Sekelumit cerita dari Weriagar

Kalau saya bukan pecinta petualangan dan tidak bekerja sebagai asisten peneliti mungkin saya tidak akan pernah tau seperti apa sudut-sudut Indonesia, negara saya tercinta. Mungkin saya tidak akan bisa membayangkan seperti apa rasanya hidup di daerah terpencil. Mungkin saya tidak akan pernah tau bagimana rasanya hidup dengan keterbatasan fasilitas dan terlanjur menjadi anak kota yang super manja. Saya sih tetep manja sekarang, tapi ga manja-manja banget lah😀. Salah satu daerah terpencil yang pernah saya kunjungi berada di kabupaten Teluk Bintuni, provinsi Papua Barat. Namanya Weriagar. Weriagar adalah sebuah wilayah setingkat distrik atau kecamatan. Meskipun wilayahnya secara administrasi setingkat kecamatan, jumlah penduduknya hanya sebanyak satu desa di pulau Jawa. Satu kampung di Weriagar jumlah penduduknya hanya setingkat satu dusun atau satu RT di Jawa. Hampir di seluruh wilayah distrik di Papua, jumlah penduduknya memang sedikit. Ini merupakan kali ke dua saya berkunjung ke Weriagar untuk penelitian tentang kependudukan dan keseharian masyarakat setempat. Meskipun sudah pernah kemari, saya tetap excited untuk belajar tentang mereka.

Selamat Datang di Weriagar

Selamat Datang di Weriagar

Biaya transportasi yang dikeluarkan untuk menuju ke Weriagar dari Babo atau dari kota Bintuni is so unbelieveble! Saya cuma bisa mangap mendengarnya. Biaya sewa long boat yang hanya muat untuk beberapa orang untuk satu kali jalan minimal adalah Rp 4.000.000. Biaya sewa ketinting bisa mencapai Rp 10.000.000 sekali jalan dengan muatan sampai 2 ton. Long boat dari atau ke Weriagar rata-rata memakan waktu sekitar 4 jam, dan ketinting rata-rata 8 jam. Jika musim angin dan ombak besar, maka akan sangat berbahaya untuk menuju ke kota atau daerah lain. Untung saja saya selalu dibayarin kalau ke sini. Bagaimana jika harus biaya sendiri? Bagaimana juga ya masyarakat Weriagar kalau harus keluar dari wilayahnya? Mereka harus berusaha lebih keras daripada kita yang sudah tinggal di daratan. Bersyukurlah kalian yang sudah memiliki akses jalan dan transportasi untuk bisa ke mana-mana.

Kampung di atas panggung Weriagar. Photo by Fuady

Kampung di atas panggung Weriagar. Photo by Fuady

Distrik yang berada persis di pinggir laut ini adalah distrik yang dibangun di atas panggung, karena semua rumah yang dibangun di tanah rawa ini adalah rumah panggung. Sekolah, puskesmas, masjid dan fasilitas lainnya juga berbentuk panggung. Bahkan jalannya pun jalan panggung yang terbuat dari kayu besi memanjang dari kampung ke kampung. Oleh karena itu tidak ada kendaraan yang bisa dipakai di sini. Mungkin hanya sepeda. Tetapi sebagian besar penduduk hanya berjalan kaki ke mana-mana. Di tengah distrik ini mengalir sebuah sungai besar yang juga bernama sungai Weriagar. Sebuah area yang menurut saya unik. Jika air pasang dari sungai atau laut, air akan mengalir ke bawah rumah-rumah dan ke bawah jalan. Jadi distrik ini terlihat seperti distrik yang mengapung. Jika anda beruntung maka di saat air pasang anda akan melihat buaya yang numpang lewat😀. Distrik ini belum dialiri listrik dari PLN, masyarakat mengandalkan genset atau sekedar pelita untuk penerangan di malam hari. Tentu saja tanpa polusi cahaya bintang-bintang di langit terlihat sangat gemerlap di sini. The best way to enjoy the night di Weriagar adalah melihat bintang-bintang dan bintang jatuh.Di distrik ini juga belum ada sinyal dari provider komunikasi manapun. Jadi ketika saya dan teman-teman tinggal di sini, kami harus berpuasa sms dan telepon, apalagi internet. Unplugged from the digital world deh!

