    pisang epe makassar

Meskipun saya sudah mengunjungi beberapa tempat dan mencicipi kuliner khas Makassar, saya masih punya whistlist seandainya saya berkunjung ke kota ini lagi yaitu makan sop konro, konro bakar, minum es palu basa dan makan mie ti ti. Semoga saja whistlist saya ini dapat terwujud secepatnya. Amin. Akhir kata Wabillahi taufik Wal Hidayah Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s