Catatan Perjalanan ke Thailand #2 Terkesima keindahan Grand Palace Bangkok

Pagi hari ke dua di kota Bangkok, kami memutuskan berjalan kaki dari guest house kami di Hua Lamphong menuju ke Grand Palace. Menurut mas-mas penjaga guest house, letak istana ini hanya sekitar 30 menit berjalan kaki. Dengan semangat perjuangan 45 kami berjalan kaki ke arah istana tanpa membawa peta sekalipun. Setelah 1,5 jam berjalan kaki, kami baru sadar kalau ternyata letaknya lumayan jauh. Kami memang tidak kesasar, kami hanya terdistraksi banyak hal di sepanjang jalan. Salah satunya adalah kumpulan orang-orang yang sedang berdemonstrasi di sepanjang jalan. Yak, kami memang mengunjungi Thailand disaat rakyatnya sedang rame-ramenya mendemo pemerintah. Meskipun sedang rame, para demonstran ini cukup tertib dan kalem. Mereka bahkan tetap menghormati para wisatawan dan warga lain yang sedang bekerja serta beraktivitas. Two thumbs up deh! Seandainya saja di negara saya bisa setertib itu.

Demo di Bangkok

Demo di Bangkok

Perjalanan menuju ke Grand Palace Bangkok

Perjalanan menuju ke Grand Palace Bangkok

Kami sampai di Grand Palace pada tengah hari. Meskipun hari itu begitu panas, pemandangan gedung-gedung pemerintahan, kuil budha, dan taman-taman kota yang begitu asri tidak membuat kami terlalu capek berjalan. Grand palace adalah tempat yang menjadi tujuan utama seluruh wisatawan yang datang ke Thailand, baik backpacker maupun turis-turis berbajet maksimal. Tiket masuknya memang mahal untuk wisatawan asing yaitu sekitar 500 bath atau Rp 200.000. Jika ingin curang sebenarnya bisa saja masuk dengan gratis melewati pintu khusus pengunjung lokal, karena secara fisik orang Indonesia mirip dengan orang Thailand. Berhubung saya jujur dan kulit saya jauh lebih gelap dari kebanyakan orang Thailand, maka saya membeli tiket. Saya juga mendapatkan sebuah buklet panduan singkat tentang komplek grand palace dan sebotol air mineral gratis.

Begitu memasuki komplek grand palace ini, saya merasa kagum karena tempat ini begitu blink-blink sekali, seperti berada di antara tumpukan harta karun. Komplek grand palace ini dibangun pada abad ke 17 oleh raja Rama I. Di komplek yang berada di tepi sungai chao phraya ini, selain terdapat istana raja juga terdapat the Temple of the Emerald Buddha dan kantor administrasi kerajaan. Komplek The Temple of emerald Buddha berada tepat setelah pintu masuk. Di tempat ini selain terdapat bangunan utama kuil Buddha yang tembok, atap, pintu serta pilarnya dihiasi oleh oranamen-ornamen keemasan, juga terdapat pula stupa-stupa emas dan patung-patung emas. Saya sampai benar-benar merasa wow dengan bangunan-bangunan di sini. Penasaran juga, jaman dahulu bagaimana caranya menempelkan ornamen-ornamen sedetil itu di pintu dan tembok. Di bagian utara dan timur komplek kuil istana ini dikelilingi oleh lorong yang  sepanjang temboknya terdapat lukisan sejarah kerajaan ini. Di tempat ini pula terdapat miniatur ankor wat yang berada di Kamboja.

ornamen dinding komplek Emerald Buddha

ornamen dinding komplek Emerald Buddha

The Temple of Emerald Buddha

The Temple of Emerald Buddha

stupa emas di Grand Palace Bangkok

stupa emas di Grand Palace Bangkok

Komplek selanjutnya yang bisa dikunjungi oleh wisatawan adalah The Phra Maha Monthian, The Chakri, The Dusit dan The Borom Phiman Mansion. The Phra Maha Monthian adalah tempat raja dan keluarganya menggelar acara-acara kerajaan seperti ulang tahun raja dan acara-acara adat lainnya. Di komplek ini pula terdapat singgasana raja yang permukaanya dilapisi warna emas, yang di kedua sisinya terdapat payung putih berlapis tujuh dan disekitarnya ditaburi bunga. Yang unik dari komplek The Phra Maha Monthian ini adalah atapnya yang bertumpuk 3, melebihi bangunan lainnya. The Chakri adalah gedung yang berada di sebelah baratnya. Di tempat ini terdapat museum senjata kerajaan, sedangkan ruangan utamanya digunakan sebagai ruang tamu kerajaan ketika menerima kunjungan dari kerajaan dan negara asing. Hanya museum senjata saja yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Di depan gedung ini kita bisa berfoto dengan prajurit istana yang tugasnya hanya berdiri, diam dan tidak boleh berbicara atau tersenyum. Kasihan juga masnya ini, pasti ada saja orang iseng yang menggodanya supaya tersenyum. Komplek gedung yang ada di sebelah barat lagi adalah The Dusit. Di gedung ini diadakan upacara hari penobatan raja setiap tahunnya. Komplek terakhir yang diperbolehkan dimasuki oleh pengunjung adalah The Borom Phiman Mansion yang dibangun dengan gaya barat pada tahun 1903. Mansion ini difungsikan sebagai tempat menginap tamu kehormatan raja saat ini. Sebelumnya tempat ini pernah menjadi kediaman pribadi beberapa raja.

Foto bersama mas prajurit kerajaan

Foto bersama mas prajurit kerajaan

Inside Grand Palace Bangkok

Inside Grand Palace Bangkok

Komplek gedung administrasi kerajaan

Komplek gedung administrasi kerajaan

The Dusit

The Dusit

Saya sejak masuk komplek ini sampai keluar merasa terkagum-kagum dengan arsitektur ala kerajaan Thailand ini. Menurut saya tempat ini indah sekali. Tidak terbayangkan bagaimana mereka mendesain dan membangun serta memikirkan ornamen-ornamenya sampai detil. Yang jelas jika anda mengunjungi Bangkok, walaupun dengan gaya backpacker sekalipun, sisihkanlah uang anda untuk mengunjungi tempat ini. Tidak rugi membayar Rp 200.000 untuk mengenal arsitektur Thailand.

Tinggalkan komentar

Filed under Ke Luar Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s