Sungai Weriagar yang membelah distrik Weriagar

Sungai Weriagar yang membelah distrik Weriagar

Anak-anak SD pulang dari sekolah di Weriagar

Anak-anak SD pulang dari sekolah di Weriagar

Penduduk weriagar kebanyakan adalah orang asli suku sebyar luar. Tetapi banyak pula orang Papua non sebyar luar dan orang Bugis serta orang Buton yang ikut tinggal di sini. Orang asli sebagian besar berprofesi sebagai nelayan atau karyawan LNG. Orang Bugis dan Buton bekerja sebagai pedagang, tengkulak dan pemilik kios. Menurut petunjuk dari nenek moyang hanya ada dua agama yang boleh berkembang di Weriagar, yaitu agama islam dan agama katolik. Selain itu tidak boleh, karena akan melanggar janji nenek moyang. Oleh karena itu hanya ada dua rumah ibadah yang boleh dibangun di sini yaitu masjid dan gereja katolik. Meskipun demikian, kedua agama ini selalu harmonis dan perkawinan campur antar agama sudah biasa terjadi di sini. Jika salah satu pihak harus berpindah agama, maka anak-anaknya kelak akan mengganti orang tuanya menganut agama lama. Saya pernah bertemu suami istri beragama katolik yang salah satu anaknya islam karena ibunya dulu Islam. Nama-nama depan warga Weriagar kalau beragama Katolik diambil dari Alkitab, dan kalau beragama Islam diambil dari Al Quran. Fenomena unik antar agama ini mungkin hanya terjadi di sini. Saya merasa salut dengan penduduk Weriagar yang saling menghargai dan menghormati agama dan kepercayaan masing-masing.

Nelayan Weriagar sedang panen ikan

Nelayan Weriagar sedang panen ikan

Selama bertugas di sana saya harus menyesuaikan diri dengan keadaan di sana. Tinggal di rumah panggung beralaskan tikar dan sleeping bag. Hal yang sudah biasa saya alami selama menjadi peneliti lapangan sejak 4 tahun yang lalu. Makan dengan makanan ala penduduk seperti papeda dan ikan atau udang setiap harinya. Kalau ada beras ya makan beras. Kalau bosan makan ikan ya makan mie instant. Beras dan mie instant menjadi makanan mewah di sini karena harganya yang mahal. Para nelayan menjual hasil sungai atau hasil laut di distrik ini juga. Biasanya mereka menyuruh anak-anak mereka untuk berjualan keliling kampung dengan cara digantung di kayu panjang. Menurut saya ikan-ikan di sini dijual murah hanya Rp 10.000 per talinya, padahal kadang beratnya sampai 2 kg lebih. pecinta ikan dan sea food akan dimanjakan selama tinggal di sini. Jika ingin makan seperti kepitng dan kerang sungai, tinggal cari sendiri atau minta tolong kepada penduduk untuk mencarikan. Agak susah jika ingin makan sayur di distrik ini. Sayuran yang tumbuh di sini biasanya hanya kangkung. Jika penduduk ingin bertanam sayuran, mereka akan membuat gaba-gaba yaitu media tanam berbentuk panggung di sekitar rumah mereka. Terkadang pedagang sayuran dari distrik lain mampir dengan perahunya kemari untuk menjual hasil pertaniannya, tetapi sangat jarang sekali.

Panen kangkung di Weriagar

Panen kangkung di Weriagar

Anak-anak berjualan ikan per tali berkeliling dari kampung ke kampung

Anak-anak berjualan ikan per tali berkeliling dari kampung ke kampung

Yang membuat saya agak susah beradaptasi ketika tinggal di sini adalah air. Tidak ada sumber air tawar di distrik ini. Penduduk setempat mengandalkan air hujan yang terkadang lama tidak turun dari langit. Saya pernah tidak mandi selama 3 hari karena air hujan habis dan tidak turun-turun. Akhirnya saya dan teman-teman mencoba mandi dengan air sungai yang berwarna kecoklatan karena bercampur dengan lumpur. Kami juga akhirnya mencuci di sungai bersama-sama. Untuk penduduk setempat apalagi anak-anak mereka sudah terbiasa mandi di sungai. Bahkan air sungai berwarna kecoklatan ini juga terkadang digunakan untuk minum. Saya pernah melihat ibu-ibu yang sedang memancing di tengah sungai, karena haus, ia langsung saja mangambil air dari sungai lalu diminum. Wow! mungkin dia sudah imun karena terbiasa minum air sungai tanpa direbus. Air mineral yang dijual di kios-kios harganya mahal, satu botol kecil mencapai Rp 10.000. Sepertinya uang saya banyak dihabiskan untuk membeli air minum di sini🙂.

