Pulau Mansinam, Hikmah Dari ketinggalan Pesawat

Dermaga perahu ke pulau mansinam

Dermaga perahu ke pulau mansinam

Pernah tahu rasanya ketinggalan pesawat dengan harga tiket yang mahal walaupun dibayarin ?  Saya pernah, baru saja. Rasanya mirip seperti habis diputusin pacar *jiaah*. Rasanya menyesal banget kenapa bisa terlambat tiba di bandara dan menyepelekan peraturan yang ada di bandara rendani papua barat. Bandara di manapun juga  di kota atau derah pedalaman, kalau yang namanya on time ya on time, tidak boleh terlambat sedetikpun *hammer*. Setelah bertengkar dengan teman satu tim saya, dan menemaninya merefund tiket serta membeli tiket baru untuk keesokan harinya, kami mencari hotel murah meriah di dekat bandara, supaya kami tidak terlambat lagi. Hari itu di negeri orang rasanya waktu berjalan amat lambat karena kami sudah membayangkan disambut karpet merah di rumah. Tiba-tiba saja teman satu tim saya ini, namanya Fuad mengajak saya untuk ke pulau mansinam untuk menghabiskan hari itu.

On the way dengan perahu Rp 5000 bersama bapak-bapak dan ibu-ibu

On the way dengan perahu Rp 5000

Selama beberapa hari di kota Manokwari, kami tidak sempat mengunjungi pulau mansinam. Pulau yang merupakan tempat bersejarah bagi agama Kristen di Papua. Letaknya berada di teluk doreh, tidak jauh dari pusat kota manokwari. Salah seorang teman saya di Jogja kemudian membantu saya dengan memberikan kontak temannya di Manokwari. Saya kemudian menghubungi kontak tersebut untuk bertanya jalur angkutan umum ke jeti penyeberangan menuju mansinam. Ia mengatakan bahwa jeti penyeberangan terletak tidak jauh dari rumahnya dan bersedia menjemput kami di hotel serta mengantarkan kami kembali. Kami excited dan berterimakasih sekali mendapat tumpangan gratisan ini.
jeti kwawi

jeti kwawi

Jeti tempat penyebrangan terletak di pantai kwawi, arah timur kota manokwari. Perahu umum ini berangkat beberapa menit sekali asalkan perahu sudah penuh dengan penumpang. Tarif menyeberang ke pulau mansinam adalah Rp 5000 saja. Cukup murah bukan? Karena kami tiba di jeti sudah cukup siang, maka kami menyeberang bersama-sama dengan anak-anak sekolah serta masyarakat mansinam yang akan kembali ke pulau dari pasar dan bekerja.
Tidak hanya itu, selain pulau mansinam, dengan perahu umum ini wisatawan juga bisa menyeberang ke pulau lemon, pulau kecil di utara mansinam. Jika ingin menyewa perahu ini secara pribadi, motorist perahu membanderol harga Rp 500.000 rupiah untuk keliling pulau seharian penuh. Motorist juga menawarkan tempat-tempat snorkeling dengan karang-karang dan ikan-ikan berwarna-warni di sebelah barat pulau. Sayangnya hari itu niat kami adalah tamasya hemat, jadi kami hanya ingin menimati pesisir pantai mansinam dengan berjalan kaki saja.
sampai di mansinam

sampai di mansinam

15 menit kemudian sampailah perahu kami di pesisir utara pulau mansinam yang merupakan titik terdekat dari daratan manokwari. Baru sampai saja mulut kami dibuat ternganga melihat jernih dan birunya air laut di sana. Sumpah! Bening dan biru sparkling gitu! Meskipun siang itu panas sekali kami tetap menikmati pesisir pantai mansinam sambil terus ternganga. Sayang, hari itu saya baru datang bulan, jadi saya harus mengendalikan keinginan saya untuk berenang di sana. Karena kami tidak ada persiapan apapun sebelum datang ke pulau mansinam, seperti membaca guide book atau googling tentang apa saja yang ada di sini, kami iseng bertanya kepada penduduk setempat tentang pesisir pantai lain yang disukai pengunjung. Mereka bilang ada pantai dengan air yang sangat bening, bersih dan banyak ikannya di sebelah barat pulau. Untuk menuju tempat ini, tidak ada ojek atau angkutan lain, harus jalan kaki selama 30 menit. Pulau yang terlihat kecil ini ternyata luasnya mencapai 400 hektar, membutuhkan waktu satu hari penuh untuk berjalan dari ujung ke ujung. Hari itu terlampau panas dan kami takut tidak ada perahu lagi ke daratan, maka kami mengurungkan niat untuk ke sebelah barat pulau.
Salah satu tempat yang wajib ain dikunjungi di pulau ini adalah monumen salib raksasa yang berada di sebelah utara pulau. Monumen ini adalah saksi sejarah dari kedatangan agama kristen di Papua yang disyiarkan oleh 3 orang Jerman pada tahun 1855. Tidak hanya 3 orang misionaris ini saja yang pernah ke sini, pak Alfred Wallace juga pernah ke pulau ini lho.
anak-anak mansinam lagi berenang

anak-anak mansinam lagi berenang

Me in mansinam

Me in mansinam

monumen dan salib sejarah kristen

monumen dan salib sejarah kristen

Jika saja pulau ini dekat dari tempat tinggal saya, pastilah saya akan sering ke sini membawa peralatan pancing, snorkeling dan peralatan kemping. Sekedar trekking keliling pulau jika mempunyai waktu luang yang banyak juga tampaknya sangat menyenangkan. So? If I comeback to Manokwari again, I will come to visit again. See you soon Mansinam🙂

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s