Sekelumit cerita dari susur sungai di Weriagar

Hilir sungai Weriagar yang sangat lebar

Hilir sungai Weriagar yang sangat lebar

Salah satu mimpi saya adalah menjelajahi sungai di pedalaman Amazon atau di pedalaman Kalimantan. Sepertinya seru mengarungi sungai di tengah hutan lebat sambil melihat pekatnya pepohonan dan mengamati burung-burung langka terbang bebas di hutan. Sambil memancing ikan, juga mengamati hewan-hewan seperti orang utan atau kera bergelantungan di pohon dengan bebasnya. Sampai cerita ini saya tulis saya malah belum pernah ke pulau Kalimantan apalagi ke Amazon! Kesempatan susur sungai di pedalaman terwujud ketika saya mendapatkan tugas untuk susur sungai di pedalaman Papua barat. Setelah tugas saya dan teman-teman lain di distrik Weriagar selesai, kami mendapatkan tugas menyusuri sungai Weriagar dan sungai-sungai kecil di dekatnya.

Masyarakat Weriagar selalu ke kebun dengan perahu jolor. Photo by Fuady

Masyarakat Weriagar selalu ke kebun dengan perahu jolor. Photo by Fuady

Sungai Weriagar merupakan urat nadi bagi masyarakat Weriagar. Mereka tidak bisa hidup tanpa sungai ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan minum, masyarakat Weriagar mengarungi sungai ini untuk mencari sagu dan mengunjungi kebun-kebun mereka yang berada jauh di hutan. Masyarakat Weriagar juga bisa disebut sebagai penjelajah sungai. Terkadang mereka mengarungi sungai ini sampai ke hulunya yaitu danau Tanimot. Menurut warga setempat pak Idris yang juga motoris long boat kami, ketika laut ombaknya sedang tidak bersahabat, warga Weriagar memilih mencari ikan di sungai besar dan sungai-sungai kecil. Mereka di musim tertentu bahkan menjelajah sungai sampai ke danau Tanimot yang letaknya sudah bukan di kabupaten Teluk Bintuni lagi. Namun menurut cerita dari orang-orang yang pernah ke Tanimot, danau ini merupakan danau angker. Banyak roh-roh nenek moyang bersemayam di sana. Banyak kejadian aneh di danau yang letaknya di tengah hutan lebat tersebut. Menurut pak Idris, membutuhkan waktu setengah hari atau sekitar 5-6 jam untuk sampai di danau ini dari distrik Weriagar dengan long boat. Wiiih lama juga yaa! Warga Weriagar biasanya hanya berani sampai di pintu danau saja karena takut dengan kejadian-kejadian yang tak diinginkan. Orang Weriagar sudah menjelajahi sungai ini sejak kampung-kampung ini dibangun. Di tahun 70-an, menurut pak Maximus, ketika kakeknya menjelajahi sungai bersama warga lain mereka bertemu suku pedalaman di hutan di dekat sungai. Suku pedalaman yang tidak berpakaian ini mereka sebut sebagai orang kambatino. Kakeknya kemudian membawa salah satu perempuan dari kambatino pulang ke Weriagar dan ia jadikan istri. Misteri bagaimana keberadaan suku kambatino ini masih belum diketahui sampai sekarang.

Istirahat sebentar ketika menyusuri sebuah kanal di Weriagar

Istirahat sebentar ketika menyusuri sebuah kanal di Weriagar

Hutan lebat di pinggir sungai Weriagar

Hutan lebat di pinggir sungai Weriagar

Mendengar cerita-cerita seperti itu saya jadi penasaran, seperti apa danau yang menjadi hulu sungai ini, dan apa benar suku kambatino ini masih ada sampai sekarang? Ketika kami melakukan ekspedisi susur sungai Weriagar , hal itu terus terbayang di pikiran saya, bagaimana kalau tiba-tiba dari hutan muncul orang-orang kambatino yang siap-siap memanah kami seperti orang-orang sentinel ?? Pak Idris yang menjadi motorist long boat kami bilang, kalau mereka benar-benar ada pastilah sudah takut dengan suara motor dari perahu ini karena suaranya menggelegar sampai ke hutan. Kami lalu melakukan pengamatan tentang tumbuhan-tumbuhan yang biasa dimanfaatkan masyarakat di pinggir sungai. Hutan-hutan di sepinggir sungai Weriagar yang kaya akan sagu ini benar-benar masih perawan dan sangat lebat. Dari dalam hutan terdengar suara-suara binatang bersahutan seperti serangga dan burung. Menurut pak Muharram, seorang staf distrik yang menemani kami, di dalam hutan-hutan ini banyak sekali binatang liar seperti burung kasuari, rusa,babi hutan, ular dan masih banyak lagi. Kami hanya menjelajahi sungai Weriagar selama 3 jam, lalu kembali ke kampung. Di ujung penyusuran kami, kami berhenti sebentar di sebuah pohon besar yang ternyata penuh dengan kelelawar hutan yang ukuranya besar-besar. Mereka beterbangan di atas kami. Ini pertama kalinya saya melihat kelelawar yang ukuranya gedhe-gedhe.