Saya jadi terbiasa mencuci dengan air sungai coklat :)

Saya jadi terbiasa mencuci dengan air sungai coklat🙂

Anak-anak rame-rame mandi bersama di pinggir sungai

Anak-anak rame-rame mandi bersama di pinggir sungai. Photo by Fuady

Jika ada acara adat, para penduduk mengenakan kain rumput dan menarikan tarian goyang pantat. Disebut tarian goyang pantat karena bagian pantat lebih banyak bergoyang daripada bagian tubuh yang lain. Kain rumput merupakan baju adat khas yang dipakai oleh banyak suku di Papua barat. Biasanya mereka membuat kain ini sendiri dengan bahan alang-alang yang diwarnai dengan pewarna alami. Salah satu acara adat yang pernah saya hadiri adalah acara renovasi rumah. Sebelum rumah tersebut diperbaiki, keluarga serta para tetangga berkumpul di dalam rumah kemudian menari bersama membentuk lingkaran. Para pria memainkan musik dari tifa sambil menari dan para wanita dari anak-anak sampai orang tua menari dengan lincahnya. Upacara ini sampai berlangsung beberapa malam. Upacara tersebut dimaksudkan untuk memanggil arwah nenek moyang untuk meminta ijin renovasi rumah. Kata mereka arwah nenek moyang akan hadir di sana dan menari bersama. Saya yang jarang melihat tarian dari Papua secara langsung takjub melihatnya. Iramanya terdengar mistis dan membuat merinding. Mungkin karena para nenek moyang benar-benar hadir di sana.

Mama-mama sedang menari pantat mengenakan kain rumput

Mama-mama sedang menari pantat mengenakan kain rumput. Photo by Fuady

Bapak-bapak memainkan tifa

Bapak-bapak memainkan tifa. Photo by Fuady

Ketika senggang, biasanya saya dan teman-teman suka berjalan kaki dari ujung kampung ke ujung kampung melihat aktivitas masyarakat di sini. Kami dengan senang hati belajar bagaimana cara masyarakat mengolah sagu yang diambil dari hutan tidak jauh dari kampung. Masyarakat Weriagar memang masih sangat bergantung kepada alam sekitar terutama untuk makan sehari-hari. Alam menyediakan banyak hal dari mulai makanan pokok sampai lauknya. Kami juga belajar bagaimana membuat ikan asin ala Weriagar. Distrik ini memang terkenal sebagai penghasil oleh-oleh ikan asin atau yang mereka sebut sebagai ikan garam, yang dijual di babo dan di kota Bintuni. Di sore hari kami biasanya bermain dengan anak-anak atau sekedar melihat mereka bermain. Mereka suka sekali bermain bola ketika air surut. Anak-anak juga suka bermain di sungai, mereka loncat-loncatan dan berenang sampai ke tengah sungai yang dalam. Saya sendiri yang sudah besar takut, tetapi mereka kok lebih berani ya?

Aktivitas mengolah sagu di Weriagar

Aktivitas mengolah sagu di Weriagar

Sekelumit cerita saya ini hanya merupakan rangkuman singkat tentang sebuah kawasan terpencil di Papua Barat dengan adat-istiadat yang masih terjaga dan masyarakatnya masih sangat mengandalkan alam. Sebagai pendatang dari jauh, saya telah belajar banyak dari mereka, terutama tentang kearifan-kearifan lokal mereka. Hal-hal njegleg dan berbeda dari budaya saya sendiri telah saya alami di sini sebagai wawasan yang baru. Semoga saja saya bisa melihat dunia dengan perspektif yang lebih baik. Saya sudah tidak sabar untuk melihat sudut-sudut Indonesia yang lain dari Sabang sampai ke Merauke.

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s