kelelawar besar beterbangan

kelelawar besar beterbangan

Penyusuran hari selanjutnya ternyata saya hanya berdua dengan teman saya Michael. Kami ditugaskan untuk menyusuri sungai dengan perahu kecil ke sungai-sungai kecil yang becabang dengan sungai Weriagar. Kami didampingi oleh pak Hans, motoris perahu kami. Ia bercerita di sungai Weriagar sebenarnya buayanya lumayan banyak. Meskipun saya sudah tahu hal ini dari 2 tahun yang lalu ketika saya pertama kali ke distrik Weriagar, saya tetap merasa was was juga. Perahu yang kami tumpangi ini begitu kecil, kalau ada buaya loncat bagaimana? Sungai-sungai kecil di sekitar sungai Weriagar ini biasa disebut dengan kali mati karena sungai-sungai ini ujungnya buntu. Ada pula sebuah sungai yang disebut sebagai kanal dambrengga, tempat penduduk Weriagar bertanam buah-buahan dan sayuran. Ketika kami menyusuri salah satu kalimati, pak Hans kemudian tiba-tiba berhenti dan bercerita bahwa bibinya meninggal di tempat ini karena digigit buaya. Saya dan teman saya Michael seketika itu pula kaget dan pucat karena takut. Pak Hans bilang kejadian itu sudah lama sekali, sekarang buaya yang besar-besar itu sudah jarang terlihat. Kalau yang kecil masih banyak sekali dan kadang-kadang terlihat berjemur di pinggir sungai. Ia bilang saat kami berangkat tadi , ada buaya kecil di pinggir sungai sedang berjemur. Saya cuma melongo, kalaupun harus melihat buaya, semoga buayanya ramah dan baik hati dan tidak suka menggigit. Di sepanjang kalimati ini banyak pohon nipah yang daun dan batangnya sering dimanfaatkan untuk membuat rumah. Buah nipah juga sering dimakan oleh masyarakat, atau diolah menjadi minuman keras ala Papua🙂 . Kami mengamati aneka burung yang melintas di atas kami. Burung-burung yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Jika ombak sedang besar-besarnya masyarakat lebih suka mencari ikan di kalimati ini. Mereka biasanya memancing ikan gabus atau mencari kerang sungai sebagai lauk untuk makan. Kerang-kerang sungai ini juga mereka gunakan sebagai penjernih air.

Narsis dari perahu :)

Narsis di perahu🙂

I feel like in Amazon, or maybe wilder than Amazon :)

I feel like in Amazon, or maybe wilder than Amazon🙂

Anak sungai Weriagar yang di kanan kirinya hutan lebat

Anak sungai Weriagar yang di kanan kirinya hutan lebat

Watch my amateur video here :

Sungai-sungai di pedalaman Papua barat tampaknya masih menjadi wilayah-wilayah perawan yang belum tersentuh oleh manusia. Masyarakat Weriagar hanya memanfaatkan sungai dan hutan-hutan di sekitarnya dengan bersahaja dan seperlunya.Terkadang saya takut juga kalau nantinya ada orang datang mengeksploitasi secara besar-besaran, dan merubah hutan menjadi lahan sawit seperti di Kalimantan. Oh No!  Semoga saja wilayah sungai dan hutan-hutan ini akan tetap seperti ini selamanya sebagai penyeimbang alam raya. Sekembalinya saya ke Jogja, saya masih penasaran dengan keberadaan danau tanimot. Kebetulan waktu saya terbang dengan susi air dari Bintuni ke Sorong, saya sempat memotret danau dari atas pesawat. Pas saya mencari danau ini dengan google map dengan cara menyusur sungai Weriagar ke atas, saya tidak menemukan danau ini. Mungkin belum dicantumkan di google map? atau mungkin danau ini memang misterius? Jawabannya tentu harus susur sungai lagi sampai menemukan danau ini😀 .

Danau Tanimot ? dari atas pesawat

Danau Tanimot ? dari atas pesawat

Tinggalkan komentar

Filed under Keliling Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s